Costs for Options
Copyright http://pratolo.com Dec 2008. Translate pratolo.com instantly from Indonesian to your language using http://translate.google.com
Dalam sebuah sejarah perang Tiongkok yang terkenal, tersebutlah di tahun 210 SM seorang Jenderal China bernama Xiang Yu memimpin tentaranya menyeberangi sungai Yangtze untuk menyerang pasukan Dinasti Ch’in. Sesampai di seberang sungai yang merupakan wilayah Ch’in, dan bermalam di
Xiang Yu kemudian berpidato di depan tentaranya bahwa dengan tidak adanya kapal kini mereka tak punya pilihan lain kecuali terus maju bertempur demi kemenangan. Mundur mereka akan terpojok, tak dapat pulang, dan akhirnya akan mati ditepi sungai Yangtze dikepung pasukan Ch’in. Pembakaran kapal itu hanya menyisakan satu pilihan: terus maju sampai gugur di
Legenda ini dikenal pula dalam sejarah Islam, manakala Jenderal Thariq bin Ziyad maju memimpin tentaranya menaklukkan Spanyol di tahun 711 M. Setelah armada kapalnya menyeberang dari Maroko dan mendarat di semenanjung Iberia (kini dinamai Gibraltar = Jabal al-Thariq = Gunung Thariq), Jenderal Thariq membakar seluruh kapalnya dan memerintahkan tentara Maroko terus maju guna mengalahkan King Roderick dan menaklukkan Spanyol.
Jenderal Xiang Yu dan Thariq Ibn Ziyad barangkali bukan tipe pemimpin idaman Anda. Masyarakat kini lebih menyukai tipikal pemimpin yang populis, yang bisa menyenangkan semua pihak at all cost (perilaku populis sebenarnya cenderung kepada perilaku herd mentality / mob behavior = mengikuti kerumunan, perilaku kawanan, tak punya pendirian, bingung mana yang terbaik). Sebaliknya, tampaknya bukan kebetulan bahwa berkat strateginya membakar kapal Xiang Yu dan tentaranya kemudian memenangi sembilan pertempuran berturut-turut melawan pasukan Ch’in dan pada akhirnya mengalahkan mereka. Sedangkan Thariq bin Ziyad dan tentara Moor yang dipimpinnya pada akhirnya berhasil menaklukkan Spanyol dan membangun imperium Islam di Iberia yang berjaya hingga tahun 1492.
Bertentangan dengan pandangan umum (dengan demikian berlawanan dengan perilaku normal manusia) bahwa adanya pilihan-pilihan seringkali membuat kita aman dan nyaman; Xiang Yu dan Thariq Ibn Ziyad focus pada satu tujuan dengan mengeliminasi semua pilihan yang tersedia. Dengan itu, mereka menang.
Pada masa kini khususnya, dimana informasi overload dan tersedia banyak pilihan, manusia seringkali terjebak pada pengambilan keputusan yang terlalu lama (bingung oleh banyaknya pilihan), pada akhirnya justru tidak mengambil keputusan apapun, dengan demikian tidak bertindak apapun. Dalam behavioral finance, fenomena perilaku ini disebut sebagai ‘decision paralysis’ (kelumpuhan pengambilan keputusan) dan ‘status quo bias’ (kecenderungan untuk tetap dan tidak mau berubah).
Costs for Options on Investing
Dan Ariely, professor behavioral economics MIT yang menulis buku ‘Predictably Irrational’ mengisahkan sebuah eksperimen dalam bukunya. Dia menguji sejumlah mahasiswa MIT dengan sebuah game computer yg disebutnya ‘keeping doors open’. Dalam game tersebut tersedia tiga buah kelompok ruangan – green room, blue room, red room – dimana mahasiswa setiap kali melintasi sebuah pintu dalam salah satu ruangan maka dia mendapatkan point senilai sekian sen dollar. Peserta harus melintasi pintu depan (pintu masuk) bangunan tersebut dan berakhir di pintu keluar (pintu belakang) untuk menyelesaikan permainan. Professor Dan mengacak point di setiap pintu dalam setiap ruangan sedemikian sehingga tak peduli seorang mahasiswa memilih ruangan manapun untuk menyelesaikan permainan – hijau, biru, atau merah – maka point kumulatif setiap jenis ruang adalah hampir sama, dengan agregat tak sampai satu dollar.
