Mr.Market, Dr.Jekyll and Mr.Hyde

Perilaku market dunia, khususnya Indonesia saat ini mengingatkan saya akan novel klasik Robert Louis Stevenson, Dr.Jekyll and Mr.Hyde.

Alkisah Mr.Market mengetuk pintu likuiditas Anda sebagai Dr.Jekyll yg berperilaku baik dan gentleman. Ia menawarkan janji return yg spektakuler mengalahkan semua investasi lain (emas, tanah, deposito). Anda tertarik dan menanamkan uang yg Anda cari dgn bekerja keras. Tiga bulan berlalu, dan Anda membuktikan janji Dr.Jekyll, return Anda spektakular yg membuat Anda makin bersemangat menanamkan aset. Setiap Dr.Jekyll  mencetak home-run rekor baru indeks, maka Anda makin akrab dgn Dr.Jekyll ini.

But nothing lasts forever.

jekyll-hyde.jpg

Pelan-pelan Mr.Market mulai loyo, antusiasmenya habis, pikirannya pesimis. Anda yg tidak punya pegangan selain rekomendasi dari Dr.Jekyll dan kebingungan antara memilih menjadi investor atau trader, menjadi panik. Portofolio Anda merah karena dibeli dari Dr.Jekyll. Anda ragu antara cut loss atau bertahan di tengah gejolak pasar. Anda panik, dan mencari-cari Dr.Jekyll teman Anda yg baik hati itu. Tapi dia tak tampak lagi, karena Dr.Jekyll hanya muncul saat bullish. Sebagai gantinya, datanglah Mr.Hyde yg berperilaku kasar dan buas. Ia membenamkan seluruh portofolio Anda ke dalam jurang paling dalam.

Begitulah Mr.Market yg bermuka dua, datang sebagai Dr.Jekyll di saat bullish, dan berubah menjadi Mr.Hyde manakala bearish. Begitulah pasar yg penuh intrik dan tipu daya bagi mereka yg tidak punya pegangan. Salah satu muslihat Mr.Market adalah apa yg ditengarai oleh Bill Miller, fund manager Legg-Mason Capital: “The problem is that real risk and perceived risk are two different things. And that’s where people get into trouble, because they perceive risk to be high when prices are low, and they perceive risk to be low when prices are high. That’s the psychological problem that most people have.”

Anda terpedaya oleh Dr.Jekyll yg menyarankan Anda membeli di saat bullish, yg resikonya sangat tinggi ketika Market jatuh. Dan Anda terlalu takut dgn Mr.Hyde yg kejam dan buas utk menjadikannya teman Anda. Inilah problem psikologis investor umumnya. Sangat takut dan trauma utk menyusun portofolio baru di saat bearish, padahal resikonya lebih rendah daripada saat Anda membeli saham di ketinggian indeks. Satu hal lagi yg terlupakan oleh orang yg sudah panik: berpikir logis. Simaklah pemikiran logis Jeremy Siegel, seorang profesor finance terkemuka, dlm bukunya Stocks for The Long Run.

“The existence of bear markets gives stocks their superior rates of return. If there were no down markets, there would be no risk; and if there were no risk, there would be no risk premium -the extra return that stocks earn over other safe assets, such as gov’t bonds and certificates of deposit. In fact, it’s because of the extraordinarily high returns stockholders receive at the tail end of the bear market that stocks beat all other financial assets hands down.”

Ya, membeli di saat Pasar ambruk justru memberi peluang yg amat besar utk memperoleh extraordinary high return. Ini hanya dapat dicapai dgn dua hal: (1) membeli saham yg tepat pd harga yg tepat, dan (2) yg lebih sulit: bersabar dan tidak panik.

Ingat kata Warren Buffet:

It’s far better to buy a wonderful company at a fair price than a fair company at a wonderful price.” 

If a business does well, the stock eventually follows.

Sebagian pelaku pasar mengibaratkan bermain di pasar ibarat sebuah perang. Untuk memenangkan perang, Anda tidak cukup hanya bermodal pikiran dan inteligensia yg brilian, namun Anda memerlukan mental psikologis yg berani dan sabar. Tidak ada seorang pun jenderal tercatat sejarah yg hanya pintar strategi, dia pasti juga berani mengambil resiko, berpikir logis, dan tidak panik dalam mengambil keputusan di saat genting, serta sabar mengintai musuh saat lengah.

“Someday,” says legendary contrarian investor David Dreman, “we’re going to look back and ask ourselves why we weren’t more aggressive in picking up bargains in this market.” []

This entry was posted on Friday, October 10th, 2008 at 10:34 am and is filed under Value Investing. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply