Inflation, the Definitive Risk
(c) pratolo.com 2008
Apakah yg sebenarnya disebut dengan risiko dalam suatu investasi itu?
(1) Jawaban orang awam. Risiko adalah peluang berkurangnya sebagian atau seluruh modal investasi. Makin tinggi peluang berkurangnya / hilangnya modal, maka menurut awam makin tinggi pula resikonya.
(2) Jawaban akademisi pendukung teori Efficient Market Hypothesis (EMH) dan Modern Portfolio Theory (MPT) yang dirintis oleh Markowitz, Sharpe, dan Fama. Risiko adalah volatilitas, yakni berkurang & bertambahnya return suatu investasi (portofolio atau saham). Makin volatil (naik turun) return suatu portofolio, makin tinggi resikonya. Karena akademisi ini adalah para profesor finance, mereka harus dapat mengukur tingkat risiko itu, utk membedakan mereka dengan orang awam seperti kita. Maka mereka merumuskan ”Beta” (?) yaitu semacam standar deviasi terhadap return suatu portofolio. (Perihal ”Beta” secara khusus akan dibahas dlm bagian lain blog ini)
Dua definisi risiko di atas cocok dengan anggapan umum bahwa saham adalah investasi dengan risiko paling besar & tabungan atau deposito sebagai investasi aman (tanpa risiko). Right?
Salah besar! Inilah sebuah fallacy fatal dalam investasi yang harus diluruskan.
Kesalahan pertama, tabungan & deposito bukanlah investasi bebas risiko (atau risk-free istilah para pendukung EMH dan MPT). Kita harus menghitung dampak inflasi, dan oh ya satu lagi, dampak pajak terhadap return investasi. Dengan menghitung inflasi & pajak, seperti yg akan saya tunjukkan nanti, maka tabungan & deposito yg selama ini Anda anggap aman ternyata adalah investasi yg paling berpeluang tinggi hilang / berkurang nilainya.
Kesalahan kedua, saham bukanlah investasi yang paling tinggi resikonya. Jika Anda memperdagangkan saham dlm jangka pendek (detik, menit, jam, hari, bulan) maka saham memang beresiko tinggi & volatil. Tapi dlm jangka panjang, saham adalah investasi yg paling berpeluang tinggi mengalahkan inflasi, dan juga pajak.
Grafik 1 saya ambil dari Siegel (Stocks for the Long Run,1994) menunjukkan return investasi terhadap waktu, dlm skala semi-log. Jika kakek buyut kita menyimpan US$ 1 di tahun 1802 dlm sebuah celengan, maka di th 1996 nilainya jadi kurang dari US$ 0,1 (setelah dihitung inflasi). Jika kakek buyut istri kita sedikit lebih pintar, berinvestasi US$ 1 di tahun 1802 dalam bentuk emas, maka di th 1996 nilainya ternyata hampir sama saja (setelah inflasi). Sedangkan orang amrik yg th 1802 telah mengenal instrumen investasi surat hutang pemerintah (T-Bills) dan surat hutang perusahaan swasta (Bonds), bernasib lebih baik. Uang $ 1 th 1802 setelah diinvestasikan dlm T-Bills (di Indonesia = SBI atau SUN atau ORI) atau Bonds (di Indonesia = obligasi), setelah th 1996 menjadi $ 200 – 900 (setelah inflasi). Tapi yg paling “beruntung” adalah investor saham, $ 1 th 1802 menjadi hampir $ 1.000.000 di th 1996.
Jika grafik 1 hanya menggambarkan imbal hasil investasi setelah disesuaikan inflasi, maka kini lihat grafik 2 yg menggambarkan return investasi setelah inflasi ditambah pajak th 1945 – 1995. Grafik 2, saya ambil dari Dreman (Contrarian Investment Strategies, 1998), menunjukkan bagaimana return investasi dlm bentuk
Jelaslah dengan fakta di atas, bahwa risiko yang pasti ada dalam setiap instrument investasi adalah inflasi. Dan anggapan bahwa tabungan, deposito, dan obligasi adalah investasi yg bebas risiko adalah naïf. Justru makin lama uang Anda disimpan dlm bentuk ”investasi bebas risiko” yg Anda maksud, maka semakin jauh berkurang nilainya.
Saya kesulitan menemukan riset yg meneliti imbal hasil investasi terhadap inflasi di Indonesia dan meyajikannya seperti kedua grafik di atas (jika Anda mencari judul tesis, cobalah subjek ini). Yg pasti, tingkat inflasi Indonesia jauh lebih tinggi daripada U.S terutama karena sebagian besar komponen produk dan komoditi kita masih tergantung pada impor. Artinya, dampak inflasi terhadap instrumen investasi yg Anda anggap ”risk-free” sangat mungkin lebih buruk daripada hasil penemuan riset Siegel dan Dreman di atas.
Jadi jika Anda menyisihkan pendapatan untuk pendidikan anak atau untuk bekal masa pensiun dalam bentuk deposito, pikirkanlah alternatif yg lain yg lebih baik, yakni saham, ”an investment for all seasons”.
Sebagai penutup, saya mendefiniskan kembali makna risiko suatu investasi, berbeda dengan dua definisi sebelumnya. Risiko versi seorang kontrarian adalah:
Peluang bahwa investasi yg kita pilih akan melindungi nilai (value) modal kita dan sekaligus akan berkembang melebihi alternatif investasi lain selama periode tertentu yg diinginkan oleh investor. Semakin besar peluang suatu investasi mengalahkan inflasi dan sekaligus melampaui alternatif investasi lainnya, semakin kecil risikonya. Begitu pula sebaliknya. (c) pratolo.com 2008



April 2nd, 2008 at 8:27 pm
Hayyyaaaa…. mau koment apa ya… ini aja deh : senang skali kamu masih memelihara hobi menulismu ituh hehehe…. skarang plus hobi jadi pengusaha yak
te-o-pe dah…
July 10th, 2008 at 2:14 am
[…] membaca tulisan ini, ini, dan ini, tapi Anda masih ragu untuk investasi saham, maka berikut ini 10 alasan terbaik […]