Causes of Crisis: Derivatives, Massive Debt, and Excessive Leverage
Ini adalah salah satu artikel terpanjang pratolo.com, tapi anda akan mendapat wawasan yang setimpal dengan ketekunan anda menyimak artikel panjang yang penuh data grafis berikut ini, tentang penyebab krisis ekonomi global.
Reckless Derivatives
Inovasi tiada henti dan berlebihan bisa mematikan, bila inovasi ini dilakukan dalam sektor finansial. Inovasi dalam dunia keuangan bermula ketika para pelaku pasar finansial tak lagi puas dengan pasar saham dan obligasi. Instrumen investasi ‘tradisional’ yang ditemukan pada awal 1900-an ini dianggap terlalu kecil dan terlalu lama dalam memberikan imbal hasil.
Sepanjang sejarah finansial, instrument derivative semacam ini makin banyak ditemukan oleh pakar-pakar finansial yang pintar. Makin modern bentuk instrument derivative tersebut, maka makin kompleks karena melibatkan risiko dan probabilitas yang makin rumit kalkulasinya. Dunia finansial tak lagi sesederhana dulu ketika suatu asset dapat dihitung dengan kalkulasi cash flow yang dirintis Graham dan Dodd.
Figure 1 memperlihatkan perkembangan inovasi instrument derivative sejak awal 70-an. Beberapa diantaranya merupakan turunan dari instrument derivative lainnya (ingat dalam kalkulus, derivative = turunan).
Figure 1.The Evolution of Critical Derivatives
Jadi dalam dunia finance modern, dikenal instrument derivative tingkat satu, misalnya futures dan options, hingga instrument derivative tingkat kesekian. Saham dan Obligasi bukan derivative karena ia mewakili asset riil. Saham merupakan klaim kepemilikan atas asset riil suatu perusahaan, sedangkan obligasi merupakan
Figure 1 tidak memuat instrument derivative mutakhir seperti mortgage-backed securities, collateralized debt obligations, collateralized mortgage obligations, dan credit default swaps. Perdagangan empat instrument derivative terakhir itulah - yang merupakan turunan dari
Bingung dengan istilah-istilah di atas? Tak perlu malu, bahkan para pemain derivative ini pun tak sungguh-sungguh mengerti permainan yang mereka lakukan. “These firms closed their eyes and made very bad bets on risky securities that they didn’t truly understand. Investments that they did not have to make, led to their demise,” kata Jeremy Siegel, finance professor
Tapi baiklah,saya akan mencoba menjelaskan semua itu sesederhana mungkin.
Bank hipotik (KPR) yang mengkhususkan diri memberikan kredit untuk pembelian rumah (Bank KPR di
Fannie Mae dan Freddie Mac memberikan uang tunai pada debitur yang dikenai kewajiban cicilan utang pokok beserta pembayaran bunga. Sehingga uang tunai atau likuiditas bank hipotik ini berkurang. Sekarang Fannie Mae memegang
Yang dilakukan oleh Bank hipotik selanjutnya menerbitkan
Uang tunai hasil hutang dari bank investasi dipakai oleh bank hipotik untuk memberi kredit lagi kepada mereka yang membutuhkan rumah. Yang konyol, kredit ini dapat digunakan untuk membeli rumah kedua, ketiga oleh orang yang sama, sehingga potensi kredit macet bertambah besar. Lebih parah lagi, debitur ini dapat menggunakan rumah pertama, kedua, dan seterusnya sebagai jaminan untuk mendapatkan kredit dari bank lainnya. Hal ini berdampak menggelembungkan nilai asset property perumahan di
Bank-bank investasi memegang
Adapula instrument derivative ketiga, yakni credit default swaps (CDS). Bank investasi (Bear, Lehman) mengalihkan risiko kredit
Demikian seterusnya, sebuah rumah sebagai jaminan menghasilkan imbal hasil (setiap turunan
Anda berhak mencaci maki perilaku ceroboh para pelaku industri finansial ini, Charlie Munger, vice chairman Berkshire Hathaway dan teman karib Warren Buffet, mengejek mereka habis-habisan: “Wall Street is always going to go where the money is and not worry about the consequences. First they invent things they shouldn’t sell to anybody, then they end up selling them to their grandmothers.”
