Fooled by Inflation
Pemahaman inflasi adalah sangat fundamental bagi seorang investor dan pebisnis. Investor dan pebisnis yang memahami inflasi akan bertindak lebih cerdas dan lebih produktif. Sebaliknya, investor dan pebisnis yang tidak memahami inflasi akan terjebak dalam pertumbuhan semu, dan pada akhirnya terperangkap dalam kerja keras yang sia-sia.
Use Google Translator below of the page to translate from Indonesian to your language.
Definition of Inflation
Menurut Bank Sentral (BI), inflasi adalah: “kecenderungan dari harga-harga untuk meningkat secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu meluas (atau mengakibatkan kenaikan) kepada barang lainnya.”
Kebalikan dari inflasi disebut deflasi, yakni “kecenderungan dari harga-harga untuk menurun secara umum dan terus menerus.”
Indikator Inflasi adalah Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index, CPI) yang merupakan indikator yang umum digunakan untuk menggambarkan pergerakan harga. Perubahan CPI dari waktu ke waktu menunjukkan pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Menurut Bank Indonesia, perhitungan CPI dilakukan atas dasar survei bulanan di 45 kota, di pasar tradisional dan modern terhadap 283-397 jenis barang/jasa di setiap kota dan secara keseluruhan terdiri dari 742 komoditas.
Cause of Inflation
Faktor penyebab inflasi dibedakan menjadi dua,yakni:
1. Inflasi Inti
Yaitu inflasi yang dipengaruhi oleh faktor fundamental:
- Interaksi permintaan-penawaran
- Lingkungan eksternal: nilai tukar, harga komoditi internasional, inflasi mitra dagang
- Ekspektasi Inflasi dari pedagang dan konsumen
2. Inflasi non Inti
Yaitu inflasi yang dipengaruhi oleh selain faktor fundamental, yaitu:
- Inflasi yang dipengaruhi shocks dalam kelompok bahan makanan seperti panen, gangguan alam, gangguan penyakit.
- Inflasi Administered Prices : yakni inflasi yang dipengaruhi shocks berupa kebijakan harga Pemerintah, seperti harga BBM, tarif listrik, tarif angkutan.
Tricky Method = Different Rate of Inflation
Karena inflasi dihitung secara statistik dengan mengambil sampel harga-harga di pasaran, maka perhitungan inflasi dari dua pihak dapat berbeda satu sama lain. Perbedaan ini disebabkan oleh perbedaan cara pengambilan data, asumsi dan metodologi yang berbeda. Saya akan mengambil satu contoh kasus dari perbedaan asumsi perhitungan inflasi yang terjadi di USA.
Sebelum 1992, inflasi di USA dihitung dengan asumsi kenaikan biaya dari sejumlah barang kebutuhan pokok yang bersifat tetap (measured using the costs of a fixed basket of goods), sebuah konsep sederhana dan langsung yang juga digunakan di Indonesia. Sejumlah barang kebutuhan pokok yang sama (misalnya beras, gula, minyak goreng) disurvei harganya pada suatu periode tertentu di beberapa tempat (pasar), sedemikian rupa sehingga perubahan harga barang kebutuhan pokok dari suatu periode ke periode lain ini merupakan laju inflasi. Laju inflasi yang diukur dengan cara seperti ini menunjukkan kenaikan biaya hidup untuk mempertahankan standard kehidupan tertentu.
Metode itu digunakan di USA sampai akhirnya sebuah komisi yang dipimpin oleh Chairman The Fed saat itu, Alan Greenspan, dan Chairman The Council of Economic Advisers (CEA) saat itu, Michael Boskin, mengusulkan sebuah cara baru dalam menghitung inflasi. Komisi Boskin (demikian disebut oleh pers) berargumen bahwa bilamana steak menjadi terlalu mahal bagi sebagian konsumen, maka konsumen itu akan membeli hamburger sebagai ganti steak, sehingga inflasi seharusnya diukur dari harga hamburger pada periode t versus steak pada periode t-1, bukan harga steak pada periode t versus steak pada periode t-1. Cara baru lain diusulkan oleh komisi Boskin dalam mengukur kenaikan biaya perumahan, yakni dengan menghitung ”owner equivalent rent”. Cara ini mengukur biaya perumahan sama dengan jumlah uang yang didapat pemilik rumah bila rumah yang mereka tempati itu disewakan. Jadi inflasi perumahan tidak lagi dihitung dengan cara mengukur kenaikan biaya angsuran rumah ditambah dengan kenaikan pajak. Dengan cara ini, lonjakan nilai asset perumahan di USA tidak terlalu berpengaruh pada inflasi, padahal perumahan merupakan 40% komponen CPI di USA.
