Inflation, a Brief Useful Understanding

(c) pratolo.com 2008

Memahami inflasi adalah fundamen yang sangat penting dalam investasi. Kebanyakan orang tidak mengerti perlunya investasi sebelum mereka menghayati arti inflasi.

Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa yang terjadi karena kebutuhan / permintaan terus bertambah lebih tinggi dibandingkan dengan produksi / penawaran barang dan jasa di pasar. Gampangnya, terlalu banyak jumlah orang (uang) yang memburu barang yang jumlahnya terbatas. Sebagai akibat dari saling kompetisi untuk membeli barang dan jasa tersebut, maka naiklah harga-harga. Kenaikan harga ini memberikan kesetimbangan supply – demand yang baru, yang akan ”memangkas” nilai uang yang beredar (demand) sehingga sesuai jumlah barang di pasar (supply), dengan berkurangnya daya beli uang.

Inflasi jelas merugikan bagi konsumen karena seringkali concern utama konsumen dalam membeli suatu produk adalah harga. Mari kita lihat contoh di bawah ini sebagai ilustrasi ancaman inflasi terhadap konsumen. Contoh 1 memperlihatkan bahwa kebanyakan orang mengukur kenaikan pendapatan ataupun kenaikan harga berdasarkan nominal nilai (rupiah). Kesalahan fatal. Kenaikan pendapatan ataupun kenaikan harga harus diukur berdasarkan persentase agar Anda dapat membandingkannya apple-to-apple.

Th 1 Income

Th 2 Income

Th 2 increase over Th 1 base

Th 3 Income

Th 3 increase over Th 1 base

Rp 2.000.000

Rp 3.000.000

50%

4.000.000

100%

Th 1 Harga Pete

Th 2 Harga Pete

Th 2 increase over Th 1 base

Th 3 Harga Pete

Th 2 increase over Th 1 base

Rp 500

Rp 1000

100%

Rp 2000

400%

Di th 2 pendapatan Anda naik 50% terhadap th 1, sementara harga pete naik 100%. Di th 3 pendapatan Anda naik 100% dari th 1, sementara harga pete sudah naik 400%. Yup, you’ve got inflation! On pete price!

”Ah harga barang hanya naik Rp 1000 ini, tak terasa…,” ini persisnya pikiran Anda, karena pendapatan Anda secara nominal naik signifikan. Masih cukup untuk membeli 2000 untai petai :)

But wait, kesalahan fatal berikutnya yang sering terjadi di masyarakat, dalam segala hal, adalah mengambil kesimpulan hanya berdasarkan secuil fakta / konsep. Contoh di atas adalah contoh inflasi pada harga petai. Tapi inflasi tidak diukur hanya berdasarkan kenaikan harga petai, atau harga cabe merah keriting, atau harga wortel tanpa daun. Inflasi diukur berdasarkan consumer price index (CPI), suatu ukuran kenaikan harga dari seluruh produk barang yang disampling secara acak dari berbagai kota.

Contoh 2 berikut ini saya ambil dari Ebert & Griffin (Business Essentials,2005). Pertama-tama, kita memerlukan satu periode dasar (base period), satu periode waktu yang dipilih dengan mana periode waktu yang lain diperbandingkan. Pada contoh 2, periode dasar CPI adalah th 1982 – 1984, yang diberikan nilai rata-rata 100. Nilai CPI th 1951 pada contoh 2 adalah 26. Yang berarti bahwa $ 1 yang dibelanjakan oleh konsumen pada th 1982–1984, mendapatkan barang yang persis sama dengan nilai $ 26 sen di th 1951. Sebaliknya, kita memerlukan $ 1,63 di th 1998 untuk dapat membeli barang yang sama di th 1982–1984. Jadi, tingkat inflasi adalah persentase perubahan dalam sebuah indeks harga.

Untuk menghitung inflasi antara th 1997 dan 1998, maka inflation rate

= (perubahan dalam indeks harga / indeks harga awal) x 100

= (163 – 160,5) / 160,5 x 100

= 1,6%.