Hasil riset ini sungguh menarik. Semua mahasiswa pada mulanya berusaha mencoba melewati seluruh pintu dalam semua ruang – green room, blue room, red room – untuk menemukan point mana yang lebih tinggi diantara ketiga jenis ruangan itu. Beberapa mahasiswa akhirnya mengambil satu kesimpulan bahwa ruangan biru, atau merah, atau hijau memiliki point cenderung lebih tinggi dan memutuskan tetap bermain di dalam salah satu jenis ruangan dan mengabaikan ruangan lain. Namun persentase yang lebih besar adalah mereka yang memilih berputar-putar beralih dari salah satu ruang ke ruang yang lain dengan harapan akan memperoleh kumulatif point paling tinggi. Karena Dan Ariely tidak menetapkan batas waktu permainan, maka setiap peserta bebas bermain sesukanya sampai akhirnya ia menyelesaikan permainan dan berhasil melintasi / keluar dari bangunan tersebut. Tentu saja, mereka yang memilih berputar-putar menempuh waktu lebih lama untuk menyelesaikan game ini.
Ketika pada akhirnya Dan menghitung point kumulatif setiap mahasiswa peserta eksperimen, tidaklah mengejutkan (ataukah mengejutkan bagi Anda) bahwa rata-rata point kumulatif peserta adalah 15% di bawah point kumulatif maksimal yang dapat dicapai.
Saya akan menjelaskan kesimpulan eksperimen Dan Ariely ini berdasarkan pengalaman saya dalam berinvestasi.
Dahulu kala saya sangat menikmati trading saham. Saya berpindah membeli dan menjual lebih dari satu jenis saham dalam sehari (bisa dua sampai empat saham dalam sehari, bergantung pada waktu yang saya miliki). Dalam sehari saya bisa menikmati gain lebih dari pendapatan normal saya dalam sebulan. Meski kadang kala juga merugi sama besarnya. Setiap malam, kecuali akhir pekan, saya menghabiskan waktu minimal dua jam untuk melakukan riset pergerakan volume dan indikator-indikator lain guna memutuskan saham mana saja yang esok harinya prospektif saya perdagangkan.
Hingga saatnya tiba saya memiliki bayi lelaki, dan saya memutuskan bahwa dua jam meluangkan waktu setiap malam demi anak saya jauh lebih penting daripada gain berapa pun yang saya dapatkan keesokan harinya. Saya memutuskan mengakhiri petualangan saya sebagai day-trader. Tak lama setelah itu, saya membaca dalam sebuah artikel tentang investasi dan menemukan fakta ini (yang mirip dengan hasil eksperimen Dan Ariely).
Perbedaan compounded average annual return antara Peter Lynch (the best mutual fund manager ever) dan George Soros (the best hedge fund manager ever) adalah hanya 1% selama masa karier mereka. Lynch adalah investor saham tipe value investing yang jarang berpindah dari satu saham ke saham lain, setelah paling tidak lima tahun, dan ia tidak menyukai baik instrumen derivatif maupun short-selling. Soros adalah tipikal Jack-of-All-Trade yang berinvestasi dalam semua jenis instrumen – futures, derivatif, dan currency- serta tak segan-segan melakukan short-selling. Lynch mencatat return 29%, dan Soros hanya 1% lebih tinggi yakni 30%, keduanya compounded average annual return. Sebuah agregat yang bagi saya tidak signifikan, sehingga menjadi alasan kuat buat saya untuk mengubah style investasi dari seorang day-trader (yang memiliki banyak pilihan saham untuk diperdagangkan setiap hari) menjadi seorang value-investor (yang memilih sedikit saham yang bernilai tinggi untuk dipegang dalam waktu paling tidak lima tahun).
