The Fundamental of Competitiveness: Leadership

(c) pratolo.com 2008

contraria.jpg Apa yang paling dibutuhkan oleh sebuah negeri agar ia dapat makmur dan sejahtera?

Apa yg paling dibutuhkan oleh sebuah korporasi agar ia dapat unggul dan memberi value yang tinggi bagi stakeholdernya ? (bukan hanya shareholder)

Saya menemukan jawabnya ketika saya membaca mingguan Tempo Edisi 21, 20 Juli 2008 dan membaca kembali Plain Talk, sebuah otobiografi Ken Iverson.

Memperingati 100 tahun kelahiran M.Natsir, Tempo menyajikan liputan singkat salah satu negarawan terbaik Indonesia.

“Mohammad Natsir (17 Juli 1908–6 Februari 1993), orang yang puritan. Tapi kadang kala orang yang lurus bukan tak menarik. Hidupnya tak berwarna-warni seperti cerita tonil, tapi keteladanan orang yang sanggup menyatukan kata-kata dan perbuatan ini punya daya tarik sendiri. Karena Indonesia sekarang seakan-akan hidup di sebuah lingkaran setan yang tak terputus: regenerasi kepemim­pinan terjadi, tapi birokrasi dan politik yang bersih, kesejahteraan sosial yang lebih baik, terlalu jauh dari jangkauan. Natsir seolah-olah wakil sosok yang berada di luar lingkaran itu. Ia bersih, tajam, konsisten dengan sikap yang diambil, bersahaja.

Natsir membiasakan keluarganya hidup bersahaja. Dia sendiri memberikan teladan.

 

Dari balik lemari yang menjadi sekat ruang tamu, Sitti Muchliesah bersama empat adik dan sepupunya mencuri dengar pembicaraan ayahnya, Mohammad Natsir, dengan seorang tamu dari Medan. Hati remaja-remaja itu berbunga ketika mendengar si tamu hendak menyumbangkan mobil buat ayah mereka. Lies–panggilan Sitti–me­nyang­­­­ka mobil Chevrolet Impala­ yang sudah terparkir di depan rumahnya di Jalan Jawa 28 (kini Jalan H.O.S. Cokroaminoto), Jakar­ta Pusat, itu akan menjadi milik­ keluarganya. Sedan besar­ buatan Amerika ini tergolong ”wah” pada 1956. Saat itu Natsir, yang pernah menjadi Menteri Penerangan dan Perdana Menteri, hanya punya mobil pribadi bermerek DeSoto yang sudah kusam. Harapan anak-anak naik mobil Impala buyar saat ayah mereka menolak tawaran dengan amat halus agar tidak menyinggung perasaan tamunya. ”Mobil itu bukan hak kita. Lagi pula yang ada masih cukup,” Lies menirukan ucapan ayahnya ketika mereka bertanya.

Selama menjadi menteri, Natsir jarang bertemu dengan keluarga karena lebih banyak berdinas di Yogyakarta. Di sana pula dia pertama berjumpa dengan guru besar dari Universitas Cornell, George McTurnan Kahin. ”Pakaiannya sungguh tidak menunjukkan ia seorang menteri dalam pemerintahan,” tulis Kahin dalam buku memperingati 70 tahun Mohammad Natsir.

Dia melihat sendiri Natsir mengenakan jas bertambal. Kemejanya hanya dua setel dan sudah butut. Kahin, yang mendapat info dari Haji Agus Salim me­ngenai sosok Natsir, belakangan tahu bahwa staf Kementerian Penerangan mengumpulkan uang membelikan pakaian supaya bos mereka terlihat pantas sebagai seorang menteri.”

 

Paragraf-paragraf yg saya kutip diatas dari Tempo mengingatkan saya bahwa akar keterpurukan bangsa ini sejatinya adalah matinya para pemimpin.