Warren Buffet di tahun 2003 telah meramalkan bahwa permainan instrument derivative seperti di atas akan menjadi ‘weapons of mass destruction’ yang semestinya ditakuti. Di tahun 1989, manajer reksadana terbaik sepanjang masa, Peter Lynch, juga telah menulis dalam bab 19 buku klasiknya, “One Up On Wall Street” khusus mengecam instrument Options dan Futures, serta praktek short-selling.
Jika instrument derivative telah dikenal dan dikembangkan sejak tahun 70-an, mengapa sekarang ini terjadi krisis finansial yang paling parah sejak Great Depression?
Good question!
Para pelaku investasi derivative
Mari kita ingat baik-baik peringatan Kurt Richebacher, ekonom senior Jerman terkemuka berusia 88 tahun,”Housing bubbles…entangle banks and the whole financial system as lenders, for this reason, as a matter a fact, property bubbles have historically been the regular main causes of major financial crises.”
Dalam sejarah, krisis ekonomi yang melibatkan perumahan dan bank pernah terjadi sebelumnya seperti yang telah saya ceritakan disini. Namun ekskalasi nilai dari krisis perumahan dan perbankan kali ini sangat luar biasa. Figure 2 memperlihatkan bahwa sebelum 1986, pendapatan perbankan yang berasal dari asset hipotik perumahan hanya mencapai 30% dari total earning asset. Tapi mulai 1987, rasio ini melonjak mencapai lebih dari 30%, dan puncaknya mulai 2004 mencapai lebih dari 60%.
Saya bukan orang perbankan, tapi saya coba bayangkan jika 60-70% asset dan likuiditas saya tiba-tiba saja menguap musnah karena credit defaults. Multiplier effect-nya jelas: ekonomi makro dan dunia usaha akan terimbas dahsyat.
Figure 2. Bank dan Asset terkait Hipotik
Apa sebab yang mendorong para pelaku pasar finansial ini berlaku ceroboh menciptakan inovasi derivative seperti itu? Jika derivative adalah api yang membakar sektor finansial (sekaligus sektor riil,) maka apakah bahan bakarnya?
Another good question!
Sebab pertama, terciptanya gelembung perbankan dan kredit perumahan ini didorong oleh suku bunga Federal Reserve yang amat rendah selama kurun waktu tersebut (sehingga orang bisa mendapatkan kredit dengan bunga murah). Sebab kedua terkait erat dengan sebab pertama, para pelaku pasar finansial berlebihan menggunakan hutang dan leverage. Sebab kedua ini adalah bahan bakar utama yang menyulut gelembung sektor keuangan yang luar biasa besar dan fantastis. Hutang dan leverage yang berlebihan ini, dimulai sejak awal 1990-an dan berlanjut hingga akhir 2000-an, digunakan oleh para pelaku pasar finansial untuk mendorong pertumbuhan dan meraih profit yang extraordinary.
Manakala manusia terus berusaha mencapai growth dan profit yang tidak berbatas, waspadalah, manusia telah terjebak pada keserakahan, dan keserakahan menuntun pada kehancuran. Baca tulisan saya disini.
Massive Debt and Excessive Leverage
Istilah debt tentu tak sing lagi kita, tapi istilah leverage ini perlu saya jelaskan lebih lanjut. Dalam dunia bisnis dikenal istilah leverage, yakni total asset dibagi ekuitas.
L = A / E.
Ekuitas adalah modal sendiri dari pemegang saham. Jika sebuah perusahaan berhutang kepada bank, maka total assetnya menjadi jumlahan dari ekuitas dan hutang.
A = E + D.
Maka L = (E + D) / E.
Makin besar jumlah hutang, maka makin besar leverage perusahaan tersebut.
Apa guna leverage ini? Dalam bisnis leverage digunakan untuk ‘mengungkit’ Return on Equity (ROE) atau tingkat imbal hasil terhadap ekuitas (saham) yang ditanam pada sebuah entitas bisnis. ROE = laba dibagi ekuitas. ROE inilah yang lazim dipakai oleh investor untuk menilai kinerja sebuah entitas bisnis. Hubungan antara ROE dan leverage dinyatakan dalam persamaan Du Pont, yakni
ROE = ROA x leverage.
ROA = return on asset atau tingkat imbal hasil terhadap asset.
