The Mental Accounting Problem

money.jpgTanggal 25 Mei, Bapak A baru saja menerima bonus tahunan sejumlah 2 kali gaji. Di akhir pekan itu juga dia mengajak keluarganya pergi ke toko peralatan elektronik, di mana ia membeli satu set TV plasma lengkap dengan home theater. Sesampai di rumah, ia memasang satu set peralatan tersebut, dan menonton bersama keluarga film animasi Wall-E. Dalam hatinya, Bapak itu puas telah menghabiskan bonus tahunannya untuk sebuah barang yg tepat.

Tanggal yg sama, Bapak B menerima bonus tahunan sejumlah 2 kali gaji dari perusahaan yg sama dgn Bapak A. Di siang hari berikutnya ia segera pergi ke bank, di mana ia membeli sebuah produk reksadana saham (mutual fund) dengan seluruh uang bonus tsb. Sepulang dari bank, Bapak itu membuka catatan investasinya, dan tersenyum puas melihat assetnya bertambah 10%.

Cerita di atas mungkin kisah nyata, namun juga sebuah kasus menarik dari apa yg disebut “mental accounting”, sebuah fenomena perilaku finansial atau ekonomi perilaku (behavioral finance) yg pertama kali diteliti oleh Richard Thaler, profesor school of business Chicago. Mental accounting adalah perilaku ekonomi dengan mana seseorang menggolongkan inputan dan keluaran berdasarkan pos-pos seperti halnya model akuntansi (account code). Karena pengaruh mental accounting inilah maka uang Rp 1 juta yg diperoleh dari undian berhadiah dan uang Rp 1 juta yg diperoleh dari kerja keras 1 bulan, tidaklah sama nilainya. Padahal jumlahnya sama.

Dalam kasus di atas, Bapak A menilai uang bonus 2 kali gaji tidak sama nilainya dengan gaji 2 bulan (meskipun jumlahnya sama persis). Bapak A tidak akan membelanjakan gajinya selama 2 bulan untuk seperangkat home theater. Sebaliknya, Bapak B memilih utk segera ‘mengenyahkan’ uang tersebut agar tidak terjebak ke dalam perilaku mental accounting ini, dengan cara investasi.

Perilaku mental accounting ini tergambar pula dalam kasus berikut ini.

Agus berniat menonton pertandingan Persija vs Persebaya, dan ia membeli tiket Rp 100 ribu dari seorang calo supporter bonek temannya. Sesampai di stadion ia merogoh saku celana jeansnya dan menemukan bahwa tiketnya telah hilang jatuh di perjalanan. Dengan gigit jari Agus pulang ke rumah tak jadi menonton kesebelasan kesayangannya. Dalam waktu yg sama Bedu, seorang Jakmania tulen, tiba di stadion utk menonton pertandingan yg sama. Saat antri di loket, Bedu tersadar bahwa ia kecopetan, dan uang Rp 100 ribunya amblas sudah. Untunglah Bedu datang ramai-ramai bersama teman-temannya sesama Jakmania. Dengan mudah ia mendapat pinjaman Rp 100 ribu, dan segera membeli tiket masuk stadion.

Sekarang apabila Anda berpikir bahwa perilaku kedua orang itu ‘wajar-wajar saja’ (Anda pun akan melakukan yg sama), maka Anda terjebak dlm mental accounting ini. Inilah masalah mental accounting itu: Agus tidak meneruskan niatnya menonton karena ia tak mau membelanjakan Rp 200 ribu utk pertandingan tsb, sedangkan bagi Bedu hilangnya Rp 100 ribu dan biaya tiket Rp 100 ribu agak dipisahkan - secara kejiwaan- dalam dua kategori yg berbeda (sehingga bagi Bedu ia hanya menghabiskan Rp 100 ribu utk selembar tiket).

Anda yg telah disiplin berinvestasi tidak dapat begitu saja berbangga dan mengatakan, ‘wah saya telah terbebas dari tipuan mental accounting ini karena sudah melakukan investasi dgn bijaksana.’ Berhati-hatilah para investor dengan contoh kasus mental accounting berikutnya.

Paijo dan Paimin memiliki portfolio saham dengan nilai yang sama menghasilkan investasi 20% per tahun. Perbedaannya, portofolio Paijo mendapatkan return hanya dari capital gain saja, sedangkan Paimin menghasilkan return dari dividen. Persoalan mental accounting: yang manakah yang pengeluarannya lebih banyak? Dan mana yang mengakumulasi kekayaan lebih banyak?

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Stefan Nagel dari Stanford School of Business, ternyata investor yang menerima dividen pengeluarannya cenderung lebih banyak. Sementara itu, mereka yang memperoleh capital gain cenderung melakukan reinvestasi. Disinilah letak mental accounting-nya: deviden membuat Paimin merasa ia mendapatkan extra money dan cenderung membelanjakannya, sedangkan capital gain dianggap Paijo sebagai ‘return wajar saham’, sehingga tak perlu dihamburkan. Agar tak terjebak oleh perilaku inilah maka Ben Graham dalam The Intelligent Investor menyarankan setiap investor utk me-reinvestasi-kan setiap deviden yg didapat.