Setelah republik ini sempat menghasilkan pemimpin besar seperti Soekarno, Hatta, dan Natsir dalam masa perjuangan kemerdekaan, rezim orde baru memberangus bersemainya bibit-bibit kepemimpinan. Selama 32 tahun kepemimpinannya, Sang Jenderal Besar membangun sistem yg siap mengebiri siapa pun pemimpin muda yg akan hadir. Hasil dari sistem kepemimpinan orde baru adalah menteri-menteri yg selalu menanti petunjuk atasan, wakil-wakil presiden yg hanya jadi boneka, dan pejabat-pejabat lain yg merupakan pelayan presiden ketimbang pelayan rakyat.

Kini 10 tahun setelah hancurnya sistem kepemimpinan orde baru, kita mulai merasakan akibat dari krisis kepemimpinan ini. Partai-partai muncul menjelang Pemilu 2009 dengan menjagokan pemimpin yg itu-itu juga, yg telah terbukti tidak berhasil dalam kepemimpinannya: perempuan pendiam yg tidak tampak pemikirannya, seorang kyai yg lebih banyak menyodorkan konflik daripada solusi, mantan jenderal yg punya masa lalu karier militer yg kelabu, dan banyak pemimpin lain yg telah out of date. Saya ingat kutipan Einstein ini: Anda tidak dapat menghasilkan output eksperimen yg berbeda, dari metode yg sama.

Krisis kepemimpinan juga telah menjadi kanker ganas yg menggerogoti republik ini: pejabat-pejabat peradilan yg dilingkupi suap, anggota-anggota parlemen yg terlibat bermacam skandal, dan puluhan kasus lain yg menjerat para pemimpin negara ini. Bagimana negara dapat makmur dan bangsa menjadi sejahtera bila para pemimpinnya adalah sekumpulan penyamun dan pelacur jabatan?

Republik ini sungguh-sungguh merindukan para pemimpin seperti Natsir dan Hatta. Para pemimpin yg tidak berorientasi pada jabatan dan harta, namun berorientasi pada pelayanan dan pengabdian. Seperti halnya Ken Iverson.

 

Ken Iverson adalah CEO Nucor, sebuah pabrik baja USA yg di th 1965 meregang nyawa di ambang kebangkrutan. Di tahun itu juga Ken diangkat menjadi CEO pada usia 39 th. Tiga puluh tiga tahun setelah masa kritis itu, th 1998, Nucor kini menjelma manjadi raksasa bisnis baja No.2 di USA, masuk Fortune 500, dengan penjualan 4,3 miliar USD, memiliki 9 lini bisnis baja dan 25 pabrik, dengan hanya 6900 karyawan. Nucor tidak memiliki serikat pekerja. Di bawah kepemimpinan Iverson, seorang karyawannya menyatakan,”kami tidak memerlukan serikat pekerja di Nucor.”

 

John D.Correnti, CEO penerus Iverson, menyatakan, “We are a cyclical business… Basically when you are at the peak of the cycle—times are good, interest rates are low, people are building—our margins increase. When we go to the trough, of course, the margins are squeezed. But over the last 25 years Nucor has never had a losing quarter.

Not only a losing quarter, we have never had a losing month or a losing week.”

 

Kisah tentang Iverson menarik utk ditulis sendiri di blog ini, namun singkatnya apa yg menjadi resep Ken Iverson sukses membangun Nucor adalah kisah pendek ini.

Lima belas tahun setelah memimpin Nucor, akhir 70-an, Iverson diundang Harvard Business School utk menghadiri sebuah kelas yg sedang membahas studi kasus Nucor. Pertanyaan akhir studi kasus itu adalah: apakah Nucor sebaiknya melanjutkan strategi bisnisnya utk terus berekspansi membangun pabrik peleburan baja mini (mini-mills)?

80% mahasiswa MBA Harvard tsb menjawab, sebaiknya tidak, karena Nucor akan sulit bersaing dengan pabrik baja besar. Saat itu Nucor memiliki 3 mini mill. Th 1998 Nucor memiliki 8 mini mill.

