In Hypercompetition, Prepare for the Unexpected
Juni, 20-22, 2008, tiga kejutan beruntun terjadi di perempat final Euro 2008 Austria-Swiss, Turki mengandaskan Kroasia (Juara Grup B), setelah sehari sebelumnya Jerman menaklukkan Portugal (Juara Grupa A), dan pagi dinihari ini Rusia menumbangkan Belanda (Juara Grup C). Tiga runner-up menyingkirkan tiga juara grup! Seketika itu saya teringat Richard D’Aveni dan teorema Hyper-competitive Rivalries-nya (Free Press, 1995). Dalam lingkungan persaingan seketat Piala Eropa 2008, tak satu tim pun yg dapat secara superior mengungguli tim yg lain. Kelengahan dan permainan under-perform sedikit saja akan menyebabkan kekalahan dlm persaingan dan berakibat tersingkir dari turnamen.
Turki, meski didominasi pemain liga domestik dan tidak berkaliber klub-klub ternama liga eropa, membuktikan determinasi permainan yg pantang menyerah, bermental baja, dan sangat kolektif, menyingkirkan Kroasia dgn adu penalti, setelah menyamakan kedudukan 1-1 di perpanjangan waktu menit ke 120+2. Pesan Turki dan pelatih Fatih Terim: jangan lengah hingga detik terakhir pertandingan.
Jerman, walau melempem dan bermain tidak impresif di penyisihan grup, bermain kesetanan dgn mencetak 2 gol dlm selang 4 menit (’22 dan ‘26), dan kemudian menutup pertandingan dgn sangat meyakinkan 3-2. Gol kedua Portugal via Helder Postiga di ujung pertandingan (’86) tidak menolong Christiano Ronaldo cs dari kekalahan. Pesan Jerman dan pelatih Joachim Loew: jangan pernah remehkan tim yg punya tradisi & mental juara (incumbent player).
Rusia, kendati dianggap underdog melawan Belanda yg bermain sangat sangat impresif di penyisihan grup dgn menyapu bersih 9 angka, bermain sangat taktis dan disiplin menekan Belanda sejak peluit babak pertama berbunyi. Sang tactician Rusia, Gus Hiddink, sengaja tak memberi kesempatan Marco van Basten mengembangkan pola permainan timnya yg terkenal atraktif itu. Setelah bermain 1-1 di waktu normal, Rusia berhasil mencuri 2 gol di menit akhir perpanjangan waktu paruh kedua (’111 dan ‘116) dan mengirim pulang van Nistelrooy dkk dengan skor 3-1. Pesan Rusia dan Gus Hiddink: dalam sebuah turnamen yg super-ketat (hiperkompetisi), taktik akan lebih menentukan daripada skill individu. Pakar taktik sepakbola Gus Hiddink, sekali lagi memberi kejutan, setelah membawa Korsel juara IV di World Cup 2002 dan mengantar Australia lolos ke perdelapan final World Cup 2006.
Esok pagi, Spanyol yg bermain sama atraktifnya dgn Belanda di penyisihan grup, akan bertanding versus Italia yg sama dgn Jerman memiliki tradisi juara yg kuat. Sampai di sini saya akan mencatatkan gagasan D’Aveni ttg hiperkompetisi, karena persaingan Euro 2008 yg amat ketat ini, dlm perspektif saya, membuktikan keabsahan teori D’Aveni bahwa keunggulan kompetitif hanya bersifat sementara & tidak ada yg berkelanjutan. Persaingan mengalami ekskalasi yg sangat cepat, penuh kejutan (disruption), sehingga lingkungan persaingan menjadi sangat tidak stabil & berubah amat cepat.
Utk dapat memenangi persaingan dlm lingkungan yg hiperkompetitif,diperlukan 3 hal:
(1) visi terhadap perubahan & gangguan,
(2) mempertahankan & mengembangkan kapasitas yg fleksibel dan cepat merespon setiap perubahan,
(3) taktik yg akan mempengaruhi arah & gerakan para pesaing.
D’Aveni menyarankan strategi 7S yg lebih flexibel & dinamis:
S-1: Superior Stakeholder Satisfaction; memuaskan stakeholder secara superior. Di era kompetisi tradisional mungkin cukup bagi Anda utk memuaskan pelanggan saja. Di era hiperkompetisi, memuaskan supplier, investor, masyarakat sekitar melalui CSR, sama pentingnya dgn memuaskan pelanggan.
S-2: Strategic Soothsaying; langkah strategis mengungguli pesaing. Gus Hiddink menerapkan taktik yg amat jitu utk mengungguli Van Basten.
S-3: Speed; di era hiperkompetisi, pemain yg tidak cukup cepat dlm merespon pesaing akan bernasib sama dgn Portugal yg tertinggal dari Jerman sejak menit ke-26. Tak ada tempat bagi pemain yg lamban dlm hiperkompetisi. Corporate (=Corp.) yg birokratis harus mengubah namanya menjadi Bureauporate (=Borp.) di era hiperkompetisi.
S-4: Surprise; pelajarilah strategi Gus Hiddink bagaimana caranya 3 kali beruntun memberi kejutan kpd Dunia melalui Korsel, Australia, dan Rusia melalui permainan yg taktis dan penuh disiplin.
S-5: Shifting the Rules; ubahlah aturan main. Jika perusahaan Anda tidak dapat unggul melalui bidang yg menjadi core competence karena model bisnis yg salah, bisa jadi perusahaan Anda harus mengubah kompetensi, atau mengubah model bisnis.
S-6: Signaling; beri isyarat bagi para pesaing dengan brand yg kuat atau ‘permainan yg pantang menyerah’ hingga akhir.
S-7: Simultaneous and Sequential Strategic Thrusts; serangan strategis serentak & beruntun. Jerman, Turki, dan Rusia menerapkan S-7 ini sejak detik babak pertama dng terus menekan dan menyerang tanpa memberi kesempatan lawan utk berkembang.
Kesimpulan pratolo.com
Di era hiperkompetisi, incumbent player tak lagi cukup unggul secara teknik, produk, & teknologi. Kesombongan & kelengahan sedikit saja akan berakibat fatal. CEO Intel Andrew Grove mengingatkan,”…only paranoid will survive!”
Terlebih lagi perusahaan medioker yg tidak cukup baik secara teknik, produk, & teknologi; hiperkompetisi akan menggencet Anda hingga akhirnya tersingkir dari arena pertandingan. Semakin kompetitif industri Anda, maka Anda harus makin waspada, inovatif, & taktis dlm merespon peluang maupun ancaman bisnis. Ingatlah Euro 2008 sebagai alat refleksi perusahaan Anda.
(c) pratolo.com Juni 2008

June 27th, 2008 at 4:21 am
entry yg ini menarik, pak. soalnya masih heran nih sama suporter2 bola gila yg ribut2 cuma gara2 siapa menang siapa kalah..
pratolo:
suporter yg rasional memang masih sangat sedikit. lucunya,euro2008 ini punya tag “expect emotion”
pratolo.com always support rationality in many ways.
sebagaimana terbaca dlm sebagian besar tulisan di sini.