Earning, Earning Growth, and Philosophy of Stock Market


I think I’ve already written many serious articles on this blog, but I consider this article is the most serious one so far. It’s all about earning and the philosophy of stock market. You can translate my post instantly from Indonesian to English using http://translate.google.com

 

bull-bear.jpgHari-hari ini manakala bursa efek jatuh, banyak orang Indonesia membicarakan tentang stock market. Kebanyakan orang berkomentar negatif. Seorang mantan jenderal berkomentar bahwa stock market adalah judi. Tidak sedikit yg bilang bahwa stock market adalah riba. Banyak juga yg berkata stock market bukan sector riil.

 

As far as I know, when most people say about some specific subject,” It is A”, the truth will be “It is not A.” As a matter a fact: most people do not learn what they need to know, they only listen to what others say. And the fact is: only a few people really learn what they really want to know.

 

Stock market bukanlah judi. Stock market juga bukan riba. Yang saya maksud adalah stock market, bukan instrumen derivatif dari stock market seperti options. Berinvestasi di stock market bukan judi jika yg jadi pedoman dalam berinvestasi adalah earning.

 

Earning dalam bisnis artinya laba, yaitu revenue dikurangi biaya-biaya. Ada berbagai definisi earning dalam kosakata finansial, namun yg saya maksud earning dalam artikel ini adalah laba bersih setelah pajak. Earning inilah yg sebenarnya mendasari filosofi stock market.

 

The Philosophy of Stock Market

 

Pada tahun 1877 di desa Pitisbruk tinggal beberapa puluh keluarga. Setiap beberapa keluarga membentuk satu badan usaha. Setiono bergabung bersama Novyanto dan Suharsoyo membentuk usaha kerajinan marmer dan furnitur. Oka, Parmo, dan Susanto mendirikan peternakan sapi perah. Joko dan Andrian membuat peternakan ayam. Agung, Bambang, dan Yoyok membentuk bank simpan-pinjam. Tarigan, Sitorus, Sirait, dan Sihombing membuka perkebunan kelapa sawit. Ahong, Anto, dan Acong mendirikan pabrik minyak goreng. Beberapa keluarga membentuk satu perusahaan kecil, sehingga desa kecil itu tumbuh menjadi desa industri kecil terintegrasi. Makin lama makin banyak imigran dari tempat lain datang dan membentuk usaha di desa Pitisbruk.

 

Setiap badan usaha menghasilkan earning, dan setiap orang yg memiliki saham sebuah usaha mendapatkan bagi hasil dari earning tersebut yg disebut deviden.

 

Suatu ketika karena suatu hal, Joko harus pindah meninggalkan desa Pitisbruk untuk hidup di kota lain. Untuk itu Joko berniat menjual saham peternakan ayam miliknya. Karena di kota itu belum ada media cetak, Joko terpaksa mendatangi satu persatu rumah untuk menawarkan sahamnya, sampai akhirnya Sitanggang bersedia membeli sahamnya. Tak lama setelah itu datanglah orang baru bernama Broto mendirikan surat kabar lokal di desa itu, ”Pitisbruk Post”. Rupanya Joko bukan orang pertama yg harus pindah dari kota itu. Seiring berjalannya waktu makin banyak orang pindah, dan tidak sedikit pula yg datang. Berkat surat kabar ”Pitisbruk Post”, kini lebih mudah bagi orang yg ingin menjual sahamnya. Tak lama setelah memasang iklan biasanya calon pembeli saham telah berdatangan ke rumahnya. Sambil mengepak barang, terjadilah transaksi pemindahan kepemilikan sebuah badan usaha.

