The League of Stockpickers

champions leagueHidup adalah kompetisi, Anda suka atau tidak. Untuk masuk SMP favorit, (anak) kita harus berkompetisi, begitu pula masuk SMA favorit, apalagi kuliah di perguruan tinggi favorit. Ketika (anak) kita melamar kerja di perusahaan berkelas, maka ia pun harus berkompetisi. Atau, jika (anak) kita lebih suka berwirausaha, ketimbang bekerja untuk orang lain, maka agar perusahaan itu survive dan sustain, ia harus mengalahkan perusahaan lain dalam sebuah kompetisi bisnis yg ketat. Leading company means it leads the market among the others.

Kompetisi membuat hidup ini seru. Anda yg pecandu bola mengerti benar maksud saya. Makin ketat sebuah kompetisi, makin asyik kita menikmatinya. Liga Champions, kompetisi klub jawara papan atas liga eropa, berbeda kelasnya dengan Piala UEFA, kompetisi klub papan tengah liga eropa.

Pun di dunia pasar saham, para pemain / pelaku (stockpicker) terbagi menjadi tiga peringkat liga yg berbeda.

The Champions League of Stockpickers

Inilah “The League of Legends”, liga yg dihuni oleh sangat sedikit stockpicker yg dalam kurun panjang secara konsisten mengalahkan indeks market (long-term performers). Tujuh yg terbaik dan yg paling popular (The Magnificent Seven) adalah Benjamin Graham, Warren Buffet, John Templeton, Peter Lynch, John Neff, David Dreman, dan T.Rowe Price, Jr.

1. Benjamin Graham

Dialah Bapak Value Investing, sebuah cara berinvestasi hanya pada bisnis yg bernilai tinggi, pada harga diskon. Bukunya yg baru-baru ini diterjemahkan ke dalam Bahasa, The Intelligent Investor, adalah textbook wajib bagi para investor (meskipun Ben menulisnya dalam gaya yg membosankan). Ben Graham sejatinya bukan seorang manajer investasi seperti reksadana yg kita kenal sekarang, namun ia mengelola sebuah mutual fund tertutup utk sebuah yayasan bersama rekannya Jerome Newman dari th 1936-56.

Jurus investasi: ’the original’ value investing.

Rekor: valuasi cerdik Graham-Newman membeli saham GEICO pada harga $27 dan menjadi $54.000 pada akhir karirnya. John Train menulis dalam ”The Money Masters” (2000) bahwa reksadana tertutup Graham-Newman mendapat return 21% per tahun (compound average annual returns) sepanjang 20 th.

Karya: bersama rekannya sesama Profesor Columbia, David Dodd, menulis “Security Analysis” (1934), ”The Interpretation of Financial Statements”(1937), dan terakhir “The Intelligent Investor” (1949), sebuah buku yg membuat Warren Buffet datang dan belajar padanya di University of Columbia. Graham juga perintis apa yg kini dikenal sebagai Chartered Financial Analyst (CFA Institute).

2.Warren Buffet

Inilah dia The Greatest Investor of All. Buffet mengikuti Graham dalam value investing, namun punya gaya tersendiri dalam aplikasinya. Jika ia menemukan perusahaan yg bagus maka ia memutuskan utk membeli mayoritas saham bisnis tersebut. Inilah yg membuatnya menjadi orang terkaya no.1 di dunia, mengalahkan semua orang yg ada dalam list ini. Saham pilihannya antara lain: Coca Cola, Kraft Foods, See’s Candy, Gillette.

3.Sir John Templeton

Inilah Bapak Global Investing asal Inggris, penyandang CFA, dan pionir investasi di emerging market (saat itu Kanada dan Jepang). Dialah yg pertama berinvestasi di Japan Stock Market (Nikkei) selama kurun 1966-1988 dan mencetak rekor return 1700% (sementara Dow Jones hanya 200%).

Jurus investasi: global contrarian value investing. Disebut contrarian karena strateginya membeli saham suatu bisnis di sebuah negara tertentu pada saat mencapai titik maksimum pesimisme. Pasca PD II, dengan berani Templeton membeli saham-saham perusahaan publik eropa (tentu saja yg punya value), seharga $1, dengan uang pinjaman $10.000. Setelah 4 th, uang itu menjadi $40.000. Sejak saat itu, indra keenam investasinya makin tajam dan selalu menjadi yg pertama tahu negara mana yg akan mengalami turnaround. Setelah di Eropa, Templeton sukses di Jepang & Amerika Selatan (1980-an).

Karya: Sayangnya Templeton tidak menulis buku. Namun namanya diabadikan sebagai Templeton College di Oxford Business School.

Rekor: Templeton Growth Fund selama 33 th dari 1954-1987 mencatat return 17,5% compound average annual returns. Artinya, setiap $10.000 yg diinvestasikan di th 1954, tumbuh menjadi $2 juta di th 1987.