ROA = laba dibagi total asset, menunjukkan sebagus apa manajemen dapat ‘memutar’ asset untuk menghasilkan laba. Sedemikian, Du Pont equation ini menjadi:
(laba / ekuitas) = (laba / total asset) x (total asset / ekuitas)
Dari persamaan ini menjadi gamblang bahwa leverage berguna untuk meningkatkan ROE. Dengan ROA yang sama, sebuah perusahaan dapat meningkatkan nilai tambah pemegang saham (ROE) dengan menaikkan leverage, yakni dengan berhutang.
Tapi, sebesar apa hutang dan leverage ini baik untuk sebuah entitas bisnis?
Hutang dalam jumlah yang wajar adalah baik untuk bisnis. Hutang dalam batas yang sehat akan mendorong pertumbuhan. But massive debt and excessive leverage will lead you to a catastrophe.
Saya beri contoh terbaru: perusahaan Grup Bakrie. Terlilit hutang dalam jumlah amat besar demi mendongkrak kinerja perusahaan dimata investor, Bakrie tak sanggup melunasi tepat waktu, sampai akhirnya ia menggadaikan saham-saham anak perusahaannya, bahkan terpaksa menjual sebagian besar sahamnya di Bumi Resources (BUMI), Bakrieland Property (ELTY), dan Bakrie & Brothers (BNBR) saham perusahaan induknya sendiri.
Jangan pernah lupa, massive debt juga menyeret Indonesia ke dalam krisis finansial 1998 sebagai akibat hutang sektor swasta yang berlebihan dalam bentuk dollar. Maka ketika rupiah jatuh terhadap dollar, hutang ini segera saja menjadi bencana moneter.
Sama halnya dengan sebuah entitas bisnis, sebuah negara juga harus berhati-hati dan tidak boleh berlebihan dalam berhutang. Jika dalam perusahaan jumlah hutang dibandingkan dengan jumlah ekuitas, maka dalam negara jumlah hutang dibandingkan dengan Produk Domestik Bruto (GDP).
Figure 3 memperlihatkan perbandingan total hutang terhadap GDP US. Tahun 1929-33 manakala terjadi malaise (Great Depression), rasio total hutang US terhadap GDP melonjak bak roket dari 176% di 1929 mencapai 287% di 1933. Setelah itu Presiden Franklin D.Roosevelt menetapkan paket ekonomi New Deal yang salah satunya mendevaluasi US dollar 40% sehingga nilai hutang dapat menurun di tahun-tahun berikutnya. Setelah itu, 1933-87, rasio ini masih dapat dianggap normal (rasio hutang/GDP 120% dianggap normal untuk negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi seperti US, Jepang, dan China). Saat Alan Greenspan mulai menjadi Ketua Federal Reserve di 1987, total hutang swasta dan pemerintah US mencapai $ 10,5 triliun. Selama kepemimpinan Greenspan, total hutang swasta dan pemerintah berlipat empat menjadi $ 43 triliun, atau setara 335% (total hutang = 3,35 x GDP). Fantastic (almost) Four(fold) !
Figure 3. Gelembung Hutang Amerika
Rasio di atas tidaklah mengherankan, manakala membaca buku autobiografi Alan Greenspan, ’The Age of Turbulence’, pada bab yang khusus membahas hutang dan neraca transaksi berjalan, Greenspan berpandangan bahwa dalam ekonomi pasar, hutang dan defisit neraca bukanlah persoalan yang perlu dicemaskan selama ekonomi dapat bertumbuh. Selama masa jabatannya, pemerintah US memberi kebebasan pada pelaku pasar berupa sejumlah deregulasi ekonomi yang kondusif bagi peningkatan hutang dan pemakaian leverage. Salah satunya Greenspan mendukung bahwa hedge fund tidak perlu diatur dan tetap dibebaskan memutar asset tanpa batasan regulasi pemerintah. Mbah Greenspan juga mengakui bahwa bilamana dahulu perbankan cukup berhati-hati dengan jumlah ekuitas dua per lima (artinya hutang mencapai 60% asset), maka memasuki tahun 2000-an perbankan telah percaya diri dengan ekuitas hanya sepersepuluh (artinya hutang mencapai 90% asset) !
Tapi bagaimana jika ekonomi mengalami kontraksi, atau bahkan minus? Apakah kebijakan utang yang berlebih demi mendorong pertumbuhan ekonomi ini sepadan dengan risikonya?
