Empat Jalan Li Mu-bai

crouching_tiger.jpgKonon, ada empat jalan yang dipilih manusia untuk menuju kebahagiaan: kekuasaan, popularitas, ilmu, atau cinta. Keempatnya direpresentasikan dalam profil politisi/negarawan, artis/seniman, ilmuwan/saintis, dan common people yang cukup puas hidup dengan cinta. Keempatnya lah yang menggerakkan sejarah manusia selama berabad-abad: pergulatan politik, peperangan, penemuan-penemuan fenomenal, dan panggung hiburan.

Saya menonton kembali Crouching Tiger Hidden Dragon dan menemukan kembali empat jalan itu dalam karakter pendekar pedang ulung Li Mu-bai. Crouching Tiger dinominasikan tahun 2001 untuk 10 Oscar, dan mendapatkan 4 Oscar untuk Film Asing Terbaik, Artistik Terbaik, Musik Terbaik, dan Kamera Terbaik, bersaing ketat dengan Gladiator yang memenangi Film Terbaik dengan 5 Academy Awards.

Li Mu-bai, pendekar mahsyur aliran Wudan, adalah master tanpa tanding di dunia persilatan. Begitu digdayanya Li, hingga mampu berjalan di atas air, meloncat ringan dari satu buluh bambu ke buluh bambu yang lain, bahkan merebut pedang nomer wahid ”Suratan Hijau” dari tangan Jen hanya dengan tiga gerakan. Jen adalah gadis yang memiliki ”naga yang tersembunyi”, sebuah bakat kungfu yang luar biasa.

Mu-bai disegani di kolong langit persilatan bukan hanya karena ketinggian ilmunya, namun juga kerendahan hati dan kearifannya. Dialah sang ”macan merunduk”. Mu-bai akhirnya membuang pedangnya yang tersohor itu, ”Suratan Hijau” ke dalam jeram. Ia tak membutuhkannya lagi. Ia telah menggapai puncak kekuasaan, popularitas, dan ilmu tertinggi. Apa lagi yang ia cari?

Film ini dibuka oleh adegan kedatangan Mu-bai ke kediaman Yu Shu-lien, adik seperguruannya yang calon suaminya, Meng, tewas dalam sebuah pertarungan demi menyelamatkan Mu-bai. Mu-bai bercerita pada Shu-lien tentang seberkas cahaya yang mendatanginya saat bermeditasi. Mungkin sebuah pencerahan meraih tao, kata Shu-lien. “I don’t think I got the tao because I don’t have the feeling of happiness. I just feel very quiet and peaceful yet also very sad,” kata Mu-bai. Maka Mu-bai menitipkan Suratan Hijau pada Shu-lien untuk diberikan pada sahabat mereka Tuan Te di Beijing.

Wang Du-lu menulis novel silat ini di tahun 1930-an, saat Abraham Harold Maslow belum dikenal dengan teori hirarki kebutuhan. Crouching Tiger Hidden Dragon, bagian keempat dari pentalogi novel Wang Du-lu, pada intinya ingin berkisah tentang kebutuhan hakiki manusia.

Shu-lien adalah alasan Mu-bai melepaskan tiga jalan itu: kekuasaan, popularitas, dan ilmu, yang disimbolkan oleh pedang kondang “Suratan Hijau”. Dari cara keduanya menatap, kita tahu apa yang tersembunyi dalam diri kedua pendekar ulung ini: cinta yang dalam yang nyaris tak terkatakan hingga maut menjemput.

Mu-bai terlambat menemukan jalan keempat menuju kebahagiaan. “Aku lebih baik jadi roh yang terkutuk, mengembara disampingmu, daripada memasuki surga tanpamu,” bisiknya pada Shu-lien beberapa saat sebelum ajalnya tiba akibat jarum beracun si Rubah Giok.

Mu-bai akhirnya tewas dalam pelukan dan linangan air mata Shu-lien. Seandainya ia jujur pada dirinya sendiri jauh lebih awal, mungkin Mu-bai sudah akan hidup bahagia bersama Shu-lien sebagai suami istri pewaris aliran Wudan, memiliki anak-anak sekaligus murid-murid yang cakap dan berbudi.

Jujur pada diri sendiri, itu salah satu pesan film ini. “Apa pun jalan yang kau tempuh, berjanjilah bahwa kau akan selalu jujur pada dirimu,” pesan Shu-lien pada Jen yang datang terlambat membawa obat untuk Mu-bai.

Sia-siakah hidup Li Mu-bai? Mungkin tidak. Toh akhirnya ia mati dalam pelukan wanita yang dicintainya. Dan seperti dikatakannya sendiri pada Shu-lien sesaat sebelum ajal, ia telah memilih orang yang tepat. Mu-bai menemukan jalan hidup sejati di akhir hayatnya: cinta.

Tafsir lain mengatakan film ini melambangkan karakter Tao (Li Mu-bai), Kong Fu Tse (Shu-lien), dan Zen (Jen). Namun saya menyukai tafsir saya sendiri yang lebih universal. Film ini cantik dan puitik bukan hanya oleh sinematografinya, namun juga ceritanya yang filosofis.

By the way, jalan mana yang kini kau tempuh? (c) EP 2005

This entry was posted on Monday, March 31st, 2008 at 1:31 pm and is filed under Miscellaneous. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Responses to “Empat Jalan Li Mu-bai”

  1. suharyoso Says:

    friend pinjam dong DVDnya kalau ada kok ceritanya amat mengharukan…..ddd

  2. eyang kakung Says:

    mr pratolo, have u seen Ayat-Ayat Cinta (AAC)film?
    please write down your tafsir about that.
    it will race the comment in your blog, ke ke ke ke

Leave a Reply