Th 1907, tiga dekade setelah desa Pitisbruk berdiri, desa tersebut telah menjadi kota metropolitan. Pratolo, walikota pertama kota Pitisbruk mengusulkan kepada dewan kota untuk membentuk pasar saham untuk memudahkan transaksi pemindahan kepemilikan suatu badan usaha. Kota Pitisbruk kini telah memiliki 1.223 badan usaha swasta milik penduduk setempat, mulai dari perusahaan air minum dalam kemasan sampai penambangan batubara. Dewan kota menyetujui usul walikota, dimotori oleh Senator Prawiro yg mengkampanyekan bahwa pasar saham ini dapat pula digunakan oleh sebuah badan usaha yg ingin berekspansi (membuka cabang di kota lain) guna menawarkan saham baru kepada calon investor. Dengan demikian diharapkan perkembangan usaha kota Pitisbruk akan makin pesat. Maka di tahun itu berdirilah PCSE, Pitisbruk City Stock Exchange.

 

Pasar saham berlaku sebagaimana pasar biasa. Orang yg memiliki bagian sebuah usaha ingin menjual kepemilikannya dan menawarkannya di pasar. Orang yg tertarik untuk memiliki bagian sebuah usaha membelinya dan mendapatkan deviden dari badan usaha tersebut. Badan usaha tersebut adalah riil: memiliki badan hukum, memiliki karyawan, menghasilkan produk atau jasa, dan menghasilkan earning. Dari earning ini pemiliknya mendapatkan bagi hasil atau deviden.

 

Namun seperti sabda Muhammad saw, ”seburuk-buruk tempat adalah pasar dan sebaik-baik tempat adalah majelis ilmu (tempat ibadah/sekolah).” Maknanya, bukan karena pasar itu haram atau dilarang, namun karena di dalam pasar tidak semua pedagang atau pelaku pasar berlaku jujur. Ada pedagang yg mengurangi timbangan. Ada pedagang yg menimbun barang untuk spekulasi. Dan sebagainya.

 

Begitu pula di pasar saham. Tidak semua pelaku pasar berperilaku “lurus” mengharapkan deviden. Di pasar saham muncul juga spekulan, day-trader, short-seller. Namun adanya “oknum-oknum” ini tidak lantas membuat pasar saham menjadi buruk dan harus dilarang. Lebih banyak kebaikan pasar saham daripada keburukannya. Seperti yg akan saya jelaskan selanjutnya.

 


The Importance of Earning

 

Keberadaan Pitisbruk City Stock Exchange yg berhasil mengundang banyak investor dari luar kota, menginspirasi Endang -seorang ekonom lokal- untuk mendirikan sebuah badan usaha yg khusus menerbitkan buletin yg memuat hasil analisis perusahaan mana saja yg pada tahun itu akan menghasilkan penambahan earning dari tahun sebelumnya. Penambahan earning berarti penambahan deviden, begitu anggapan orang. Buletin tersebut, “Endang Stocks Journal” dijual dengan harga tinggi kepada investor, dan laku keras. Tak hanya memuat daftar perusahaan dengan earning terbaik (dalam kolom Excellent Stocks), “Endang Stocks Journal” juga memuat daftar perusahaan mana saja yg pada tahun itu tidak menghasilkan penambahan earning (dalam kolom Poor Stocks). Arie & Arief Brothers, dua orang trader yg baru saja bermukim di kota Pitisbruk, memanfaatkan analisis Endang dengan membeli saham Excellent Stock pada harga wajar dan menjualnya kembali pada harga mahal. Mereka juga tidak segan-segan menjual murah saham Poor Stock milik mereka pada harga murah (dibawah harga wajar), agar uang hasil penjualan Poor Stock ini dapat segera diputar untuk membeli saham Excellent Stock pada periode berikutnya.

