The Awakening of Agro Industry, The Awakening of Indonesia?

(c) http://pratolo.com 2008

Dalam tulisan lalu saya telah menyinggung tentang siklus ekonomi. Siklus yg sama juga berlaku pada suatu industri. Sejarah industri dimulai dari pertanian di abad 17. Polisi dunia, USA, didirikan dengan basis pertanian/ranch. Kolonialisme di abad yg sama dimulai dari pencarian dan perdagangan ‘rempah-rempah’ & hasil pertanian. Kita mengenal tentang ’sitem tanam paksa’ (cultuurstelsel) dengan mana produk-produk pertanian dihisap dari negeri Jamrud Khatulistiwa utk diperdagangkan oleh VOC Belanda. Namun siklus industri berubah dgn adanya revolusi industri di awal abad 19.

Th 1890 - 1990, agriculture industry memasuki masa decline digantikan oleh masa growth industri manufaktur (tekstil, otomotif, transportasi, machinery, consumer goods) yg disupport oleh industri dasar (oil exploration, mining, steel, chemicals). Ketika industri manufaktur telah jenuh dan memasuki masa maturity, maka industri jasa mengambil peranannya di akhir abad 20, utamanya jasa finansial. Dominasi korporasi-korporasi global perbankan, investasi, dan insurance menandai awal abad 21. Hampir bersamaan dengan itu, agro industri lahir kembali. Di akhir th 2006, harga-harga komoditas pertanian, terutama minyak nabati, menanjak selaras dengan harga komoditas energi seperti crude oil dan coal (Gbr 1).

palm-oil_price.jpg

Adanya fakta-fakta tambahan yg saya dapati saat mengikuti World Palm Oil Summit & Exhibition 21-23 Mei 2008 di Jakarta Convention Center, mendorong saya menuliskan topik ini di pratolo.com.

The Driving Force

Kebangkitan agro industri didorong terutama oleh faktor berikut:

  1. Meningkatnya harga energi dunia yg ditandai dgn ‘terbangnya’ harga crude oil, yg disusul oleh ‘larinya’ harga coal & gas bumi, menuntut adanya diversifikasi energi. Kebutuhan akan bahan bakar nabati ini terutama didorong oleh Uni Eropa dan Amerika Utara.
  2. Meningkatnya konsumsi dunia akan komoditas pangan, terutama edible / cooking oil yg dipicu oleh kebangkitan ‘naga asia’ (China) dan ’sapi asia’ (India). Pertumbuhan ekonomi di China dan India yg beberapa th terakhir mencapai 8-9 % mendorong konsumsi edible oil yg makin tinggi, karena meningkatnya pendapatan per kapita. Ditambah lagi 2 emerging country ini memiliki jumlah penduduk terbanyak di dunia.
  3. Dampak dari ‘global investment service’ yg saya kemukakan di awal. Begitu banyak ‘dana menganggur’ milik global high net-worth (sebutan keren buat para orang super kaya dunia) yg harus di-hedging (dilindungi dari resiko berkurangnya nilai). Dana-dana ini sebagian diputar oleh para pakar spekulan di sektor commodities futures (bursa berjangka), yakni crude oil & palm oil. Seorang analis Wall Street sehari yg lalu berkata bahwa kenaikan harga crude oil mencapai 130 USD/bbl tidak didukung oleh fundamental yg kuat. Dengan kata lain bahwa kenaikan harga crude oil ini adalah ’semu’, tidak didukung oleh kenaikan demand atau berkurangnya supply, namun lebih didorong oleh ‘faktor emosional & irasional’ investor (futures). Ketika para fund manager dunia (Goldman Sachs, Merryl Lynch, JP Morgan) merelease proyeksi mereka di media bahwa harga crude oil akan mencapai $ 140, maka terjadilah aksi spekulasi, yg makin mendorong kenaikan harga. This is how the world works right now: irrational motive. (Perihal behavioral finance ini akan dibahas dlm kesempatan lain dlm category tersendiri di blog ini).

Dgn ketiga faktor di atas, maka lengkaplah sudah ‘bahan bakar’ pendorong kebangkitan agro industri. Ketiga faktor ini sangat kuat menunjang booming agro industry. Meskipun nanti harga crude oil terkoreksi (namun tidak akan kembali di bawah $100), akan tetapi 2 faktor yg lain sudah cukup utk terus memompa pertumbuhan agro industri, setidaknya sampai beberapa dekade ke depan (ingatlah hukum alam ‘nothing lasts forever’).