Peter L.Bernstein dalam bukunya,”Against the Gods: the Remarkable Story of Risk”, menuturkan kisah tentang pertaruhan Pascal (Pascal’s Wager). Matematikawan dan filsuf Prancis, Blaise Pascal, mengajukan pertanyaan: “God is, or He is not?”
Mana yang akan anda yakini, Tuhan itu ada atau tidak?
Pertanyaan Pascal ini memberi pelajaran fundamental dalam proses pengambilan kebijakan. Anggap bahwa Tuhan itu ada, sehingga selama hidup anda berbuat baik dan menahan diri (life of virtue and abstinence), anda akan kehilangan beberapa kebebasan dalam hidup (sex bebas misalnya), kemudian anda mati dan ternyata Tuhan benar-benar ada, maka anda tidak akan menyesal, sebab surganya sudah tersedia sebagai balasan semua amal baik dan iman anda.
Anggap Tuhan tidak ada, sehingga anda berbuat semau anda dalam hidup penuh nafsu serta dosa, kemudian anda mati dan ternyata Tuhan benar-benar ada, maka saat itulah anda akan menghadapi persoalan besar. Pascal bermaksud mengingatkan kita: in making decisions under conditions of uncertainty, the consequence must dominate the probabilities, because we never know exactly the future. Probabilitas bahwa Tuhan itu ada atau tidak ada, secara matematis masing-masing 50%. Tapi eksperimen pikiran Pascal ini menyarankan agar manusia bertuhan, karena konsekuensi harus lebih didahulukan daripada probabilitas.
Ide dasar Peter Bernstein adalah
(1) anything can happen, we do not and cannot know the future
(2) whether you should take a risk depends not just on the probability that you are right but also on the consequences if you are wrong.
Dalam konteks hutang dan instrument derivative, ada probabilitas bahwa keduanya akan membawa kita ke dalam kemakmuran dan kejayaan; tapi kita harus mengutamakan konsekuensi, bahwa jika skenario kita gagal, maka konsekuensinya adalah sebuah malapetaka. Krisis kali inilah buktinya.
Alan Greenspan berhasil membawa US mencapai pertumbuhan ekonomi terpanjang dalam sejarah US di bawah masa presiden Clinton, yakni 120 bulan, berkat kebijakan ekonomi pasar bebasnya. Tapi ia dan para pelaku pasar yang terlarut dalam suka cita pertumbuhan ekonomi pasar bebas, terlupa akan konsekuensi bilamana economic bubble ini meledak.
Sesungguhnya manusia, sepintar apapun dia, memiliki memori yang amat pendek ketika berada dalam keadaan suka cita (ini salah satu sifat perilaku ekonomi manusia). Para ekonom pintar itu seharusnya ingat ledakan bubble ekonomi Jepang tahun 1989 dan ledakan bubble ekonomi Asia tahun 1998. Kedua ledakan ini memiliki ciri yg sama: “each downturn was preceded by a period of non-inflationary growth exuberant enough to lead many commentators to suggest that a ‘new era’ had arrived.”
Ledakan gelembung ekonomi ini sebenarnya telah diperkirakan oleh beberapa ekonom lain, yang berada di luar lingkar pemerintahan US. Januari 2007, Kurt Richebacher menulis bahwa “measured by its level of indebtness, today’s US economy is the worst bubble economy in history.” Lihat kembali figure 3.
Ketika bicara ekonomi, maka kita perlu melihat sektor. Pertanyaan berikutnya, gelembung di sektor ekonomi manakah yang menyebabkan ekonomi meledak?
Figure 4 memperlihatkan sektor mana yang menjadi pengutang terbesar sekaligus terpesat ekonomi US. Sektor financial domestic penjadi pengutang terbesar di 2006 dengan $14 triliun, diikuti oleh sektor rumah tangga dengan $12 triliun. Sektor lain jauh tertinggal dalam jumlah. Bagaimana dengan pertumbuhan hutang? Lagi-lagi sektor financial domestic memimpin dengan pertumbuhan hutang di 2006 empat kali dari hutang tahun 1994, atau tumbuh 400% dalam satu dekade. Peringkat kedua adalah sector rumah tangga dengan pertumbuhan hutang di 2006 tiga kali dari hutang tahun 2006, atau tumbuh 300% dalam satu dekade. Peringkat ketiga adalah sector nonfinancial atau manufaktur dengan pertumbuhan 235% dalam satu dekade.