4.Peter Lynch

Inilah sang Superstar mutual fund. Dibebani sebagai fund manager Fidelity Magellan dengan dana kelolaan (asset) terbesar dalam sejarah mutual fund di dunia (saat itu), Lynch sukses mengalahkan market dengan portfolio 1400 saham yg dipilihnya. Lulusan Wharton School of Business ini mempraktekkan apa yg kini dikenal sebagai gaya ‘the sleuth investor’. Bagai detektif, Lynch mendatangi perusahaan yg sahamnya akan ia beli, mencoba produknya, mewawancara manajemennya, dan memantau cermat laporan keuangannya.

Jurus investasi: value investing dengan focus pada long-term growth dan turnaround company. Keahlian khusus Lynch adalah mencium dini perusahaan yg akan tumbuh dalam jangka panjang (Pep Boys, Dunkin Donuts, McDonalds, Philip Morris), juga piawai mengenali perusahaan yg tengah kolaps dan akan bangkit kembali (Chrysler, Ford, Toys R Us).

Karya: Lynch berjasa mempopulerkan industri reksadana pada rumah tangga US. Dia menulis buku-buku dasar investasi saham yg menjadi classic: “Learn to Earn”, “One Up on Wall Street”(1989) dan “Beating the Street” (1993). Bahasanya yg simple & mudah dipahami, membuat buku-buku Lynch lebih disukai orang awam daripada buku-buku Graham. Motto yg menjadi roh buku-bukunya: “use what you know and buy to beat Wall Street gurus at their own game.”

Rekor: $1000 yg diinvestasikan di Fidelity Magellan pada Mei 1977, menjadi $28.000 pada th 1990, atau sama dengan 29% compound average annual returns selama 13 tahun.

5.T. Rowe Price, Jr.

T.Rowe Price, Jr mendirikan perusahaan sekuritas T.Rowe Price pd th 1937. Price berjasa mempelopori jasa broker saham dengan fee berdasar besar asset yg dikelola, ketimbang yg sudah lazim menggunakan komisi.

Jurus investasi: value investing focus pada long-term growth. Ciri khas Price adalah berinvestasi pada bisnis yg memiliki manajemen solid dan unggul dalam sector industri yg subur (terus tumbuh dlm jangka panjang). Agak berbeda dengan Peter Lynch, yg menyukai perusahaan dengan fundamental kuat kendati dalam sector industri yg tumbuh negative (Philip Morris). Price hanya memilih satu dua perusahaan yg menjadi market leader di sector masing-masing. Jurus Price terbukti handal ketika ia berinvestasi pada Merck di th 1940, dan di akhir karirnya telah berlipat menjadi 200 kali. Perusahaan lain yg dimilikinya antara lain: Xerox, 3M, Coca Cola, IBM. Price penganut mazhab ’buy and hold’ strategy, selama fundamental bisnis tidak berubah buruk, ia tidak akan menjual sahamnya meski harganya sudah terapresiasi tinggi.

Rekor: Nikki Ross dalam bukunya “Lessons from the Legends of Wall Street”(2000), mencatat salah satu produk reksadana T.Rowe Price (Emerging Growth Fund) mencapai return 500% selama satu decade 1950-1960.

6.John Neff

Neff adalah manajer investasi di Wellington Management Co. Memulai karir pada 1964 dan mengelola bermacam produk reksadana selama 30 th. Salah satu taktik investasi Neff mengikuti sektor industri yg sedang ‘hot’ dengan membeli saham perusahaan yg terkait. Misalnya sektor properti sedang tumbuh pesat, maka John Neff membeli saham perusahaan semen. Saat PC sedang tumbuh pesat, maka John membeli saham perusahaan chip.

Jurus investasi: value investing, focus pada perusahaan dengan rasio price-earning (P/E) rendah dan deviden yield tinggi. Neff menjual sahamnya manakala fundamental bisnis telah menurun atau harga saham telah mencapai targetnya.

Karya: Neff menulis semacam otobiografi karirnya sebagai fund manager dalam “John Neff on Investing”(1999).

Rekor: John Neff menjalankan produk reksadana Windsor Fund selama 31 tahun, yg mencapai return 13,7% compound average annual returns, berakhir pada 1995. Sementara dalam kurun yg sama index S&P 500 hanya 10,6%.

7.David Dreman

Dialah Bapak Contrarian Investing. Kendati John Templeton dan Peter Lynch pun seorang contrarian, namun Dreman ‘dinobatkan’ sebagai The Dean of Contrarian karena kontribusinya pada aliran ini. Pendiri dan Chairman Dreman Value Management ini amat produktif dalam menulis. Buku karyanya yg sama classic-nya dengan buku-buku Graham dan Lynch adalah “Contrarian Investment Strategy: The Psychology of Stock Market (1980), yg dimutakhirkan menjadi “Contrarian Investment Strategies: The Next Generation” (1998).

Selama 22 tahun, Dreman rutin mengisi kolum “The Contrarian” di majalah Forbes. Dia menulis banyak artikel ilmiah dan mendirikan Institute of Behavioral Finance yg menerbitkan “Journal of Behavioral Finance”, bersama Nobelis Ekonomi Vernon L.Smith. Ciri khas strategi investasi Dreman adalah psikologi market, dia berkata “Psychology is probably the most important factor in the market – and one that is least understood.”