 

Berkat adanya bursa saham maka saham sebuah perusahaan dapat dimiliki oleh banyak orang (publik). Dengan begitu kinerja sebuah manajemen perusahaan yg terdaftar di bursa saham akan dinilai dan dipantau oleh analis profesional dan publik. Inilah sebabnya bursa saham dapat dianggap sebagai barometer utama kinerja ekonomi makro sebuah negara, bahkan kinerja ekonomi global. Di situ berkecimpung para analis profesional yg pekerjaan sehari-hari mereka, 24 jam sehari dan 5 hari seminggu, menganalisis indikator ekonomi makro dan prospek earning setiap perusahaan. Masing-masing analis ini menguasai setiap sektor industri. Biasanya mereka inilah yg pertama kali mencium bila akan terjadi resesi atau ekspansi ekonomi. Meskipun prediksi mereka tidak selalu akurat, tapi mereka selalu menjadi yg pertama kali waspada. Adanya analis juga membantu publik untuk menilai kinerja sebuah perusahaan, berdasarkan earning yg dihasilkan. Mengapa earning ini begitu penting? Berikut ilustrasinya.

 

Di kota Pitisbruk, ada sebuah perusahaan bernama PT Pernah Jaya. Perusahaan ini memproduksi gula dengan kapasitas terbesar di kota itu. Pada saat awal berdirinya, PT Pernah Jaya mencatatkan diri sebagai produsen dan pemasar gula paling top. Namun seiring berlalunya waktu, PT Pernah Jaya mengalami siklus bisnis yg lazim terjadi: introduction-growth-mature-decline. Berikut ini laba bersih yg tercatat di laporan keuangan terakhir PT Pernah Jaya.

 

2001 = 380 milyar gretong (mata uang kota Pitisbruk)

2002 = 215 milyar gretong

2003 = 190 milyar gretong

2004 = 155 milyar gretong

2005 = 380 milyar gretong

2006 = 375 milyar gretong

2007 = 415 milyar gretong

 

Jika laba bersih di atas dikonversi menjadi laba bersih per lembar saham (Earning per Share), maka EPS PT Pernah Jaya adalah:

 

2001 = 115

2002 = 65

2003 = 60

2004 = 45

2005 = 115

2006 = 110

2007 = 125

 

Kinerja perusahaan gula tersebut, seperti terlihat dari EPS di atas, adalah naik turun dan tidak stabil. Tidak seorang pun pekerja dan manajemen PT Pernah Jaya yg menyadari arti penting EPS perusahaan mereka. Para pekerja hanya peduli pada insentif dan bonus yg mereka terima, sampai akhirnya kesejahteraan pekerja pelan-pelan mulai diturunkan oleh manajemen.

           

Sign of Good Business: Earning Growth

 

Bagi mereka yg mengerti pentingnya earning, kemunduran dialami PT Pernah Jaya di atas tidaklah mengherankan. Berikut ini pertumbuhan earning PT Pernah Jaya:

2001-2002 = - 43%

2002-2003 = - 10%

2003-2004 = - 20%

2004-2005 = + 150%

2005-2006 = - 2.5%

2006-2007 = + 10%

 

Tidak ada earning growth yg konsisten di PT Pernah Jaya. Manajemen begitu konservatif. Dari awal berdirinya, PT Pernah Jaya hanya memproduksi dan memasarkan gula pasir untuk pasar tradisional. Sedangkan para pesaing mereka lebih inovatif: memproduksi dan memasarkan gula rendah kalori, akuisisi perusahaan minuman ringan, akuisisi perusahaan permen dan coklat batangan, dan sebagainya. Manajemen PT Pernah Jaya juga tidak sadar biaya, padahal dalam sektor komoditi keunggulan biaya merupakan sebuah keharusan, sebab harga komoditi adalah volatil dan fluktuatif. Perusahaan yg berhasil menjaga biaya-biaya usaha mereka tetap rendah, akan menikmati keunggulan net margin yg tinggi. Hal ini dicontohkan oleh Nucor Corp. Sebuah perusahaan produsen dan pemasar baja yg terdaftar di New York Stock Exchange. Simak apa yg dikatakan oleh John D.Correnti, presiden dan CEO Nucor.

 

We are a cyclical business… Basically when you are at the peak of the

cycle—times are good, interest rates are low, people are building—our

margins increase. When we go to the trough, of course, the margins are

squeezed. But over the last 25 years Nucor has never had a losing quarter.

Not only a losing quarter, we have never had a losing month or a losing

week.

 

Nucor adalah produsen baja paling efisien di dunia. Mereka juga yg mempelopori pabrik peleburan baja mini (mini mills). Meski efisien dan sangat sadar biaya, pekerja Nucor menikmati insentif yg tinggi. Begitu sejahteranya pekerja Nucor, sampai mereka tak merasa perlu memiliki serikat pekerja (tak ada labor union di Nucor). Tak mengherankan, karena Nucor memiliki net margin yang tinggi. Net margin = laba bersih dibagi penjualan.

 

Sebaliknya dengan nasib PT Pernah Jaya, karena tidak ada growth tak mengherankan bila lama kelamaan kesejahteraan pekerjanya dikorbankan oleh manajemen. Padahal yg paling bertanggung jawab dengan earning growth adalah manajemen.

 

Manajemen yg bagus akan mampu menumbuhkan earning melebihi laju inflasi. Sebab earning yg bertambah sama dengan atau kurang dari inflasi sama artinya tidak ada pertumbuhan. Profesor Robert Shiller, behavioral economist terkemuka dari Yale, meneliti pertumbuhan EPS saham-saham blue chip di New York Stock Exchange (NYSE) yg tergolong sebagai 500 perusahaan terbaik (S&P 500). Sejak tahun 1874-2004, rata-rata pertumbuhan EPS perusahaan S&P 500 adalah 3,8% sebelum inflasi. Setelah dikurangi inflasi, rata-rata pertumbuhan EPS S&P 500 adalah 1,7%. Sejak tahun 1980, masa-masa paling bullish dalam sejarah stock market USA, earning growth S&P 500 setelah disesuaikan inflasi adalah 2,6%. Got my point? Perusahaan yg bagus akan menghasilkan pertumbuhan earning mengalahkan laju inflasi.

 

What is Stock Market doing with Earning and Growth?

 

PT Pernah Jaya sebenarnya memiliki semua syarat yg diperlukan untuk menjadi perusahaan sekelas Nucor: asset yg besar, insinyur-insinyur yg pintar, pekerja-pekerja yg rajin dan tekun. Yg tidak mereka miliki hanya satu: manajemen yg progresif. Permasalahannya, PT Pernah Jaya adalah perusahaan tertutup milik seorang konglomerat bernama Prabowo. Konglomerat ini memiliki puluhan perusahaan yg tidak semua dikelola dengan baik. Prabowo memilih dan mengangkat manajemen sesuka dia, toh dia adalah pemilik tunggal. Berbeda dengan Nucor yg terdaftar di NYSE yg wajib melaporkan kinerja manajemen mereka setiap kuartal dan tahunan. Laporan itu dipantau oleh public dan analis. Setiap kinerja manajemen menurun (earning tidak tumbuh), public sebagai pemegang saham melalui RUPS, dan analis sebagai pengamat melalui media massa, menuntut agar manajemen diganti. Bukan hal yg aneh buat perusahaan yg terdaftar di NYSE, manajemen yg kinerjanya buruk diganti hanya dalam tempo dua tahun. Sebaliknya, manajemen yg sangat baik dapat puluhan tahun menjabat karena dipercaya oleh public dan analis (Ken Iverson CEO Nucor, Warren Buffet CEO Berkshire Hathaway, Jeff Bezos CEO Amazon, Jack Welch CEO General Electric, dsb).