Figure 4. Debt Outstanding by Sector
Untuk apa masing-masing sektor itu berhutang, sehingga jumlahnya melonjak spektakular?
Dalam sektor manufaktur, hutang ini digunakan sebagai leverage dalam investasi atau belanja modal. Hutang ini digunakan untuk membeli mesin baru, untuk meningkatkan kapasitas produksi, untuk riset dan pengembangan produk baru, untuk membuka pasar baru, dan seterusnya.
Dalam sector rumah tangga, hutang ini digunakan untuk konsumsi dan membeli asset property. Statistik Federal Reserve menunjukkan bahwa dalam rumah tangga US, kini kecenderungan menabung menurun, sementara kecenderungan konsumsi (diantaranya melalui credit card) meningkat pesat.
Dalam financial sector, hutang ini digunakan sebagai leverage untuk menggelembungkan profit dan imbal hasil, salah satunya melalui investasi derivative yang telah dijelaskan di awal. Selama 1990 – 2007 jumlah hedge fund tumbuh spekatuler dari hanya berjumlah dua ratusan menjadi ribuan firma hedge fund. Asset hedge fund ini melonjak dari semula hanya beberapa ratus miliar dollar di 1997 menjadi 1.81 triliun dollar di 2007. Dibanding dengan total GDP Indonesia 2007 yang 4000 triliun rupiah, asset hedge fund ini melebihi total produksi domestik bruto Republik Indonesia.
Hedge fund adalah firma investasi tertutup yang bertujuan mengelola kekayaan sejumlah orang tertentu atau sejumlah institusi tertentu, dalam sejumlah instrument investasi seperti saham, surat hutang, currency, dan berbagai instrument derivative yang telah saya sebutkan di awal. Money makes money by any instruments, itulah tujuan keberadaan hedge fund.
A Financial Bubble Explosion
Akhirnya sampai juga kita di penghujung artikel panjang kali ini.
Figure 5 (saya menjamin bahwa ini adalah gambar terakhir), akan menjawab pertanyaan, ”Sektor ekonomi manakah yang menyebabkan gelembung ekonomi US, setelah pertumbuhan mengagumkan sepanjang 120 bulan, akhirnya meledak berkeping-keping?”
Ekonomi akan meledak manakala sektor finansial tumbuh berlebihan mengalahkan sektor manufaktur dan jasa-jasa non-financial. Hal ini terjadi manakala suatu kebijakan ekonomi ditujukan untuk semata-mata menciptakan kemakmuran tanpa didukung oleh pertumbuhan sektor produksi barang dan jasa.
Tabel pada Figure 5 menunjukkan bahwa sejak 1950 – 2005, sektor manufaktur menurun drastis dari 29,3% menjadi hanya 12% GDP. Sementara sejak 1950-2005 sektor jasa keuangan melonjak dua kali lipat dari 10,9% menjadi 20,4% GDP.
Perhatikan bahwa mulai tahun 1990 kedua sector ini berbalik arah dalam kontribusinya terhadap GDP. Grafik pada Figure 5 menampilkan profit perusahaan-perusahaan US setelah tahun 1997 didominasi oleh sektor jasa keuangan. Dari grafik ini tersirat bahwa profit margin sektor manufaktur terus tergerus dan menurun sebagai akibat dari kemajuan teknologi dan ketatnya kompetisi, sementara profit margin sektor jasa keuangan melonjak sebagai akibat transaksi derivative yang bersifat spekulasi. Anomali ini akhirnya harus diakhiri oleh krisis financial 2008. Gelembung financial itu kini akhirnya pecah.
