Crash, Panic, and Financial Crisis; the Déjà vu is Everywhere

(c) pratolo.com 2008

Saya menulis ini di tengah hantu bernama krisis ekonomi Indonesia jilid II di bawah SBY, dan juga resesi ekonomi Amerika Serikat di awal kepemimpinan Bernanke. Para pakar ekonomi berpolemik ttg apakah kini saat menuju krisis ekonomi. Seorang partisipan pratolo.com berkomentar apakah inflasi tinggi akan menyebabkan resesi ekonomi.

Waspadalah jika teori ekonomi didasarkan pd asumsi yg dijunjung tinggi oleh para peletak dasar teori ekonomi modern, yaitu bahwa semua pelaku ekonomi adalah rasional. Teori Efficient Market dan Teori Modern Portfolio adalah beberapa contoh teori ekonomi modern yg menjadikan perilaku rasional sebagai asumsi fundamental. Namun fakta sejarah menunjukkan yg sebaliknya, justru perilaku ekonomi yg irrasional yg menyebabkan crash, panic, dan krisis finansial seringkali terjadi. Begitu seringnya perilaku irrasional ini terjadi sehingga gejalanya dapat diperkirakan sebelumnya (Dan Ariely dgn bagus menulis sebuah buku ttg perilaku ini). Berikut ini beberapa fakta sejarah krisis financial akibat perilaku irrasional dari para pelaku ekonomi.

The Tulip Mania in Holland

Perilaku ekonomi irrasional pertama tercatat dlm sejarah adalah saat orang menghargai sekuntum bunga lebih tinggi daripada emas, perak, bangunan, toko, ataupun lahan pertanian. Di Belanda th 1630 – 1637, selama 7 th beruntun, harga kembang tulip berkali-kali mencetak ‘new high’. Semua penduduk Belanda mencari, membeli, dan mengumpulkan tulip, sehingga harganya naik gila-gilaan melebihi apapun yg berharga pd saat itu. Beberapa spesies tulip langka bahkan bernilai lebih dari sebuah mobil Jaguar pd nilai sekarang. Akhirnya ketika public Belanda tersadar akan ‘real value’ dari sekuntum tulip tak lebih dari sekadar penghias jambangan, maka harga tulip jatuh drastic, dan segera saja ratusan ribu orang yg sebelumnya ‘kaya’ menjadi bangkrut mendadak, menyebabkan perekonomian Belanda nyaris kolaps.

John Law, the Financial Wizard of Paris

Penyihir Keuangan itu bernama John Law, seorang berkebangsaan Skotlandia yg merantau ke Paris di th 1720. Berkenalan dgn Louis XV, Law menjanjikan bahwa ia akan dapat menyelesaikan persoalan hutang nasional Prancis yg amat besar pd saat itu, asalkan ia diberi kepercayaan penuh oleh sang Raja. Rencana John Law, Prancis harus mencetak uang kertas sebanyak-banyaknya utk dapat melunasi hutang negara itu. Ide uang kertas adalah baru pd masa itu, yg membuat Louis XV terkesan dan menyerahkan kontrol penuh the Royal Bank of France kpd sang Penyihir Keuangan. Segera saja, uang kertas Law membanjiri Prancis. Dalam hitungan hari, Law menjelma dari seorang asing di Paris menjadi penasihat keuangan raja yg disegani.

Tak puas oleh ‘sihir pertamanya’, Law mengumumkan kpd public Paris perihal proyek akbarnya yg kedua: the Mississippi Company (MC). Sebuah perusahaan public yg didirikan dgn tujuan mencari harta karun tak ternilai yg terkubur di Mississippi River. Kisah ttg Mississippi pertama kali terdengar rakyat Prancis dari penjelajah Prancis: Colbert, Joliet, dan Marquette yg menjelajah ke ‘Dunia Baru’, tanah Amerika. Mitos rakyat Prancis, Mississippi adalah bak Mexico, kaya dgn emas, permata, intan, berlian tak terhitung jumlahnya. John Law sendiri tak perlu pernah berkunjung ke sana. Cukup dgn popularitasnya sebagai penasihat keuangan raja Prancis, maka public Paris berduyun-duyun ke rumah sang penyihir berebutan membeli saham MC. Harga saham MC naik dan terus naik akibat hysteria massa Paris, sehingga nilai pasar (market value) perusahaan Law ini melebihi semua emas yg beredar di Prancis. Tak ada yg tahu sebenarnya dari perusahaan ini, setiap orang yg bertanya pd Law segera ditangkap dan dibuang ke luar Paris.


