Economic Cycle, the Rise and Fall of Economic Growth

© http://pratolo.com 2008

Tidak perlu panik dengan resesi ekonomi. Tak perlu cemas dengan inflasi yg membumbung tinggi. Pasca Perang Dunia II, tak kurang 9 kali dunia mengalami resesi, sumber lain menyebut 11 kali, dan semuanya berakhir baik-baik saja. Sebaliknya dalam kurun yg sama, ekonomi dunia berkembang 10 kali. Artinya, ya itu tadi, segala sesuatu memiliki siklus, dan semua hanya sementara. Ada dua hukum alam tertua yg akan terus berlaku hingga akhir kehidupan:

Nothing lasts forever

Tidak kekuasaan, tidak pula jabatan. Gubernur paling lama menjabat 10 th. Seorang dictator otoriterian machiavelis berkuasa paling lama 40 th. Sudah itu mati. Tak ada sesuatu yg langgeng.

Segala sesuatu memiliki siklus

Saya lihat bayi lelakiku tertidur malam ini saat saya sedang menulis ini. 30 th lalu saya yg sedang tertidur seperti dia, dan mungkin ayah saya sedang membaca sesuatu saat itu. 30 th yg akan datang, barangkali saya sedang terbaring tidur, dan anak saya itu ganti menunggui ayahnya ini dengan menulis.

Segala sesuatu berlangsung dengan siklus. Begitu juga perekonomian.

Tabel 1 menunjukkan perekonomian di US saat terjadi resesi. Tabel 2 menunjukkan perekonomian US saat terjadi ’bullish’ perekonomian. Kedua tabel saya kutip dari Peter Lynch (Learn to Earn, 1995)

Dari tabel 1 tampak bahwa resesi terjadi rata-rata 11 bulan, yg menyebabkan 1,62 juta orang menganggur. Tabel 2 menunjukkan bahwa ‘bullish’ perekonomian berlangsung lebih lama, rata-rata 50 bulan, dan menambah lapangan kerja jauh lebih banyak, rata-rata 9,13 juta pekerjaan.

Dalam periode ekspansi ekonomi, PDB melonjak, pendapatan per kapita naik, daya beli masyarakat meningkat. Semua jenis bisnis mendapatkan rejeki nomplok. Segala macam barang dan jasa dikejar konsumen. Tapi situasi bullish seperti ini tak berlangsung lama. Ketika ‘booming’ ini mencapai puncak, terjadilah apa yg disebut ‘overheating’. Penyebab utamanya kita kenal sangat baik: INFLASI.

Dalam booming ekonomi, permintaan barang dan jasa ‘melambung jauh terbang tinggi’, akibatnya terjadi shortage bahan baku dan produk, bahkan tenaga kerja. Apabila terjadi shortage atas semua jenis barang, harga-harga sudah pasti naik. Produsen mobil membayar lebih tinggi utk logam, sehingga mereka menaikkan harga mobil. Produsen makanan minuman mengeluarkan biaya lebih tinggi utk gula, tepung, minyak, sehingga harga makanan minuman pun naik. One price hike leads to another. Dan bilamana semua harga barang telah naik, para pekerja akan menuntut upah dan gaji dinaikkan. Cost perusahaan utk membeli bahan baku dan menggaji pegawai bertambah, sementara revenue belum tentu bertambah, bahkan cenderung berkurang, karena daya beli masyarakat turun.

Ketika booming ekonomi, toko-toko, pabrik-pabrik baru ramai-ramai dibangun oleh para pebisnis. Banyak perusahaan meminjam dana di bank utk membiayai proyeknya. Sementara banyak pula konsumen meminjam uang di bank utk membeli mobil, rumah, membayar kartu kredit. Singkatnya, makin banyak demand terhadap kredit perbankan. Tak mau kalah dengan pebisnis lain yg menaikkan harga manakala inflasi merajalela, banker juga menaikkan suku bunga pinjaman. Alasan para banker sederhana: ”Inflasi naik, maka suku bunga simpanan kami naikkan lebih tinggi dari inflasi, agar masyarakat tetap mau menyimpan uang di bank. Dan karena suku bunga simpanan naik, maka kami juga harus menaikkan suku bunga pinjaman, agar kami tetap dapat spread”. Di titik inilah booming ekonomi berhenti, manakala cost of money membumbung tinggi berlomba dengan inflasi.

Inilah yg menyebabkan indeks harga saham gabungan (composite index) paling gemetar dengan inflasi tinggi. Investor ramai-ramai jual sahamnya karena cemas bahwa perusahaan yg mereka miliki tidak dapat melipatgandakan earning lebih tinggi daripada laju inflasi.

Dengan bunga pinjaman yg tinggi, maka sangat sedikit orang yg masih mampu membeli properti, membeli mobil, konsumsi berkurang drastis, dengan kata lain pembelanjaan masyarakat turun drastis. Akibatnya mudah ditebak, dunia usaha terkena imbasnya. Penjualan menurun, sementara pebisnis harus tetap membayar bunga pinjaman yg tinggi, rasionalisasi dan efisiensi terjadi dimana-mana, angka pengangguran meningkat. Dan siklus itu pun terjadilah: setelah overheating dan booming ekonomi, bersiaplah utk resesi yg mengikuti.

