Recession Strategy for Business

(c) http://pratolo.com 2008

Dalam kolom saya yg lalu, saya menulis bahwa investor sebaiknya agresif manakala terjadi resesi dan krisis ekonomi. Peluang terbaik investasi justru seringkali terpendam di dalam sebuah krisis. Terutama bilamana harga saham jatuh jauh di bawah nilai wajarnya (fair value). Namun bagaimana halnya dgn pelaku bisnis dlm menghadapi krisis?

Di tengah krisis atau resesi, pebisnis akan amat sulit melakukan ekspansi agresif. Dua sebab utamanya adalah (1) revenue yg stagnan (stagflasi), bahkan cenderung menurun, (2) cost of money yg melambung.

Langkah wajar pebisnis di tengah resesi umumnya mengetatkan ikat pinggang dengan efisiensi, kadang terpaksa dengan rasionalisasi karyawan. Alasan di balik langkah efisiensi dapat dipahami dengan persamaan sederhana berikut.

Profit (P) = Revenue (R) – Total Cost (TC)

Dimana:

TC= Variable cost (VC) + Fixed Cost (FC)

Sehingga:

P = R – VC – FC

R – VC = GM (Gross Margin). GM ini digunakan perusahaan utk membayar FC, terutama utk membayar gaji pegawai dan mengangsur bunga pinjaman. Sisanya sebagai Profit.

Di tengah resesi, inilah yg akan terjadi:

  • R tetap atau turun, sebaliknya VC naik akibat inflasi, akibatnya GM turun.
  • GM tergerus, sementara FC naik (terutama karena biaya bunga naik) Khusus perusahaan dengan rasio hutang yg besar, krisis akan amat sangat memukul kinerja bisnis.

Yg makin membuat pusing pebisnis adalah ketika saat resesi dan inflasi tinggi, pegawai meminta naik gaji. Bagi perusahaan yg masih bisa menangguk profit hal ini masih dapat dipenuhi. Akan tetapi bagi bisnis yg merugi di tengah resesi, tuntutan tsb tidak mungkin dipenuhi. Persoalan berikut yg harus dipikirkan: profit tsb harus mencukupi modal kerja berikutnya. Sebab jika tidak ada profit yg dapat disisihkan utk modal kerja maka perusahaan akan terpaksa meminjam modal kerja di tengah resesi dengan bunga yg tinggi

Oleh karena itu, amat sangat penting bagi investor utk memilih portfolio yg terdiri atas perusahaan dgn free cash flow yg kuat. In business, cash is blood. Di tengah badai krisis, hanya perusahaan dgn cash yg berlimpah yg mampu survive & leading di pasar.

Dari persamaan sederhana di atas,jelaslah bagi para pebisnis, langkah utama dan pertama dlm krisis adalah efisiensi. Langkah efisiensi ini harus dikomunikasikan dgn baik kpd seluruh stakeholder agar mendapatkan dukungan & tidak timbul prasangka.

Salah jika di tengah krisis, eksekutif justru berpura-pura business is good as usual, tidak ada upaya cost-cutting,tidak ada upaya profit improvement. Konyol bila di tengah krisis, eksekutif bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, overhead tetap dipertahankan tinggi, biaya-biaya yg tidak perlu tetap dibiarkan.

Apa pandangan Anda melihat seseorang yg mengenakan pakaian musim panas di luar rumah di tengah badai salju? Atau mengenakan pakaian musim dingin di tengah musim panas?

Selain upaya efisiensi, berikut ini beberapa strategi lain yg harus ditempuh di tengah krisis.