Ketika kerumunan manusia mempertaruhkan seluruh uangnya utk sebuah harapan yg absurd, inilah sebuah ‘mania’. Polanya selalu sama. Sekumpulan investor ‘gila’ yg membayar harga yg ‘gila’ utk sebuah asset. Cepat atau lambat, asset mahal yg mereka beli akan ‘pecah’ dan ‘mengempes’ seperti sebuah gelembung sabun atau balon. Ketika ‘Mississippi bubble’ ini pecah, dan public sadar akan harga yg sebenarnya (real value), investor berebut menjual sahamnya. Malangnya, tak ada yg mau membelinya. Seketika saham MC hanya menjadi seonggok kertas tak ada harganya. Publik kehilangan hampir seluruh simpanan uangnya, yg dibarengi oleh system perbankan kolaps akibat dari kredit consumer yg macet, maka krisis financial Prancis tak terelakkan.

A déjà vu in Paris.

The Fool of Sir Isaac Newton

Di Inggris th 1711, berdirilah South Sea Company yg ‘skema bisnisnya’ persis Mississipi Company. SSC menjamin akan melunasi semua hutang militer Inggris jika pemerintah monarki ini menjamin monopoli perdagangan SSC dng negara-negara ‘South Sea’, terutama Mexico dan Peru, tanah harta karun suku-suku Indian. Di th 1720, SSC mengumumkan skema bisnisnya yg terbaru utk meminjami uang pemerintah Inggris guna membayar semua hutangnya, asalkan pemerintah membayar 5% bunga atas pinjaman SSC itu.

Dari mana SSC memperoleh uang itu jika mereka tak pernah pergi ke Mexico dan Peru? Perkara yg mudah. SSC menjual lebih banyak lagi sahamnya kpd publik. Di back up dgn rumor bahwa SSC menemukan cadangan emas yg besar di ’South Sea’, maka dgn segera publik London memadati Exchange Alley (London Stock Exchange pd saat itu). Tak terkecuali Sir Isaac Newton.

Begitu luar biasanya demand thd saham ini sehingga nilainya berlipat 3 kali dlm sehari, tepat sebelum parlemen Inggris menyetujui perjanjian pinjaman dgn SSC. Seorang negarawan Inggris mengingatkan publik utk ’berhenti memadati jalan menuju pasar saham’ dan ’lebih baik menyimpan uangnya dlm kantong’. Namun suara orang ’waras’ tidak pernah didengar di tengah kerumunan orang ’gila’. Pd saat kegilaan ini memuncak, market value dari SSC adalah 500 juta pounds, sama dgn 5 kali lipat uang yg beredar di semua negeri di Eropa pd saat itu.

Pd akhirnya nasib SSC tak berbeda dari MC. Crash terjadi, harga saham jatuh hanya menjadi selembar kertas, yg diikuti kepanikan para mania, perbankan kolaps, dan krisis finansial Inggris terjadi. Sir Isaac Newton yg ditemukan sedang berada dlm kerumunan massa yg menuntut uangnya dikembalikan berkata pd pers,”I can calculate the motions of heavenly bodies, but not the madness of people.”

A déjà vu in London.

The Rail Mania in United States

Krisis financial pertama di Amerika terjadi pd th 1729 akibat ‘banks bubble’. Puluhan bank didirikan pd saat itu dgn menjual saham kpd public. Mania yg selanjutnya terjadi dapat ditebak, public tak peduli lagi pd harga saham yg dibayar. Ketika bank satu persatu bank-rupt, panic dan crash terjadi.

Di th 1835, New York Stock Exchange kembali ‘hidup’, dgn jumlah emiten 121 perusahaan. Saat itu di negeri Paman Sam pembangunan berlangsung, di mana-mana dibangun railroad, kanal, dan jembatan. Primadona baru di pasar saham dan obligasi adalah perusahaan kereta api. Apapun dng label ‘rail’ diburu oleh investor. Bukan hanya saham dan surat hutangnya yg dikejar, tanah yg ada di sekitar lokasi rel kereta api juga dgn cepat diburu orang dan menjadi mahal. Sampai akhirnya para investor ini berubah menjadi ‘mania’. Bukan hanya uang milik sendiri yg digunakan utk membeli saham dan tanah dgn label ‘rail’ tsb, tapi juga duit hutangan dr bank. Begitu manianya, sehingga para petani dan peternak di U.S meninggalkan profesi lamanya dan beralih menjadi ‘agen real estate’. Inilah yg disebut sejarawan sbg ‘home-grown bubble’. Harga saham dan tanah turun sama drastisnya ketika naik, sementara para mania ini berusaha utk menjual asetnya (cash out). Mereka terlilit hutang dan tak sanggup membayar kpd bank. Bank kehabisan pendapatan dan terpaksa tutup. Orang yg menghindari saham dan real estate tak lepas dari krisis ini, tabungan mereka di bank lenyap tak berbekas karena perbankan kolaps. Begitulah pola yg sama terjadi di U.S memicu krisis financial th 1837.