Demikanlah anatomi krisis finansial global 2008. pratolo.com sengaja tidak memperpanjang artikel ini dengan kesimpulan. Tulisan saya ini dedikasikan untuk pionir ekonomi syariah, serta masyarakat yang terimbas krisis di seluruh dunia. This global crisis costs too expensive for all of us, make sure you learn something. []
Further Readings:
1. Bad Money, Kevin Phillips, 2008 (semua data grafis diambil dari buku ini)
2. The Age of Turbulence, Alan Greenspan, 2007 (sebuah buku’pengantar’ ilmu ekonomi yang amat bagus, karena tidak hanya menunjukkan bagaimana model ekonomi yang berhasil, tapi juga bagaimana model ekonomi itu bisa gagal)
3. Against the Gods: the Remarkable Story of Risk, Peter L.Bernstein, 1996 (buku wajib untuk subjek risk management)
4. One Up on Wall Street, Peter Lynch, 1989 (buku wajib bagi investor saham jangka panjang, oh ya saham adalah asset riil)






December 19th, 2008 at 11:04 am
Memang, panjaaaaang bener ini artikel…. Meski termehek - mehek bacanya penuh kosakata financial. Hiks… nasib
pratolo.com

Jangankan dikau Mee..aku pun teler menulisnya, mengelaborasi 3 buku menjadi satu postingan
Coba bayangkan dirimu merangkum Twilight, New Moon, dan Eclipse menjadi satu cerita
Trims telah tekun menyimak
December 20th, 2008 at 9:33 pm
wiihhh.. komprehensif banget neh kang, dikit2 ane masih nyatol lah,
jd kesimpulannya, apa yg bisa dilakukan individu2 kaya kita ini kang?
pratolo.com
hm.. salah satu kesimpulannya, kita mesti mendukung bisnis riil yg menghasilkan produk barang dan jasa
diantaranya website2,blog2, piranti2 lunak (termasuk website belajarngeblog)
kebetulan hari2 ini “industri kreatif” sedang didukung gov’t
nah..,jika blognya udah bisa menjadi mesin uang,maka tawarkanlah sahamnya kpd publik
seperti Google,Yahoo!,Facebook,dsb
begitu kira2 mas
December 22nd, 2008 at 12:01 pm
You should write an ebook
pratolo.com
Really? Perhaps later. I do write a book someday.
Thanks for dropping by.
December 22nd, 2008 at 8:31 pm
Blog yang menarik Mas Pratolo. Salam kenal.
December 22nd, 2008 at 10:48 pm
Saya perlu menambahkan beberapa data dari Harian Bisnis Indonesia yg saya baca hari ini,Senin 22 Des.
Ditulis oleh profesor saya, Mudrajad Kuncoro,yg juga Chief Economist PT Recapital Advisors, berjudul Menunggu Kebijakan Pro Industri Nasional.
Artikel tsb makin menyadarkan saya betapa pentingnya sektor industri manufaktur (produksi barang dan jasa), karena industri nasional masih jauh dari harapan, dan republik ini menyimpan potensi daya saing industri yg luar biasa, mengalahkan negara asia tenggara lainnya. Berikut ini kendala industri kita.
1. Sangat tingginya impor bahan baku, bahan antara, dan komponen pendukung. Ini salah satu faktor mengapa melemahnya rupiah tidak langsung mendorong kenaikan ekspor secara signifikan.
2. Lemahnya penguasaan dan penerapan teknologi. Kebanyakan industri manufaktur nasional adalah tukang jahit dan tukang rakit.
3. Problem ketenagakerjaan,yakni rendahnya kualitas SDM, tingkat pekerja sektor informal yg tinggi, dan regulasi buruh. (Penetapan pesangon 9 bulan gaji adalah konyol utk para pebisnis. Begitu parahkah lapangan kerja,sehingga buruh dianggap menganggur 9 bulan setelah di PHK sebelum mendapat pekerjaan baru?)
4. Konsentrasi industri di Jawa dan Sumatera = tidak meratanya pembangunan infrastruktur.
December 23rd, 2008 at 11:23 pm
Intinya paper economy sucks ya. Tapi tetap menarik dipelajari sih. Saya cuman iseng-iseng aja baca bukunya Hull dan Duffy. Benar2 takjub saya, PDE yang saya pakai untuk menyelesaikan permasalahan2 engineering ini bisa buat bikin duit ternyata.
pratolo.com
Not just PDE. Everything can make money.
But money cannot make everything.
January 1st, 2009 at 9:45 am
Baca artikelnya mas Pratolo bisa “mendem” sendiri.
Mendem bagi eyang yang sangat awam terhadap ekonomi.
Agaknya ini njawab pertanyaan eyang dulu ya?
Kalau krisis finansial itu cycle, maka root causenya adalah serakah. betul nggak mas Pratolo?