Jurus investasi: value investing, focus pada low Price-Earning, low Price-Book Value, dan low Price-Cash Flow.

Rekor: Selama 15 tahun, dua produk Dreman Value Management yg dikelolanya, Large Cap Value Fund mencetak 17% compound average annual returns, dan Small Cap Value Fund mencapai 16,5%, sementara index S&P hanya 11% dalam kurun yg sama.

Selain 7 orang diatas, penghuni Top League ini adalah John Bogle, Philip Fisher, Bill Miller, William O’Neil, James Slater, Michael Steinhardt, Jesse Livermore, dan George Soros.

Bogle, Fisher, Miller, O’Neil, dan Slater adalah investor saham tulen, sedangkan Livermore, Steinhardt, dan Soros adalah investor multi-talented. Selain saham, mereka bertiga juga piawai dalam shorting-gold, buying puts, hedging bonds, currencies and commodities trading. Beberapa pengamat menjuluki tiga terakhir sebagai greatest speculator, karena metode mereka yg kompleks dan sulit diikuti oleh kebanyakan investor. Namun return yg mereka capai melebihi investor saham yg paling top sekalipun. Steinhardt misalnya mencatat rekor 24% compound average annual returns selama periode 28 th– lebih dari dua kali return S&P 500. Soros, konon mencetak rekor 30% compound average annual returns selama masa karirnya

The Average League of Stockpickers

Seperti kurva distribusi normal, pada liga kedua inilah dimana banyak investor bertengger. Begitu banyaknya nama, sehingga tak dapat satu persatu disebut. Namun ciri khas mereka sama, yakni performa di bawah return market. Ciri khas lain dari para pemain liga ini adalah:

  • Enggan belajar analisis dan melakukan riset. Mereka memilih cara termudah investasi saham: mengikuti rumor, mengikuti mailing list. They’re just following the herd. Bagaimana bisa sukses jika uang milik mereka sendiri (hard-earned money), diserahkan pada keputusan yg dibuat oleh orang yg tidak jelas kredibilitasnya (the crowd).
  • Tidak punya waktu khusus dedicated untuk mengamati market, namun memaksakan diri. Instead of trusting their money in the hand of expert (professional fund manager), they insist on trading in their leisure time. They want to be the Next Soros, but they forget something important: Soros had a full day career (he retired in 2000) and backed up with bunch of analyst.

The League of Stock picker watcher


Ini adalah liga para pengamat saham, para akademisi. Mereka menghasilkan puluhan bahkan ratusan riset tentang saham dengan metode statistic yg sophisticated. Mereka juga menghasilkan puluhan konsep tentang pasar modal. Lucunya, tidak ada diantara mereka yg tercatat mengalahkan return market. Beberapa orang diantaranya bahkan putus asa tak mampu mengalahkan return market, maka mereka mempelopori konsep Efficient Market Hypothesis (EMH). Paul Samuelson, Burton Malkiel, dan Eugene Fama ada di jajaran ini.

Jurus investasi: jika Anda percaya pada EMH, maka berinvestasilah pada index fund, yakni reksadana yg mengikuti persis pergerakan indeks market. Setidaknya Anda tidak akan terjerumus ke kelompok liga kedua diatas.

Conclusion pratolo.com

  1. To be one of the best, we must learn from the best. To be listed on the top league, we must play as the champions play.
  2. One thing the champions all have in common is that they often took an unconventional approach to investing and went against the herd.
  3. The most proven method in beating the market is Value Investing. Other methods – such as Market Timing- did, but in far less probability. (Only 3 of 15 champions are market timers)
  4. Jika Anda tak punya waktu, atau enggan belajar lebih banyak tentang metode stockpicking, maka lebih baik percayakan uang Anda pada professional fund manager yg mengelola reksadana. Beberapa fund manager yg bagus seperti Fortis Investment, Trimegah Securities, dan Danareksa Investment mencatat return lebih dari 400% selama 5 tahun terakhir. Ini jauh lebih baik daripada index fund ataupun dimainkan sendiri namun return di bawah market.

I don’t want a lot of good investments; I want a few outstanding ones.”-Philip Fisher

© http://pratolo.com August 2008

This entry was posted on Tuesday, August 19th, 2008 at 1:34 am and is filed under Investing Basics. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

One Response to “The League of Stockpickers”

  1. w0w0 Says:

    Jadi penasaran, kinerja dana kelolaan Liga Utama (7 legenda) menghadapi krisis SM ini, yang paling dikit turunya siapa ya pak ed ?

    pratolo.com
    Hm saya tidak tahu persis, Peter Lynch udah pensiun & tdk mengelola mutual fund lagi, Warren Buffet malah belanja2 saat diskon begini.
    Tapi yg jelas emang reksadana US banyak banget yg cash out sekarang ini. Total dana kelolaan mutual fund US menyusut hingga 40%.
    Coba anda cari di
    http://www.morningstar.com/cover/funds.aspx
    http://bwnt.businessweek.com/mutual_fund/

Leave a Reply