 

Manfaat lain dari pasar modal:

  1. Transparansi manajemen. Perusahaan terbuka melaporkan secara berkala kinerja, laporan keuangan, aksi-aksi korporasi, dan tindakan-tindakan manajemen. Perusahaan terbuka tidak perlu dipaksa-paksa melakukan GCG. Public dan analis selalu mengawasi mereka. Pasar modal juga memiliki polisi tersendiri (Indonesia: Bapepam, USA: SEC), yg akan menghukum mereka yg bersalah.
  2. Publik dapat memiliki perusahaan-perusahaan terbaik. Di negara-negara yg tidak memiliki pasar modal, perusahaan-perusahaan besar yg menguasai hajat hidup publik (perusahaan minyak, utilitas, pertambangan, telekomunikasi, dsb) dikuasai oleh partai yg berkuasa, atau oleh segelintir keluarga raja. Ini sangat rawan dengan korupsi dan penyelewengan lainnya. Di negara yg memiliki sistem pasar modal yg bagus, rakyat jelata dapat memiliki perusahaan-perusahaan bagus dan membantu mengawasi manajemennya. Bahkan berkat pasar modal, pekerja sebuah perusahaan dapat memiliki saham perusahaannya sendiri (ESOP).
  3. Perusahaan bagus yg ingin melakukan ekspansi usaha dapat dengan mudah mendapatkan modal dalam jumlah besar dengan cara menawarkan saham kepada publik (IPO) atau menambah emisi saham baru. Dengan demikian, makin cepat dunia usaha di negara tersebut berkembang.
  4. Transparansi public akan mendorong kinerja manajemen yg lebih baik. Perusahaan lebih sehat, earning tumbuh, pemegang saham senang, pekerja makin sejahtera. Lihatlah Nucor, Google, Microsoft, Intel. Di sini tidak terjadi apa yg dikhawatirkan oleh Karl Marx yg telah lama mati itu: tidak ada penghisapan kelas pekerja oleh pemilik modal. Sebaliknya, seiring makin meningkatnya earning perusahaan, harga sahamnya naik, pemegang saham senang, karyawan juga menikmati hasil kerja kerasnya.

 

 

Memang terdapat beberapa kekurangan pasar modal:

Seperti halnya pasar, tak semua pelakunya berlaku lurus. Di pasar saham, terdapat pula praktik-praktik spekulasi seperti short-selling (menjual barang tanpa memiliki), day-trading (membeli dan menjual kembali dalam hari yg sama tanpa perlu modal riil), menggoreng saham (melambungkan harga saham perusahaan kecil).

Namun hal ini sebenarnya dapat dicegah asalkan regulator pasar modal mau menerapkan aturan lebih ketat, seperti misalnya: larangan short-selling, auto-rejection utk saham yg naik lebih dari 10% dalam sehari, dsb.

 

Understanding the Dividend

 

Sekali lagi saya menekankan, tidak ada unsur riba dalam stock market. Mereka yg mengatakan riba, pasti tak memahami bagaimana financial management bekerja.

 

Sebuah badan usaha menghasilkan earning. Sebagian earning dibayarkan kepada pemegang saham sebagai devidend, sebagian earning lagi disimpan sebagai laba ditahan (retained earning) guna ekspansi usaha dan modal kerja. Jika usaha merugi, maka tak ada earning. Jika tak ada earning maka tak ada devidend. Artinya pemegang saham hanya akan untung jika usahanya untung, dan akan rugi jika usahanya rugi. Pada praktik di pasar modal, bila sebuah perusahaan rugi maka harga sahamnya juga jatuh. Bahkan lebih buruk dari itu, jika earning tidak tumbuh sesuai prediksi para analis (konsensus earning) maka harga saham akan turun (terkoreksi).

 

Ada pula yg berpendapat bahwa uang yg didapat dari keuntungan pasar saham bukanlah uang riil. Really? Tidak, jika Anda memahami bagaimana caranya menghitung harga saham yg wajar, maka uang yg diperoleh dari keuntungan pasar saham adalah uang riil.