Saya setuju dengan salah satu pendapat temenku SMA, Prof Mudrajat, kalau kualitas SDM kita sangat lemah (bandingkan dengan serumpun kita, Malaysia, sangat jauh).
Menurut saya, ini faktor utama yang harus segera dibenahi,mulai sekarang. Sektor pendidikan harus menjadi prioritas utama bagi negara ini, bagi penyelenggara maupun pengawasnya. Dana pendidikan dari tingkat TK,SD,SMP,SMA,Kejuruan,PT harus ditingkatkan (dengan kata lain dana rakyat jangan hanya dipakai untuk hal-hal yang kurang berguna, seperti contoh study banding ke luar negeri, gaji selangit para penyelenggara dan pengawas negara, dll).
Keep writing friend.
pratolo.com
Betul mbah, kapitalisme pasar bebas tanpa rambu-rambu yg mampu mengendalikan sifat dasar manusia (antara lain: serakah) akan berujung pada kehancuran. Salah satu contoh kasusnya: Perusahaan besar akan cenderung mencaplok semua perusahaan dalam sektor yg sama, tanpa adanya undang2 anti-monopoli. Yg keliru bukan pada kata ‘kapitalisme’, atau ‘pasar’, tapi pada kata ‘bebas’. Insya Allah akan saya bahas perihal sistem ekonomi ini dlm tulisan lain.
Mayoritas kualitas SDM kita memang lemah, sehingga secara rata-rata kualitas SDM kita tertinggal dibanding beberapa negara ASEAN lain. Yang ironis, sebagian besar anggaran rutin pemerintah untuk sektor pendidikan (gaji pegawai) dihabiskan untuk pegawai negeri non-guru (pegawai tata usaha dsb), karena jumlah pegawai non-guru >> guru.
Oya mbah,salam untuk Prof Mudrajad kalau ketemu pas reunian
January 4th, 2009 at 9:16 am
buat pratolo.com ulasan yang sangat mendetail. terima kasih
pratolo.com
terima kasih atas kujungan anda.
January 28th, 2009 at 12:17 pm
Mr. Pratolo ini artikel yang bagus lumayan mudeng en berbelit2 jadi yang baca juga seneng… sukses selalu Mr Pratolo.
Rgd, Vina
pratolo.com
Terimakasih telah meninggalkan komentar dan membaca.
Saya senang bisa turut memberi edukasi finansial masyarakat kita.
February 3rd, 2009 at 3:36 pm
kupas lengkap.
menggugah semangat.
lalu…..????
ditunggu.
rgd, sgt
February 5th, 2009 at 11:02 am
Saya baru saja mengenal website ini secara tidak sengaja…dan so far saya very impressed dengan bahasa Anda yg simple dan mudah dimengerti dalam menerangkan konsep-konsep Financial/Investments yang sebenarnya complicated…mantap Pak!
Saya juga suka artikel Anda yg mengulas “The DiP”…saya tunggu artikel-artikel “berisi” berikutnya ya Pak….sukses selalu
Btw, pernah terpikirkan unt menerbitkan buku Pak? Saya pesan duluan..hehe
pratolo.com

…”secara tidak sengaja”…? Semoga berkat google, karena itu berarti usaha saya membaca berbagai buku tentang Search Engine Optimization tidak sia-sia
Bahasa saya simple karena sejatinya konsep finansial dan investing itu simple, dan kebetulan saya bukan jenis orang yang suka ruwet-ruwet
Terimakasih atas kunjungan Anda, jika ada sumur di ladang, saya akan sempatkan menulis buku suatu hari.
February 6th, 2009 at 1:45 pm
Betul Pak…”secara tidak sengaja”…saya baru mulai tertarik dengan investasi saham akhir2 ini saja…dan menurut saya pada mulanya investasi saham itu seperti judi…kemudian saya baca artikel Bapak soal “why invest di saham”…mantap banget…membuka mata saya bahwa investasi saham di pasar modal is not gambling…if only we know HOW….Sayang sekali baru saja ikutan masuk awal Des 2008 lalu, kemudian ada kasus Sarijaya Sekuritas yg membuat saya sangat deg2an dengan bonafiditas perush2 sekuritas yg terdaftar di BEI dan lemahnya perlindungan BAPEPAM terdahap investor…btw serius Pak…saya tunggu banget bukunya…
pratolo.com
Anda beruntung mulai investasi pd saat harga saham murah / pd harga wajar / tidak terdistorsi oleh kegilaan market.