Gejala-gejala mental accounting :

  • Anda mengira diri Anda bukanlah pemboros, tetapi Anda mengalami kesulitan utk menabung, meskipun penghasilan Anda cukup besar.
  • Anda berbelanja lebih banyak jika menggunakan credit card ketimbang jika memakai uang cash.
  • Kebanyakan dana pensiun Anda berada pada penghasilan tetap atau investasi rentan inflasi lainnya.
  • Anda memperlakukan Rp 1 juta dari uang warisan mertua berbeda dengan Rp 1 juta dari hasil kerja.

Celakanya, mental accounting ini tidak hanya dapat dialami oleh individu perseorangan. Sebuah korporasi dapat terjebak pada kultur perilaku ini manakala:

Tidak sadar biaya dengan menganggap pos-pos pengeluaran kecil tidak ada artinya.
Padahal menjadi sadar biaya ketika melakukan pembayaran-pembayaran kecil yang rutin seringkali berarti bahwa Anda bisa memenangkan penghematan-penghematan besar.

Contoh kasus ini adalah PT Timah. Sebelum th 1990 kantor pusat PT Timah ada di Jakarta, pabriknya ada di Bangka, Belitung, Singkep. Th 1990, Kuntoro Mangkusubroto, CEO Timah yg baru, merestrukturisasi PT Timah diantaranya dengan memindahkan kantor pusat ke Bangka. Dengan ini maka banyak ‘pengeluaran-pengeluaran kecil’ perjalanan dinas yg dapat dihemat. Selain itu, manajemen menjadi lebih efektif karena para pejabat tidak kehilangan dua hari perjalanan pulang-pergi dari Jakarta-Bangka-Belitung. Dua hari kerja dianggap sebagai dua hari perjalanan dinas, sebuah persoalan mental accounting yg lain. []

(c) http://pratolo.com Aug 2008. Riset Richard Thaler dapat didownload di sini.

This entry was posted on Saturday, August 30th, 2008 at 1:25 am and is filed under Behavioral Finance. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

5 Responses to “The Mental Accounting Problem”

  1. Tim Ramsey Says:

    I recently came accross your blog and have been reading along. I thought I would leave my first comment. I dont know what to say except that I have enjoyed reading. Nice blog.

    Tim Ramsey

    pratolo.com
    Thanks Tim. I recently visited your blog too, very nice, you have niche readers.

  2. Investasi Says:

    Saya juga heran kenapa ya uang hasil kerja keras dan hasil undian rasanya berbeda, padahal nilainya kan sama.

    pratolo.com
    Nah itulah Bung, secara emosional rasanya berbeda, padahal secara rasional nominalnya sama persis. That is mental accounting = “pos pendapatan” dr undian lain dengan “pos pendapatan” dr kerja keras. Thanx udah mampir.

  3. jay Says:

    hehehe.. nice work bro.. jadi begitulah mengapa sy ga bisa punya tabungan…?!

  4. pratolo Says:

    @jay
    thanks jay,jadi mulai kini ada dasar utk mulai berubah kan? :)

  5. gunawan Says:

    Ha ha ha..betul…betul…nyadar juga ternyata saya termasuk org yg merasa dirinya bukan pemboros tapi kok ya susah utk re investasi :P
    tp Mas Pratolo, dlm situasi seperti saat ini kondisi ekonomi global yg crush…investasi apa yg paling aman utk jangka waktu 1thn - 5 tahun bagi seorg yg risk avoider seperti saya? soalnya sy lg trauma dgn reksana yg NABnya turun terus en indeks yg melempem juga? apa msh bisa dikatakan ini wktu yg tepat utk masuk? apakaha hrus cut loss atau di hold terus?prediksi ke depan kira2 gimana ya?
    Thanks utk pencerahannya……………

    pratolo.com
    Pak Gunawan,syarat pertama dan utama utk sukses di stock market, Anda harus menetapkan horizon investasi, mau long-run (value investor) atau short-term (trader).
    Jika long-runner, Anda harus memiliki psikologis sbb:
    - sabar menunggu paling tidak 2 th melihat porto Anda tumbuh signifikan. Kenapa 2 th? Ini angka yg diberikan oleh Peter Lynch & David Dreman, berdasarkan pengalaman mereka malang-melintang di Wall Street
    - tabah melihat porto Anda merah sesaat, terutama jika Anda salah beli saat bullish, pasti Anda akan mengalaminya
    - pada waktu bearish dan porto Anda merah, Anda harus berani menyusun portofolio baru dgn memilih saham dgn fundamental bagus yg undervalued
    (ini yg biasanya sulit dilakukan,portofolio merah kok malah belanja lagi)
    - Anda harus tahu saat kapan, pada harga berapa, dan saham apa yg harus dibeli. Pantang bagi long-runner mengikuti emosi market, pada waktu bullish ikut2an belanja ini itu, tak peduli pada harga berapa, dgn berpedoman pada technical analysis. Dalam istilah John Allen Paulos dalam bukunya A Mathematician Plays Stock Market, Technical Analysis is following the followers, sebuah teknik yg berprinsip snowball, ratusan analis mengikuti suatu trend yg sejatinya mereka ciptakan sendiri yg diikuti orang awam. Technical Analysis tidak akan mampu meramal apa yg akan terjadi dlm jangka panjang.

    Coba renungkan QUOTE yg ada di blog ini, juga 18 Warnings to Individual Investors dari Peter Lynch.

Leave a Reply