A déjà vu in United States.

When Dreams of Capitalist Came in Russia

Di th 1994, ketika Glasnost & Perestroika menang, sebuah perusahaan investasi pertama dan terbesar di Rusia menawarkan saham di pasar modal, namanya MMM. Sergei Mavrodi, presdir MMM, tampil habis-habisan di televisi berusaha mewujudkan mimpi lama orang Rusia yg terpendam oleh komunisme,yakni menjadi kaya mendadak dgn membeli saham. Tak tanggung-tanggung, MMM menjanjikan return 3000% setahun. Tak sampai setahun sejak listing, saham MMM segera saja dibeli oleh 5 – 10 juta orang Rusia (suatu jumlah yg spektakuler utk sebuah saham, menurut Value Line pemegang saham GM + Microsoft + Exxon jika dijumlahkan seluruhnya hanya 1,5 juta). Lima juta mania investor Rusia ini segera saja membuat saham MMM meroket, melebihi apa yg dijanjikan Sergei Mavrodi. Februari 1994, hingga 23 Juli 1994, saham ini (dlm dollar U.S) naik dari $1 (harga IPO) menjadi $65 (harga tertingginya), atau berlipat 6500%. Hanya dlm waktu 5 bulan, return MMM mengalahkan return yg dicapai Dow Jones dlm kurun 70 th.

Namun mimpi publik Rusia tentang ‘angsa kapitalisme bertelur emas’ segera saja berakhir, karena Sergei Mavrodi tak lebih hanya seorang John Law abad 20. Pertengahan 1994, Pemerintah Rusia menyelidiki MMM. Setelah menemukan bahwa MMM tidak memiliki unit bisnis apa pun, tidak ada earning sepeserpun, tak ada investasi di manapun dlm bentuk apapun, pemerintah mengumumkan agar public berhati-hati thd perusahan antah berantah ini. Dlm 2 hari saham MMM terjun bebas dari $60 menjadi 46 sen. Sepuluh ribuan orang Rusia memenuhi jalanan, berkerumun di depan kantor pusat MMM dan berarak menuju kantor Moscow Commodity Exchange, menuntut nilai sahamnya kembali.

A déjà vu in Moscow.

Kesimpulan pratolo.com

Gejala umum suatu mania yg mengarah crash, dan berakhir pd krisis finansial :

1) Rasio Price/Earning yg absurd. Ketika Japan Stock Market crash di th 1987, P/E dari Nikkei 225 mencapai 86 kali. Puncak P/E di Wall Street saat ‘The Great Crash’ th 1929 adalah 20 kali. Dgn kata lain, ketika public menghargai suatu aset berkali lipat nilai wajarnya (real value), pasti sesuatu yg gila sedang terjadi. Ketika sebuah tanaman dihargai lebih tinggi daripada emas dan logam mulia lain, sadarlah bahwa sesuatu yg salah sedang / akan terjadi. Berhati-hatilah dgn Anthurium dan Aglonema yg Anda miliki. Orang yg waras tidak akan membayar harga sebuah Porsche utk sebuah Jazz atau Avanza.

2) Ketika berspekulasi di pasar saham lebih menguntungkan daripada berbisnis di sector riil. Saat crash th 1987, 30% dari profit perusahaan – perusahaan Jepang adalah dari stock market trading, bukan dari operating profit. Ketika trading lebih menguntungkan daripada manufaktur, berhati-hatilah, sesuatu yg salah sedang terjadi.

3) Return composite index yg extra-ordinary dan super-normal dlm kurun setahun. Ada suatu masanya, ketika return composite index ‘mengukir rekor sejarah’, maka pd th berikutnya bersiaplah crash sangat mungkin terjadi. Ini terjadi saat IHSG mencatat rekor sejarah pd akhir th 2007. Sampai dgn April 2008, sudah 3 kali BEJ mengalami crash dan mencapai ‘new low’. Ingatlah prinsip distribusi normal dalam statistika. Bahwa semua yg ‘upper-normal’ akan terkompensasi oleh yg ‘lower-normal’, menuju ke arah ‘average’. That’s how the nature works.

Lalu apakah krisis yg sama akan terjadi di th 2008 ini akibat imbas subprime mortgage dan inflasi yg tinggi? Pertumbuhan ekonomi U.S dan dunia memang akan melambat, namun krisis ekonomi seperti sejarah di atas mungkin tidak terjadi. Hanya satu bank di U.S yakni Bear Stearns -bank investasi terbesar kelima di U.S- yg kolaps, bukan seluruh perbankan U.S. Perlambatan ekonomi dunia saat ini adalah wajar, setelah sekian lama China terus menerus mencatat pertumbuhan ekonomi yg super-normal. Serangkaian rekor kenaikan composite index pasti diikuti oleh koreksi harga wajarnya. There’s nothing new about it.