Buka account di sekuritas yg secure, seperti Danareksa (bukan iklan loh), atau Trimegah.
Kekurangan Danareksa adalah mereka kurang care pd nasabah retail (biasa ngurusi dana pensiun sih).
Utk buku, wah Bpk harus nunggu lama jika mau baca buku saya hehe, karena masih sibuk yg lain nih.
Tp jika Bpk mau, saya bisa kirim ebook yg sangat bagus utk investor pemula: “Getting Started in Value Investing”
February 9th, 2009 at 5:42 pm
Dengan senang hati Pak, please email me ya Pak e-book yg dimaksud, saya tunggu…
Saya juga email Bapak directly…karena ada beberapa pertanyaan..tetapi I don’t mind lho Pak kalau Bapak lebih suka saya posting di sini..tadinya saya pikir karena pertanyaan dan komentar saya lumayan banyak….saya pilih email Bapak langsung. Terima kasih Pak Pratolo….salam sukses selalu.
pratolo.com
e-book sudah saya kirim.
pertanyaan lainnya akan saya coba jawab disini suatu saat.
terimakasih.
February 16th, 2009 at 8:20 am
Terima kasih banyak Pak, e-book sudah saya terima.
February 28th, 2009 at 9:42 am
Sama jg nih, kebetulan nyasar sini. bagus banget ulasannya. tar sering2 mampir deh! ga nolak juga dikirim e-booknya. oya daftar buku diatas,susah dapet euy! makluw di tw susah cari buku yg pake ABCD! Keep posting bro!
pratolo.com
Terima kasih atas kunjungannya.
Saya biasa beli buku-buku cetakan baru di amazon.com sejauh ini memuaskan selalu sampai tujuan
Jika anda beruntung, bisa mendapatkan ebook yg anda cari di http://scribd.com
April 3rd, 2009 at 5:39 pm
hmm….mumet..tp applous bwt pratolo.com. pada waktu baca leverage-nya negara, antara utang dg PDB, lgs kubuka Media Indonesia, terbitan 3 April 09, hal 13. disitu ada utang per kapita, total utang negara dibandingkan per kepala penghuni indonesia. LHa ini bedanya apa pak bos? apa dlm kasus utang per kapita itu jg masuk kategori leverage (ada yg mengartikan leverage ini sbg faktor pengali ato penguat).
Oia, trs terang bang, saya org IT, jd bacanya jg mesti pelan2… hehehe
pratolo.com
Total utang per kapita digunakan para jurnalis utk menggambarkan besaran utang thd kemampuan income per kapita.
Misal jika utang per kapita = 10 juta, sedangkan income per kapita = 5 juta, maka diperolah gambaran bahwa hutang negara itu cukup mengkhawatirkan.
Setahu saya hutang per kapita jarang digunakan oleh para ekonom (sy sendiri bukan ekonom, mumet hehe).
May 13th, 2009 at 5:43 pm
America hancur karna utang, utang yang terus bertumpuk dan perdagangan yang tidak punya dasar dan semu.
Pertumbuhan ekonomi besar tapi tidak nyata
pantas saja negara lain susah kejarnya negara penghutang dan pemalas.
January 15th, 2010 at 9:46 pm
Wah artikelnya bagus sekali,saya jadi ingat tentang kasus di daerah saya .Hanya karena ingin mendapatkan keuntungan besar tanpa harus kerja ,sehingga orang2 berlomba lomba menginvestasikan uangnya tanpa melihat usaha sektor riilya dan akhirnya kolaps….
yang saya heran kenapa orang2 berbuat begitu? padahal tidak hanya orang awam saja bahkan sampai pejabat2 yang punya pendidikan tinggi….?
pratolo.com
keputusan investasi sebagaimana keputusan konsumer lain, tidak dipengaruhi (sepenuhnya) oleh tingkat pendidikan.
sebagaimana yg pernah kita dengar anggota2 dpr raib investasinya krn ditipu perush investasi antah berantah.
keputusan investasi terkait dengan salah satu elemen dasar manusia (faktor psikologi) yakni greed.
dan ketamakan saya rasa tidak berkorelasi lurus dengan tingkat pendidikan.
justru mungkin sebaliknya, makin pintar orang, makin tamak.