 

Penjelasan yg sederhana: perusahaan menghasilkan barang atau jasa yg dipasarkan. Hasil penjualan ini adalah uang riil yg sesuai dengan nilai barang atau jasa itu. Dari hasil penjualan ini ada laba perusahaan. Jadi laba ini adalah uang riil juga. Dari laba ini dibagikan dividend kepada pemegang saham. Jadi dividend ini adalah uang riil juga. Jadi keuntungan dari pasar saham yg diperoleh dengan cara ini adalah uang riil. Dengan begitu maka pasar saham adalah sektor riil, sama halnya dengan pasar tradisional tempat Anda membeli ikan dan sayur mayur.

 

Penjelasan yg lebih rumit:

Harga wajar sebuah saham dihitung dalam cabang ilmu finance yg disebut stock valuation. Untuk saham yg memiliki earning growth yg tetap, digunakan rumus yg disebut Gordon’s Model, yg saya sederhanakan sbb:

P = D (1 + g) / (k – g)

Dimana P = harga wajar saham, D = devidend, k = discount rate, g = dividend growth rate

Harga wajar suatu saham adalah present value dari dividend yg diperoleh dari earning dari waktu ke waktu. Makin besar dividend sebuah badan usaha, maka makin tinggi harganya. Dan karena harga saham merupakan fungsi waktu, maka makin lama kita memegang sebuah saham, akan makin naik pula harganya. Dengan demikian, harga wajar saham adalah sesuai dengan dividend, yg mana merupakan uang riil karena dihasilkan dari earning yg didapat sebuah badan usaha.

 

Untuk saham yg merupakan growth stock (perusahaan yg sedang tumbuh pesat kadangkala tidak membagikan dividend, namun menggunakan seluruh earning utk ekspansi usaha), digunakan rumus lain yg disebut Modigliani-Miller Theorem. Karena melibatkan persamaan matematika yg panjang dan rumit, saya hanya akan menjelaskan arti teorema Modigliani-Miller sebagai berikut:

“A financial theory stating that the market value of a firm is determined by its earning power and the risk of its underlying assets, and is independent of the way it chooses to finance its investments or distribute dividends.”

Artinya, meski growth stock tidak dinilai berdasarkan dividend (“independent of the way it chooses to finance its investments or distribute dividends”), namun ia tetap dinilai atas dasar earning power (“determined by its earning power”). Earning adalah uang riil yg didapatkan dari hasil usaha.

 

Penjelasan di atas hanya berlaku untuk stock market dan bukan untuk instrument investasi derivative dari saham. Sampai di sini, maka saya berpendapat bahwa stock market merupakan sector riil dan jauh dari unsur riba.

 

Nah, bila harga wajar saham dapat dihitung seperti di atas, lalu mengapa pada suatu saat harga-harga saham menjadi sangat tinggi (overvalued) atau seperti saat ini, menjadi sangat rendah (undervalued)?

 

Efficient Market Hypothesis vs. Behavioral Finance

 

Ada dua mazhab besar dalam finance mengenai perilaku stock market. Sebagian akademisi, dipelopori oleh Eugene Fama, berpendapat bahwa market adalah efisien dan rasional. Dengan didukung riset, mereka mengemukakan hipotesa bahwa harga pasar merupakan refleksi dari harga wajar saham dari waktu ke waktu. Saat harga pasar saham tinggi, artinya ekonomi sedang bullish, terjadi ekspansi ekonomi, jadi wajar harga saham menjadi mahal. Saat harga pasar jatuh, artinya ekonomi sedang bearish, terjadi perlambatan / resesi ekonomi, jadi wajar harga saham menjadi murah. Pendukung teori EMH tidak mengenal istilah overvalued dan undervalued.