  1. Evaluasi kembali kebijakan harga (pricing) atas produk perusahaan. Selaras dgn kenaikan biaya-biaya variabel, harga mesti dinaikkan utk mempertahankan margin. Kendati begitu, kenaikan harga mesti dlm batas wajar (terjangkau konsumen) agar omzet tidak berkurang drastis. Di tengah badai krisis paling buruk sekalipun, persamaan ini tetap berlaku: Total revenue = Price x sales volume.
  2. Monitor lebih ketat terhadap cash flow. Jaga agar piutang tetap lancar dan sehat. Jika tak mampu menaikkan revenue dgn menaikkan harga, maka mengupayakan lebih banyak penerimaan cash (bukan piutang) akan amat menolong di saat krisis.
  3. Monitor lebih ketat inventory. Di tengah krisis, cash sangat sangat berarti. Cashout dapat dihemat dgn mengurangi persediaan, baik bahan baku maupun produk.
  4. Utk perusahaan dgn cash yg berlimpah di tengah krisis, inilah saatnya agresif. Go bargain hunting. Cari peluang akuisisi. Di tengah krisis, banyak perusahaan dgn produk bagus yg kolaps akibat manajemen yg buruk.Sebagai contoh, pada saat dot-com bubble crash di US th 2000-an, banyak perusahaan IT yg sebenarnya bagus, harga sahamnya anjlok hingga 50%. In business, management is king. Perusahaan dgn produk & cashflow yg bagus, pd akhirnya dapat kolaps bila dikelola oleh manajemen yg ngawur.
  5. Libatkan pegawai, banker, dan investor Anda. Terbukalah pd pegawai mengenai persoalan-persoalan yg dihadapi (penjualan yg menurun, cashflow yg seret, overhead yg tinggi). Bina hubungan dekat dgn banker dan investor Anda agar mau mengerti kesulitan-kesulitan perusahaan. Di tengah badai resesi, semua bisnis mengalami hal yg sama. Mereka akan memahami, asalkan Anda terbuka dan memiliki strategi bisnis yg cerdas menghadapi resesi.
  6. Menahan diri dan bersabar. Di tengah krisis, adalah menggelikan bila Anda mengeluarkan biaya dan investasi yg masih dapat ditunda / tidak mendesak. Tundalah rekrutmen pegawai baru. Kurangilah frekuensi dinas eksekutif. Jangan belajar manajemen krisis dari para pejabat Republik Mimpi: gaji eksekutif, budget dinas (studi banding), budget seragam, pengadaan mobil dinas baru, justru ditambah di tengah krisis.We’re businessmen, not clowns.

(c) pratolo.com June 2008

This entry was posted on Monday, June 2nd, 2008 at 6:25 pm and is filed under Business Strategy. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

5 Responses to “Recession Strategy for Business”

  1. bei Says:

    Wah Mas EP nyindir nih ……… rasanya kita kemarin habis mendiskusikan soal tuntutan kenaikan gaji. Tapi yang paling susah kalau pilihan cost cuttingnya adalah mengurangi pegawai ……… sangat gak sampai hati ………… kalau saya orang yang seperti Onasis atau Bill Gates saya ingin rekrut semua yang di-PHK tsb.

  2. Forum Investor Says:

    Saya setuju bahwa pengusaha memang harus melakukan efisiensi agar dapat melewati krisis.

  3. pratolo Says:

    @ Mr.Bei,
    Pengurangan pegawai adalah alternatif terakhir. Banyak cost-cutting yg seharusnya lebih diprioritaskan utk ditempuh sebelum sampai pd pilihan PHK. Jika ada eksekutif yg menempatkan PHK pd prioritas pertama, mk ada 2 kemungkinan: (1)perush tsb memang ‘gemuk’ & tdk efisien (2)perush tsb sudah efisien namun eksekutif tdk kreatif mencari solusi mengatasi krisis.
    Dlm hal efisiensi, sy sangat merekomendasikan buku Ken Iverson, CEO favorit saya yg menjadikan Nucor pabrik baja kelas dunia yg paling efisien. Judulnya “Plain Talk”, dpt diperoleh via amazon.com

    @Forum Investor,
    Blog Anda bagus sekali,& sangat bermanfaat utk investor pemula.

  4. Disclosure.Inc Says:

    Awesome Writing Pak.., Geez U Got What It Takes To Be A Good Investor… Thanks and Honoured For having My Nick mentioned the Blog’s Acknowledgments List.
    On Saya Akan Rutin Berkunjung Kesini buat baca2 Postnya yg keren.

    mungkin suatu kali kita bisa sharing en exchange riset dan view investasi.

    Keep Up The Great Work Sir!… Wassalam

    pratolo.com:
    terima kasih Kang Ocoy yg rendah hati bersedia mengunjungi blog ala kadarnya ini.
    sejatinya sy banyak belajar dr Akang yg semuda itu sudah menguasai value investing, terutama tulisan Akang ttg sapi perah Jennifer yg amat menggugah itu
    (mohon ijin mencantumkannya di blog ini).

  5. ihedge Says:

    very nice blog too. :)

    salam kenal mas pratolo.

Leave a Reply