 

Kelas bubar, dan Iverson menghampiri sang professor Harvard, bertanya, “Apakah mahasiswamu selalu konservatif begitu? Apakah mereka umumnya sulit utk melihat suatu peluang bisnis yg terbuka, dalam jangka panjang?”

Profesor menjawab,”mereka tidak nyaman utk mengambil risiko yg tidak segera menghasilkan imbal hasil dalam waktu dekat. Gagasan utk sukses mereka adalah menjadi kaya dengan cepat lalu pensiun.”

Selanjutnya Iverson menulis, ”Melakukan yg terbaik utk jangka panjang sebuah bisnis seharusnya menjadi prioritas utama seorang manajer. Saya sarankan utk mereka yg akan mengejar karir manajemen: Jangan manjadi manajer jika yg Anda inginkan dari karir Anda adalah menjadi cepat kaya. Anda tidak akan pernah melakukan yg terbaik. Sesungguhnya, justru bisnis akan jauh lebih baik tanpa Anda.”

 

Ya, persamaan Natsir dan Iverson adalah Level-5 Leadership: bekerja keras tanpa mengharap hasil segera, apalagi hasil utk dirinya sendiri. Seperti yg tercantum dalam kaligrafi di rumah Natsir, potongan ayat terakhir Quran Surat Al Ankabut:

Dan orang-orang yg berjihad untuk mencari ridho kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang yang berbuat baik.”

Copyright http://pratolo.com July 2008

This entry was posted on Sunday, July 20th, 2008 at 1:02 am and is filed under Fundamentals of Competitiveness. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

3 Responses to “The Fundamental of Competitiveness: Leadership”

  1. Anto Says:

    Great blog mas EP. You are trying not only to share your knowledge about investment but also to express your feelings and dreams with the support of theory and knowledge. Very Good. Let see within one year or two from now, I believe a lot of visitors will be recorded in this blog.

    About the Harvard students that did not agree with the Iverson idea to develop mini mills, they are the same with our officials in State Owned Company (BUMN) Ministry and most of State Owned Companies top managements. They do not care about the future of the company. What they care about is only short term profit …… profit ……..and profit. That’s all. When I attended a training organized by Corporate Leadership Development Institute 2 weeks ago, I expressed my opinions in a presentation program to the official of State Owned Company Ministry, Mr.Palgunadi (President Commisioner of Adaro), Mr.Sutrisno (former President Director of Krakatau Steel), and Mr.Sumardi (former President Director of Pelindo IV) and they seemed to understand my concern.

    Short term profit could be a trap for all of us since all of our efforts are concentrated in creating profits regardless of how this profits are collected and none of us are really thinking and dreaming about the future considering the recent business conditions and competition that are becoming tighter and tighter. More important is the long lasting and sustainable profit.

    What we learn from M Natsir and Iverson is that they always think about the future. To build the future, first they need to build a strong foundation like culture, good faith and leadership. First of all, of course, they need to walk the talk the culture, faith and leadership. And they do not need acknowledgment from others. Keep walking the talk, keep doing the best for the job, for others, for the environment, for the country and off course for the family. They do not need compliment and salutation for what they have done.

    Sorry for the very long and unfocused comment.

    pratolo.com
    Very nice comment Sir. You shall write a blog on your own.
    Let me see..hmm.. it could be about Leadership. I suppose there still a few Indonesia blog on leadership. Wanna be a pioneer? :)
    I wrote about leadership of Natsir & Iverson, coz we really need those kind of men, people like Taiichi Ohno, who built the giant Toyota without being an ‘corporate star’ such as Jack Welch & Iacocca.

  2. Anto Says:

    Thank mas EP for your support and ideas, I think I must started soon or I will loose its momentum. Leadership and Organizational Behavior are among so many interesting topics I want to share. I will let you know when my blog is launched.

  3. pratolo Says:

    pratolo.com
    Short term profit indeed mislead most of us in any goal of life, not only in leaderhip but also in investing. Many investors become traders in the name of short term & spectacular profit. They forgot that it could not last consistently in the future.
    Great sir, I’m looking forward to reading your blog. :)

Leave a Reply