 

Sebagian akademisi lain, dipelopori oleh Robert Shiller, berpendapat pasar saham tidaklah efisien, bahkan cenderung irasional. Didukung sejumlah riset, behavioral economist menunjukkan bahwa perilaku pasar adalah mengikuti perilaku investor (manusia). Pada saat ekonomi bullish, investor antusias berduyun-duyun membeli saham tak peduli pada harga wajarnya. Perilaku ini memicu harga saham yg naik lebih tinggi lagi (overvalued). Sebaliknya pada saat ekonomi bearish, investor panic dan segera menjual sahamnya tanpa peduli merugi. Aksi jual massal ini memicu harga saham jatuh lebih dalam (undervalued). Persis seperti perilaku manusia, yg seringkali bertindak irasional dalam kehidupan sehari-hari. Overvalued dan undervalued sebenarnya juga terjadi di luar konteks pasar saham: orang menjual murah mobilnya dibawah harga pasar karena butuh uang cepat, orang membeli mahal sebuah rumah karena rumah tersebut pernah ditinggali seorang presiden.

 

 

Kesimpulan pratolo.com

 

  1. Jangan mudah percaya pada pendapat orang, meskipun ia seorang habib, jenderal atau pemimpin politik. Orang yg mudah percaya disebut taklid, dan ini berbahaya karena seorang taklid dapat diperalat untuk kepentingan tertentu. Di era seperti sekarang, informasi makin berjubel dan tidak jelas mana yg benar dan mana yg bermanfaat. Untuk mencari kebenaran Anda harus menggalinya sendiri dari sumber terpercaya. Dari abad pertengahan sampai era internet, sumber terpercaya tidak banyak berubah: buku-buku dan jurnal-jurnal yg ditulis oleh para pakar di bidangnya, telah dicetak berkali-kali, dan direview oleh para pakar lainnya.
  2. Stock market merupakan sektor riil dan bukan riba, jika yg jadi pedoman adalah earning. Adapun praktik spekulasi yg mewarnai pasar modal dapat ditekan seminim mungkin asal didukung oleh regulasi dan edukasi yg benar. Pasar memang tidak mungkin terbebas 100% dari praktik spekulasi, namun ini tidak menjadikan pasar sebagai lembaga yg haram. Majelis Ulama Indonesia telah menghalalkan pasar modal dan mengesahkan Jakarta Islamic Index (JII) yg berisikan saham-saham perusahaan yg sesuai syariah. Saham yg tidak sesuai syariah antara lain saham perusahaan yg menggunakan leverage yg berlebihan (leverage = total asset dibagi equity). Artinya perusahaan tersebut menggunakan jauh lebih banyak hutang daripada modal sendiri.
  3. Keberadaan pasar modal penting untuk mendorong dunia usaha. Perusahaan kecil dengan prospek bisnis bagus, dapat melakukan ekspansi melalui pasar modal. Pemerintah harus lebih mendorong perusahaan-perusahaan tertutup untuk go public, misalnya dengan memberi insentif pajak yg signifikan, sehingga kinerja manajemen makin transparan dan perusahaan makin tumbuh berkembang. Go public akan mencegah perusahaan seperti PT Pernah Jaya menjadi PT Pernah Ada.
  4. Manajemen yg bagus adalah manajemen yg mampu menghasilkan pertumbuhan earning mengalahkan inflasi. Berhati-hatilah dengan perusahaan yg mencantumkan kata-kata ”growth” dalam cover buku laporan keuangan mereka, karena mungkin saja manajemen tak memahami makna ”growth” sesungguhnya, atau yg lebih buruk lagi manajemen berupaya mengelabui investor.

 

Ini adalah post pratolo.com yg terpanjang dan paling serius, saya harap dapat dipahami oleh orang awam dan berguna bagi kemajuan pasar modal Indonesia. []

This entry was posted on Monday, November 10th, 2008 at 7:59 am and is filed under Investing Basics. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Responses to “Earning, Earning Growth, and Philosophy of Stock Market”