Business Opportunity

Peluang bisnis yg menyertai bangkitnya agro industry ini sangat banyak dan sangat menarik. Kita mulai saja dari statistik yg saya olah dari Exhibition yg saya ikuti dlm 3 hari ini.

Total ada 184 stand pameran di Plenary Hall JCC, yg terdiri atas

  • Produsen dan penyalur fertilizer
  • Produsen dan penyalur equipment / engineering
  • Plantation & palm oil processing, dari hulu hingga hilir
  • Banking & financing
  • Produsen benih sawit / seeding
  • Media massa
  • LSM Lingkungan (Greenpeace)
  • Others related business (termasuk bisnis jasa event organizer & jasa penyedia SPG :)

Diantara 184 bisnis di atas, saya catat hal menarik sbb.

Hanya ada 6 produsen pupuk:

PT Meroke Tetap Jaya (agen tunggal K+S Kali Jerman), PT Pupuk Kaltim (produsen urea terbesar di Ind), Grup Sejahtera (agen tunggal Agrifert Malaysia di Ind), PT Galatta (produsen pupuk dolomit), PT Polowijo Gosari (produsen dolomit), dan PT Saraswanti (produsen pupuk tablet).

Hanya ada 4 produsen benih:

PT Sampoerna Agro (salah satu portofolio saya), Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS, lembaga riset gov’t), PT Socfin, New Britain Palm Oil Limited (Papua New Guinea).

Hanya sedikit PT produsen equipment berasal dari Indonesia,

Produsen equipment didominasi Sdn Bhd alias dari negeri jiran (saya malas menghitung jumlah tepatnya, krn lebih banyak dr jari tangan saya). Padahal equipment yg diperlukan oleh sektor palm oil bukanlah jenis equiment hi-tech. Misalnya: crushing / mill machinery, palm kernel oil expellers / kernel press, filters / decanter, conveyor, boiler low pressure. Kemana process & mechanical engineer kita? Cuma bisa berhitung & tidak bisa berbisnis?

Statistics talks further:

  • Th 2007 luas lahan perkebunan sawit di republik ini 6,43 juta Ha (0,72 jt PTPN; 2,85 jt swasta, 2,86 jt rakyat)
  • Lahan yg tersedia yg masih dapat dikonversi ke kebun: 3,3 juta Ha (bukan termasuk hutan lindung, nanti dicaci maki Greenpeace), sebagian besar di Kalimantan dan Papua.
  • Di th 2007, seluruh emiten agro di Indonesia Stock Exchange (IDX), sebut saja Sampoerna Agro (SGRO), Astra Agro Lestari (AALI), Sinar Mas (SMAR), Bakrie Plantations (UNSP), London Sumatra Plantations (LSIP), Tunas Baru Lampung (TBLA) melipatgandakan earning 80 - 190%.
  • Tgl 4 April 2008 dlm BMO Capital Markets 2008 Global Fertilizer Conference, CEO Potash Corp, Bill Doyle; CEO Agrium, Mike Wilson; Senior Vice President Yara, Edward Cavazuti; serempak menyatakan: “Fertilizer business has never been this good.

Dengan statistik yg saya sajikan di atas, strategic business tactics apa yg terlintas di benak Anda, baik sebagai investor maupun sebagai pebisnis?

(c) pratolo.com Mei 2008

This entry was posted on Thursday, May 22nd, 2008 at 8:32 pm and is filed under Industry Highlights. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

One Response to “The Awakening of Agro Industry, The Awakening of Indonesia?”

  1. pratolo Says:

    he..he..tulisan yang menarik bos..
    menyambung tulisane
    kenapa engineer kita tdk bermain di sektor itu padahal gak butuh hi tech..trus ayo beraksi bos.
    sebenarnya sudah mulai ada meski beberapa bagian masih ngambil juga dari luar.
    nah justru yang permintaan agak banyak dan harusnya mulai dikembangkan adalah miniplant2..tentu dengan kapastitas yang masih ekonomis..biar kue agro juga dinikmati oleh petani kita.
    nah, ada yang tertarik join..saya dan seorang temen bergerak di salah satunya disektor itu.
    check anekaindustri.com; anekamesin.com

    Hery Mursito via email

    pratolo.com:
    situsnya anekaindustri.com; anekamesin.com sangat menarik juga,
    mohon info lebih rinci mengenai investasinya.

Leave a Reply