Eksperimen Ariely dan pengalaman saya menegaskan bahwa tersedianya berbagai pilihan pada dasarnya mengarah kecenderungan pada hasil yang tidak optimal, terlebih lagi jika Anda bukan jenis orang yang tangkas dalam mengambil keputusan. Penderita ’decision paralysis’ dan ’status quo bias’ seringkali menemukan dirinya bingung dalam memilih diantara dua pilihan, apalagi ketika dihadapkan pada pilihan yang beragam.
Jesse Livermore, spekulator legendaris yang dijadikan panutan para trader bahkan telah mengingatkan pengikutnya,”The market does not beat them. They beat themselves, because though they have brains they cannot sit tight.”
Costs for Options in Politics
Apakah demokrasi adalah proses politik yang efisien? Dengan berat hati saya mengatakan tidak. Menggaji mahal anggota dewan perwakilan rakyat yg suka mangkir atau tidur di waktu sidang untuk menetapkan undang-undang baru, saya pikir suatu proses politik yang mahal. Juga tidak efektif ketika kerumunan orang-orang ini seringkali memperdebatkan perkara yang tidak substansial, sementara rakyat memerlukan kebijakan ekonomi nyata. Makin banyak jumlah anggota dewan, makin tidak efisien sebuah proses politik. Begitu pula dengan banyaknya partai, membuat demokrasi too costly. Ratusan milyar dibuang percuma untuk mencetak puluhan juta lembar kertas suara dan spanduk partai dan calon anggota legislatif, ketimbang untuk membangun infrastruktur jalan raya atau jaringan pengaman sosial.
Terlalu banyaknya pilihan dalam demokrasi mengaburkan prioritas dan fokus utamanya: keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat. Presiden dan lembaga pemerintah yang berwenang, tidak berani menempuh risiko seperti Xiang Yu dan Thariq bin Ziyad: membakar kendaraan-kendaraan partai dan menetapkan hanya ada tiga partai peserta election, sebutlah partai Bumi, partai Angin, dan partai Api (Earth, Wind, and Fire…seperti grup musik yah).
Adanya banyak pilihan partai juga membuat probabilitas pemilihan kepala daerah dan presiden harus diulang dua kali (dua putaran) demi meraih keunggulan suara (electoral treshold) mutlak dan meyakinkan. Secara behavioral economics, ini tidaklah efisien. Amat banyak dana kampanye dan pemilihan ulangan (putaran kedua) sebenarnya dapat dimanfaatkan lebih baik untuk kesejahteraan publik.
Saya ingat sewaktu saya mahasiswa pernah membaca buku seorang teman, karangan filsuf Erich Fromm, “Escape from Freedom”. Menurut Fromm, dalam demokrasi modern manusia dipersulit bukan oleh sedikitnya kesempatan, melainkan oleh terlalu banyaknya pilihan.
Costs for Options in Daily Life
Beralih dari contoh kasus pada investasi, saya akan memberi contoh bagaimana tersedianya banyak pilihan akan menggiring Anda pada biaya-biaya, baik tangible maupun intangible, yang tak terduga yang lebih besar daripada biaya seharusnya.
Isteri saya menyatakan akan membeli kamera digital baru, karena kamera digital lama milik saya baru-baru ini rusak. Ia memutuskan untuk melakukan sejumlah riset sebelum membeli: melihat situs bhinneka.com, melihat-lihat di setiap toko elektronik terbesar di kota kami, dan menyuruh saya melihat-lihat kamera di Mal Ambassador dan Mangga Dua saat saya berdinas ke Jakarta. Untuk semua risetnya ini, kami memerlukan waktu dua bulan sebelum akhirnya membeli kamera baru. Apakah cost for options dari kasus ini? Kami melewatkan banyak moment foto yang berharga selama masa dua bulan itu: piknik keluarga, anak kami pertama kali dapat berjalan tanpa bantuan orang tuanya, dan seterusnya.