  1. Dedi Kurniadi Says:

    Guidance kehidupan manusia hanyalah wahyu (baca:kitab suci, sunnah:operasional), permasalahan kehidupan manusia yang semakin kompleks tidaklah kita dapatkan dari keduanya secara langsung, maka ruang ijtihad atau tafsir sangatlah luas bagi para ulul albab (pakar) di berbagai bidang, kitab kuning belum mampu menjelaskan urusan muamalah yang rumit kecuali seputar thoharoh dan santri, berjamurnya institusi syariah barang kali juga indikator guidance dari langit itu semakin membumi, semoga keberkahan selalu menyertai orang-orang yang menangkap isyarat Yang Maha Agung dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring. Allohu’alam bishowwab.

    pratolo.com
    terimakasih Pak Dedi. Ijtihad yg salah, setelah melalui proses ijtihad yg benar, mendapatkan satu pahala. Ijtihad yg benar mendapat dua pahala. Tidak berijtihad tidak mendapatkan pahala. CMIIW (Correct Me If I’m Wrong).

  2. Anto Says:

    Pak Edi, saya kira dari saham kita tidak hanya “mengharapkan deviden tetapi juga perubahan nilai” betul tidak ?!!!!. Tentunya perubahan yang positif. Apakah Pak Edi akan menjual sahamnya ketika nilainya tinggi sekali atau jauh diatas harga wajarnya. Terus terang saya merasa hal ini masih “abu2″. Kemudian kecenderungannya kita akan mengikuti petuah Warren Buffet yang kira2 bunyinya :” takutlah ketika melihat orang tamak dan tamaklah ketika orang takut”. Saya merasa ini masih abu2 juga ketika membeli saham jauh dibawah harga wajar. Hal2 semacam ini sangat tergantung pada diri pribadi dalam menyikapinya karena tidak atau belum ada aturan yang membatasi. Kitab suci-pun tidak mengatur hal ini karena waktu itu belum ada pasar saham.

    Semoga saja PT Pernah Jaya segera berubah menjadi PT Langgeng Jaya.

    pratolo.com
    Tentu saja saya mengharapkan perubahan nilai saham, karena nilai saham merupakan fungsi waktu,earning atau deviden, P = f(E,D,t). Sebagian investor akan menjual sahamnya begitu harganya tinggi. Tidak ada yg salah dalam hal ini. Sebagian dari kita juga melakukan hal ini di luar konteks pasar saham. Jangan pernah lupa, ada pedagang yg terus menaikkan harga jual barang dagangannya ketika nilai pasarnya terus meningkat (bullish), karena pedagang ini mau menikmati margin yg lebih tinggi. Ini adalah mekanisme pasar pd umumnya: selama ada yg menjual di harga tinggi tapi ada yg mau membeli, selama ada yg mau menjual di harga rendah tapi ada yg mau membeli, terjadilah AQAD jual beli. Nabi Muhammad benar ketika mengatakan ’seburuk-buruk tempat adalah pasar’, sebab orang-orang lugu dgn mudah akan tertipu oleh pasar, tapi beliau sangat bijaksana tidak melarang adanya pasar. Keberadaan pratolo.com salah satunya adalah utk mengedukasi pelaku pasar, agar investor peduli pada nilai wajar dan lebih rasional dalam mengambil keputusan investasi.

    Tidak semua investor menjual saham begitu harganya tinggi (overvalued). Sebagian lain tetap memegang sahamnya meskipun harganya sudah overvalued. Warren Buffet diantaranya. Dia terus memegang saham Berkshire Hathaway sampai hari ini dan melewatkan kesempatan menjual di harga tinggi manakala pasar bullish dan P/E naik gila-gilaan pada masa booming dotcom awal th 2000-an. Meski seorang kapitalis sejati, Buffet bukan jenis orang yg tamak. Ia mendonasikan 1 milyar USD utk charity, Ia tetap tinggal di rumahnya yg dibeli 30 th lalu, dan tidak membeli rumah mewah seperti bintang-bintang Hollywood. “Don’t judge a book by short sentence on the cover, we need to read the whole book before we make a review”.

    Welcome back to pratolo.com

Leave a Reply