“Those who cannot remember the past are condemned to repeat it.”
George Santayana, Flux and Constancy in Human Nature, 1905 – 1906

© pratolo.com April 2008

This entry was posted on Monday, April 14th, 2008 at 12:26 pm and is filed under Investing Basics. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

8 Responses to “Crash, Panic, and Financial Crisis; the Déjà vu is Everywhere”

  1. Denmasrul Says:

    Mas Pratolo.. thumbs up.. :-) Jadi tau kalau ada The Tulip Mania in Holland.. bagaimana kalau yang terjadi sekarang adalah The Jemanii Mania in Indonesia… ooughhh!

  2. pratolo Says:

    @denmasrul: jemanii mania kuwi apa to? tunggale gelombang cintakah?

  3. Denmasrul Says:

    Iya.. sama-sama Anthurium, daunnya lebih lebar dibandingkan WOL “Wave of Love”.. :-)

  4. manik-manik Says:

    Lalu, apakah jurus nenek moyang kita : “Ojo Gumunan lan ojo kagetan” perlu diterapkan untuk membendung inflasi ya…
    Filosofi nenek moyang kita itu dalam sekali lho. Untuk merespon sesuatu harus memakai akal dan jangan mudah ikut-ikutan. Jangan mudah kaget dan grudhak-grudhuk sebelum melakukan sesuatu. Salah satu contohnya ya tadi… jadi korban The Tulip Mania in Holland, The Lidah Mertua Sindrome, The Makota Dewa Desease, etc.
    Kelihatannya agar survive di dunia ini kita memang perlu jadi pencipta ide itu sendiri (suatu metode ekonomi atau apalah) dan terbukti hebat (nggak apus-apusan), sehingga kita terlepas dengan hantu inflasi. Namanya hidup di dunia bak hidup di hutan belantara yang maha luaasss : si cerdik, si pintar, si tangkas dan berakal-lah yang menang. Apalagi soal ekonomi yang memang berhubungan langsung dengan (maaff….) perut dan akhirnya kekuasaan-kekuasaan yang lain.
    Untuk negara kita, harusnya pe-dhe dengan kemampuan sendiri. Lha wong hampir semua rakyatnya suka tempe, kok kedele-nya import. Lha wong kita suka naik mobil, kok bisanya hanya mbuat dokar. Lha wong kita suka naik montor mabur, nyetir montor maburnya saja kadang meleng (kasus ADAM Air di atas selat Sulawesi), apalagi disuruh mbuat montor mabur…..(wah lagi-lagi kok mencela bangsa sendiri ya…selama ini bisanya kita hanya seperti ini).
    Kita harus pinter, rajin (tidak malas, bisanya hanya membeli dan memakai), dan mempunyai ghirah untuk maju……(wah, jantungku jadi memompa darah dengan kecepatan penuh)…
    Selamat berkarya…

  5. jay Says:

    tulisan ini sangat mirip dgn Kisah Petualangan Obelix yang judulnya ‘Obelix dan Kawan-kawan’, isinya tentang ahli ekonomi yang disewa julius cesar utk menghancurkan bangsa Galia. caranya? si ahli ekonomi mempopulerkan batu menhir sebagai produk gaya hidup paling nge-trend, harga batu menhir pun melonjak selangit dan terjadi booming produksi menhir. ujung2nya karena over produksi, harganya malah jatuh dan perekonomian roma pun hancur berantakan….komik asterix memang the best way to learn history :)

  6. eyang kakung Says:

    sejarah memang dibuat oleh manusia.
    sejarah adalah tempat belajar bagi orang yang mau belajar.
    hakikat kenapa sejarah terjadi seharusnya bisa ditangkap oleh manusia.
    setelah mengenal sejarah, bisakah kita membuat sejarah?
    mr pratolo, refleksi bagus nih tulisannya.
    jadi bubble bulan juni jauh dari bayangan?

  7. mamanya Ridho Says:

    Ada juga manfaatnya mengajak ayahnya Ridho belanja bulanan sehingga tau bgmn inflasi yg tjd skrg,dan akhirnya muncullah ilham menulis tema ini :) oia..siap2 yg pake kompor minyak tanah bln depan minyak tanah belinya di SPBU,semoga ga ada gejolak massa lagi…nasib-nasib jadi warganegara NKRI….timbul inflasi rakyat yang merugi..mau makan tempe aja nunggu bahan kedeli yg imporan dulu…makan ikan aja deh bergizi tinggi, tinggal mancing aja di BK hehehe

  8. pratolo.com » Blog Archive » 11 Best Reasons to Invest in Stocks Says:

    […] membaca tulisan ini, ini, dan ini, tapi Anda masih ragu untuk investasi saham, maka berikut ini 11 alasan terbaik mengapa investasi […]

Leave a Reply