 

Th

CPI

1951

26,0

1961

29,9

1971

40,6

1981

90,9

1989

124,0

1990

130,7

1991

136,2

1992

140,3

1993

144,5

1994

148,2

1995

152,4

1996

156,9

1997

160,5

1998

163,0

 

Implikasinya, jika pendapatan di th 1998 bertambah hanya 1% terhadap th 1997, sedangkan inflasi 1,6%, maka 0,6% dari pendapatan yang dapat kita sisihkan tahun sebelumnya akan terpaksa digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Demikian seterusnya, inflasi akan secara konsisten menggerogoti kesejahteraan kita, jika kita tidak melakukan apapun. Inflasi yang tinggi terutama berdampak buruk terhadap masyarakat yang berpendapatan marginal. Dengan kejamnya inflasi akan memangkas daya beli mereka, dan tidak menyisakan apa pun untuk masa depan (pendidikan) anak-anak mereka. Blog ini didedikasikan bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia, agar memiliki strategi menyelamatkan diri dari ancaman inflasi.

Apakah inflasi dapat dicegah?

Ada banyak teori tentang penyebab inflasi, yang mungkin akan dibahas di lain kesempatan. Apa pun penyebabnya, inflasi tidak dapat dicegah selama pembangunan terus berlangsung (mereka yang mengatakan inflasi dapat ditiadakan atau = 0 pasti tidak mengerti ilmu ekonomi). Yang dapat dilakukan oleh konsumen seperti kita adalah menyiasati, dengan apa yang saya sebut sebagai investing strategy. Strategi ini penting terutama untuk negara yang tingkat inflasinya cukup tinggi seperti Indonesia. Gambar di bawah ini (dari Wikipedia) menunjukkan tingkat inflasi di berbagai negara th 2007 year-on-year. Untuk melihat tingkat inflasi di Indonesia, klik di sini. []

world inflation 2007

This entry was posted on Saturday, March 29th, 2008 at 9:27 am and is filed under Investing Basics. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

5 Responses to “Inflation, a Brief Useful Understanding”

  1. Ojat Says:

    welkom to blogoshpere :D artikel yg bagus pak, ditunggu artikel selanjutnya :)

  2. Luther S Says:

    Inflasi sudah pasti diperlukan setiap segi kehidupan. Mengapa?
    Utk membuat ( improve ) barang / produk yg lebih efisien/up to date diperlukan biaya R&D, setelah new produk itu jadi & dikomersilkan, maka produsen barang tsb membuat harga yg “setinggi-tinginya” krn belum ada pesaing. Muncullah inflasi tinggi. Harga barang yg tinggi diperlukan oleh produsen utk mengganti biaya R&D tadi dan selebihnya digunakan utk enlarge volume production, advertising, distribution, etc. So, tinggilah inflasi.
    Selain itu, inflasi tinggi disebabkan berkurangnya supply barang ttt, biasanya hal ini terjadi pada barang komoditi, spt bawang, gula, caused by profit margin yg sangat kecil pada industri ttt. Nah, muncul lagi inflasi.

    Situasi di atas terjadi pada daerah/negara yg semua aspek bisnis dan pelaku bisnis yg belum “dewasa” ( mature ) atau nota bene terjadi di negara berkembang. Utk negara maju, inflasi sudah sangat kecil karena segala produk/barang sudah efektif dan efisien. Mostly, mereka hanya improve old goods, not create new product.

    Menurut saya, be happy if your inflation rate constantly high ( but be sad if your inflation becomes higher year by year ).

    The end.
    Luther, Bontang

  3. KangBono Says:

    Cool blog mas, simpel & fokus pd isi, bukan aksesori.
    Mohon izin utk masukin blog ini di blogrollku.

  4. bei Says:

    Mas EP, konon perekonomian AS sdg letoy. dikombinasi dg kenaikan minyak dan bhn makanan kira2 apa inflasi akan spt superman? dan apa kira2 bunga bank akan juga naik?. susahnya daya beli turun, uang terbatas. mungkin inflasi bisa terkendali, pasar saham apa gak kurang darah? thx mas EP semoga bermanfaat. Bei

  5. bei Says:

    Mas EP ternyata di koran pagi ini diberitakan Thailand lebih memiliki kecenderungan menaikkan suku bunganya utk menahan inflasi drpd menggairahkan dunia usaha. sungguh sbh pilihan yg sulit. semoga bermanfaat. Thx, Bei

Leave a Reply