Seringkali dalam mengambil keputusan diantara berbagai pilihan, kita mengabaikan ‘intangible costs ‘(biaya-biaya yang tak dapat dikuantifikasi secara nyata) dan ‘opportunity costs’ (biaya-biaya yang timbul karena hilangnya kesempatan). Padahal menurut ekonomi perilaku, dalam mengambil keputusan yang terbaik kita harus memperhitungkan opportunity costs dan intangible costs.
Procrastination = decision paralysis
Amos Tversky dan Eldar Shafir, profesor behavioral economics Stanford, melakukan eksperimen sebagai berikut. Mereka meminta tiga grup mahasiswa mengisi kuesioner yang panjang dan menawarkan $5 bagi mahasiwa yang mengumpulkan kembali kuesioner itu. Grup pertama diberi waktu 5 hari, grup kedua diberi waktu 20 hari (empat kali lebih banyak daripada pilihan grup pertama), dan grup ketiga tidak diberi waktu deadline (grup ketiga memiliki pilihan waktu yang tak terbatas untuk mengumpulkan kuesioner).
Nah, bagi Anda yang suka menunda waktu menyelesaikan tugas kerja, skripsi, atau thesis Anda, maka hasil riset ini akan berguna buat diingat.
66% grup pertama mengembalikan kuesioner tepat waktu dan mendapatkan seorang $5.
40% grup kedua mengumpulkan kuesioner tepat waktu dan mendapatkan $5 seorang.
25% grup ketiga mengumpul kuesioner setelah riset Tversky dan Eldar Shafir selesai, dan karenanya tidak seorang pun mendapatkan $5 (75% grup ketiga bahkan tak mengembalikan kuesioner).
Berapa kali Anda kehilangan kesempatan memperoleh benefit dalam hidup Anda (benefit tidak selalu dalam bentuk uang) karena menunda keputusan? I have seen many.
Kesimpulan pratolo.com
- Tanpa sepengetahuan manusia, adanya kebebasan dan pilihan-pilihan, justru menjauhkan mereka dari hasil yang optimal.
- Options cost more than we suppose to pay or cause we get less than we suppose to have.
- Sifat dasar manusia cenderung untuk menunda keputusan atau tindakan jika dihadapkan pada banyak pilihan.
© http://pratolo.com

December 13th, 2008 at 11:51 am
Manusia memang punya banyak kekurangan / kelemahan yg tak mereka sadari.
Allah memahami benar ciptaannya, sehingga ia menetapkan sejumlah aturan dan batasan.
Penelitian Tversky di atas sangat relevan dengan perintah shalat berjamaah di awal waktu yg diganjar dengan reward berupa pahala 27 kali lipat. Sedangkan mereka yg suka menunda waktu, tidak akan mendapatkan ‘benefit’ ini.
pratolo.com
Anda benar. Dalam konteks ini, seorang bijak bahkan pernah mengatakan,”Bekerjalah untuk duniamu seolah engkau hidup selamanya, dan beribadahlah untuk akhiratmu seolah engkau akan mati besok.”
Terima kasih telah berkunjung.
December 15th, 2008 at 3:40 pm
Hiyaaa…. semakin ketauan banyak penyakit nih saya, decision paralysis…
pratolo.com
Horee…aku bisa buka praktek jadi dokter…
March 24th, 2009 at 3:31 pm
wah PENULIS nya ini banyak melakukan riset di rumahnya yaa…
pak dokter pratolo pinter mendiagnosis nyonyanya yaa…DECISION PARALYSIS