The Secret of Success: Culture Change

Posted on June 24th, 2009 by pratolo
Filed under Fundamental of Competitiveness | 4 Comments


outliers.jpg

Malcolm Gladwell, penulis bestseller buku-buku non-fiksi, mengisahkan dalam buku terbarunya, “Outliers: The Story of Success”, bagaimana sukses salah satunya ditentukan oleh Legacy, warisan. Ini bukan warisan dalam bayangan kita, dalam artian seorang ayah yg sukses akan melahirkan anak yg otomatis sukses pula. Tidak seperti itu. Tentu saja Keluarga Hilton yg sukses memiliki anak seorang Paris Hilton, yg sukses dalam sudut pandang selebritis. Namun sejatinya, dalam cara pandang Malcolm, Paris adalah seorang pecundang glamour yang tidak menghasilkan apa-apa bagi keluarganya, masyarakat, dan peradaban.

 

Legacy akan menentukan sukses seseorang bilamana warisan itu berupa budaya, kebiasaan, atau culture yang tepat. Malcolm mengungkap data empiric bahwa kecelakaan udara beruntun selama kurun 1977-1997 yang dialami Korean Air dan Avianca Colombia, adalah terjadi akibat culture bangsa Korea dan Colombia. Statistik mengungkap bahwa penerbangan sipil AS mencatat kecelakaan 0,27 per sejuta penerbangan, sementara Korean Air mencatat kecelakaan 4,79 persejuta flights, atau 17 kali lebih tinggi. Di tahun 1999, Korean Air mengalami nasib yg sama dengan maskapai-maskapai Indonesia di masa kini: dilarang terbang di wilayah udara Amerika dan Eropa. Apakah sebabnya sehingga rekor keselamatan penerbangan Korean Air begitu buruk? Apakah pesawat-pesawat berusia uzur?

 

Bangsa Korea adalah bangsa dengan budaya hormat terhadap senioritas amat berlebihan. Kita menyebutnya dengan budaya feudal. Bahasa Korea lebih parah dari bahasa Jawa Tengah, mereka memiliki 5 tingkatan bahasa (kromo dalam istilah Jawa). Mirip dengan orang Jawa Tengah, orang Korea memiliki kecenderungan untuk berkomunikasi secara tidak lugas. Misal orang Jawa Tengah akan berkata ‘hawanya panas sekali di sini’ untuk menyatakan bahwa ‘tolong jendelanya dibuka’. Geert Hofstede, seorang psikolog Belanda, meneliti fenomena budaya seperti itu di berbagai negara dan menyebutnya Power-Distance Index (PDI). Singkatnya, negara dengan indeks PDI tinggi berarti bangsa tersebut cenderung lebih feudal, dan sebaliknya. Ketika dibandingkan, indeks PDI berkorelasi positif dengan frekuensi kecelakaan penerbangan.

 

Penyebab seringnya terjadi kecelakaan penerbangan di Korean Air bukan karena buruknya standar safety dan uzurnya pesawat. Mayoritas factor penyebab kecelakaan (60% lebih) adalah human error. Di Korea, co-pilot yg derajatnya lebih rendah dan lebih junior daripada pilot, sungkan atau takut untuk menegur dan mengingatkan sang captain secara langsung, apabila bertindak atau mengambil keputusan yg salah. Dalam salah satu kasus kecelakaan di Guam dalam cuaca yang buruk, co-pilot dan flight engineer gagal mengingatkan pilot agar tidak mengambil keputusan visual landing, hingga akhirnya pesawat itu hancur menabrak bukit. Dalam kasus maskapai Avianca Colombia, dalam cuaca buruk yang mengakibatkan pesawat lama berputar-putar di udara sebelum landing di bandara Kennedy, co-pilot tidak lugas dan tegas menyatakan bahwa pesawat telah kehabisan bahan bakar, sampai akhirnya mesin pesawat itu mati di udara dan jatuh berkeping 16 mil dari landasan.

 

Kesimpulan Malcolm Gladwell: budaya Korea yg feudal tidak tepat untuk menghasilkan penerbangan yang sukses (safe).

 Di tahun 1999, Korean Air melalui serangkaian investigasi yg melibatkan berbagai ahli dari berbagai negara dari berbagai disiplin ilmu (termasuk psikolog), menemukan akar penyebab persoalan mereka ini. Korean Air melakukan reformasi budaya. Hasilnya, sejak itu Korean Air terbang tanpa cacat, dan di tahun 2006 Korean Air menerima Phoenix Award dari Air Transport World, anugrah tertinggi penerbangan sipil dunia.

Legacy (culture) determines your success.

Dalam perspektif fundamental bisnis, budaya perusahaan amat menentukan kesuksesan. Beberapa budaya perusahaan berikut ini merupakan kunci sukses bersaing di dunia bisnis global yang makin kompetitif dan ekonomi yg makin kompleks.

Read the rest of this entry »

Likuiditas, Pasar, dan Cawapres RI

Posted on May 18th, 2009 by pratolo
Filed under Miscellaneous | 3 Comments

Ini adalah sekedar contoh bagaimana kemampuan membaca pasar, sikap pro-pasar, tidak anti-pasar, serta memiliki sense terhadap likuiditas, adalah faktor penting dalam ekonomi dan bisnis yang tidak dapat diabaikan begitu saja.

Essence of Fortune and the Secret of Luck

Posted on April 27th, 2009 by pratolo
Filed under Miscellaneous | 1 Comment

Seluruh hidup anda, sepanjang umur anda, nasib anda, ditentukan oleh hanya beberapa hari, beberapa jam, atau bahkan beberapa menit dalam hidup anda.

The Greatest Company on Earth

Posted on March 13th, 2009 by pratolo
Filed under Industry Highlights | 5 Comments

Read carefully your company annual report. It really means and truly signs something important. The best and greatest companies in the world are not as strong as you think. Here is the story.

The Trend is Your Friend? What Trend?

Posted on March 5th, 2009 by pratolo
Filed under Behavioral Finance | 5 Comments

Untuk dapat menjadi investor sukses, anda tidak perlu menjadi ekonom pintar macam Alan Greenspan, Fischer Black, Myron Scholes, Robert Merton, atau mathematician hebat seperti Gauss, Cauchy, Lorentz, Benoit Mandelbrot, Nassim Nicholas Taleb.
Investor sukses seperti Charlie Munger dan Peter DeRoetth adalah lulusan hukum yang tidak mengerti statistik dan aljabar tingkat lanjut.

The Dip, Rahasia Sukses Bisnis dan Investasi Anda

Posted on January 19th, 2009 by pratolo
Filed under Fundamental of Competitiveness | 3 Comments

Dip adalah rahasia kesuksesan.
Dip menyaring para pesaing anda (Quitter dan Camper), yang berkemampuan rata-rata.
Mereka yg berhasil melewati Dip akan menjadi yang terbaik di bidangnya.
Dip menciptakan kelangkaan. Kelangkaan itu sendiri menciptakan nilai.
Dalam konteks agama, anda tidak akan dianggap beriman sebelum terbukti mampu melewati cobaan.
Dip adalah cobaan itu.

The Greenspan Paradox

Posted on January 13th, 2009 by pratolo
Filed under Miscellaneous | No Comments

Saya telah berjanji pada seseorang untuk menulis tentang Greenspan Paradox based on his book, The Age of Turbulence, the other book, The Greenspan Bubble, and an article from Joseph E.Stiglitz, tapi karena akhir tahun dan awal tahun ini saya cukup sibuk, apa boleh buat, saya terpaksa upload summary-nya saja. Semoga memuaskan