Dalam resesi, daya beli masyarakat melemah. Perusahaan yg menjual produk dan jasa ‘kelas menengah atas’ lemah letih lesu letoy. Produsen mobil, barang elektronik, property mengalami dampak resesi paling hebat. Akan tetapi produsen barang dan jasa kebutuhan sehari-hari, makanan & minuman, minyak goreng, consumer goods, masih dapat bertahan di tengah resesi. Termasuk jasa salon dan panti pijat :)

Tabel 1

Resesi

Durasi

Jobs Lost

% Perlambatan Ekonomi

11/48 – 10/49

11 bln

- 2,26 juta

- 5,0 %

07/53 – 05/54

10 bln

- 1,53 juta

- 3,0 %

08/57 – 04/58

8 bln

- 2,11 juta

- 4,0 %

04/60 – 02/61

10 bln

- 1,25 juta

- 2,3 %

12/69 – 11/70

11 bln

- 0,83 juta

- 1,2 %

11/73 – 03/75

16 bln

- 1,41 juta

- 1,8 %

01/80 – 07/80

6 bln

- 1,05 juta

- 1,2 %

07/81 – 11/82

16 bln

- 2,76 juta

- 3,0 %

07/90 – 03/91

8 bln

- 1,35 juta

- 1,2 %

AVERAGE

11 BLN

- 1,62 JUTA

- 2,5 %

Tabel 2

Ekspansi

Durasi, bln

Jobs Created, juta

% Percepatan Ekonomi

01/46 – 11/48

34

+ 5,35

+ 13,5 %

10/49 – 07/53

45

+ 7,58

+ 17,7 %

05/54 – 08/57

39

+ 4,06

+ 8,3 %

04/58 – 04/60

24

+ 3,83

+ 7,5 %

02/61 – 12/69

106

+ 17,75

+ 33,2 %

11/70 – 11/73

36

+ 7,54

+ 10,7 %

03/73 – 01/80

58

+ 14,31

+ 18,7 %

07/80 – 07/81

12

+ 1,73

+ 1,9 %

11/82 – 07/90

92

+ 21,05

+ 23,7 %

03/91 – 06/95

51

+ 8,13

+ 7,5 %

AVERAGE

50

+ 9,13

+ 15,0 %

Sumber: Department of Labor, Bureau of Labor Statistics (BLS), National Bureau of Economic Research (NBER), USA

 

Namun resesi juga tak berjalan lama (faktanya, durasi resesi justru lebih singkat daripada durasi ekspansi ekonomi). Ini yg membuat kita tak perlu kecil hati saat terjadi resesi (selama tak kehilangan pekerjaan). Tabel 1 di atas membuktikan bahwa durasi resesi paling lama hanya 16 bulan. David Dreman, mahaguru para kontrarian, meneliti bahwa setelah krisis yg terburuk sekalipun, stock market selalu berhasil bangkit dengan gagah perkasa (lihat tabel 3).

 

Tabel 3

Krisis

Market lowest after crisis

% kenaikan indeks

1 th kemudian

% kenaikan indeks

2 th kemudian

Berlin Blockade

19 Juli 1948

- 3,3 %

13,2 %

Korean War

13 Juli 1950

28,8 %

39,3 %

1962 crash

26 Juni 1962

32,3 %

55,1 %

1969/70 crash

26 Mei 1970

43,6 %

53,9 %

1973/74 crash

6 Des 1974

42,2 %

66,5 %

1979/80 oil crisis

27 Mar 1980

27,9 %

5,9 %

1987 crash

19 Okt 1987

(black Monday)

22,9 %

54,3 %

1990 Gulf War

23 Aug 1990

23,6 %

31,3 %

Sumber: Contrarian Investment Strategies: The Next Generation, 1998

 

Kesimpulan pratolo.com

- Perekonomian memiliki siklus. Investor cerdik memanfaatkan siklus ini dengan baik. Belilah saham manakala krisis / panik. Saham seperti apa? Ikuti terus pratolo.com

- Tak perlu panik oleh resesi. Di balik krisis, selalu ada opportunity. Maha benar Allah yg telah menegaskan: ‘sesungguhnya setelah kesulitan, ada kemudahan’. Dalam krisis minyak terburuk karena dampak Revolusi Iran pun, toh perekonomian tak lama kemudian bangkit kembali. Dalam crash kedua terburuk setelah ‘The Great Depression 1929’, yakni ‘Black Monday 1987’, hanya dalam 1 th market telah rebound kembali.

- Jika pendapatan Anda tidak tersisa banyak utk diinvestasikan dalam saham, namun sangat ingin melihat anak Anda melanjutkan pendidikan tinggi di kemudian hari (10 – 15 th lagi), tak perlu membayar premi asuransi pendidikan yg memang nilainya premium itu. Belilah reksadana saham, cukup sekali saja, justru pada saat terjadi krisis / resesi ekonomi. Makin buruk krisis itu, makin besar peluang Anda dapat mewujudkan cita-cita Anda. Ikuti ‘prinsip energi potensial pegas dalam investasi.’ Apalagi tuh? Stay tune in pratolo.com :)

(c) pratolo.com Mei 2008

This entry was posted on Thursday, May 15th, 2008 at 7:35 am and is filed under Investing Basics. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply