The Dip, Rahasia Sukses Bisnis dan Investasi Anda
Anda mungkin sering mendengar petuah ini: “Orang yang berhenti tidak pernah menang. Sebaliknya para pemenang tidak pernah berhenti.”
Lupakanlah petuah buruk itu.
Bill Gates, memilih drop out dari Harvard pada tahun kedua kuliahnya (1975), kita semua tahu untuk apa, dan 32 tahun kemudian ia memperoleh honorary degree dari Harvard berkat sukses Microsoft.
Michael Crichton menyelesaikan studi kedokterannya di
Saya dapat memberi lebih banyak lagi contoh orang-orang yang berhenti untuk sukses dan menjadi pemenang. Tapi saya memilih untuk berhenti melakukannya.
Ya, realitanya kebanyakan orang berhenti begitu saja. Akan tetapi mereka berhenti tanpa hasil. Lawan dari para pemenang, mereka ini adalah pecundang.
Anda pasti pernah mendengar istilah ’Quitter’. Ya, mereka inilah yang suka mencoba hal-hal yang baru, tapi langsung menyerah sebelum mendapatkan hasil setimpal, hanya karena menemukan kesulitan atau hambatan.
Adalah Paul G. Stoltz, Ph.D yang menulis buku Adversity Quotient (1999), pertama kali memperkenalkan tiga istilah berikut: Quitter, Camper, dan Climber.
Untuk memahami tiga istilah di atas mari kita lihat gambar 1 yang saya ambil dari buku Seth Godin berjudul The Dip (2007). Dip dalam kamus
Pada saat anda mulai menyukai sebuah aktivitas (tennis, fitness, etc) anda amat bersemangat.
Pada saat anda mulai memperkenalkan sebuah produk baru ke pasar anda amat antusias.
Pada saat anda mulai berinvestasi di pasar saham anda amat optimis.
Inilah gundukan pada gambar pertama.
Anda bisa melakukan forehand dan backhand dengan baik. Produk anda mulai diterima pasar. Investasi anda mendapatkan imbal hasil tinggi. Anda merasa bahwa effort anda memperoleh result yang sepadan. Anda puas.
Tapi kemudian muncul kesulitan-kesulitan dan hambatan-hambatan:
Anda terlalu sibuk untuk berlatih tenis secara rutin untuk menyempurnakan backhand slice dan pukulan spin anda.
Produk baru anda mulai mendapat pesaing sehingga penjualan tumbuh lambat.
Indeks harga saham jatuh dan portofolio anda minus.
Inilah cekungan pada kurva di atas. Inilah The Dip.
Dan anda mulai berpikir.
Quitter akan berhenti tepat pada mulai terjadi cekungan.
Camper akan berhenti di tengah-tengah cekungan. Mereka cukup puas dengan ‘berkemah’ di ‘lembah’ dan enggan mendaki lebih jauh.
Climber tidak putus asa, menyukai tantangan, mampu melihat jauh ke depan, dan memutuskan untuk terus mendaki ke puncak. Inilah para penakluk Mount Everest. Inilah para brand pemenang. Inilah Warren Buffet.
Oh begitu. Baiklah saya tidak akan pernah berhenti. Saya akan terus mendaki.
Hei, nanti dulu. Tidak semua pekerjaan memiliki the Dip.
Seth Godin memperkenalkan gambar kedua ini.
Kuldesak adalah permasalahan di mana anda terus berusaha keras namun hasilnya tidak pernah menjadi lebih baik (stagnan). Ingat ini adalah jalan buntu. Anda tidak pernah akan sukses.
Bukit terjal adalah situasi di mana anda bekerja keras dan hasil membaik sedikit demi sedikit, sebelum akhirnya gagal. Ini jarang terjadi tapi amat menakutkan.
Untuk menjadi pemenang, kuncinya adalah mengidentifikasi mana persoalan yang merupakan Dip, mana yang Kuldesak, dan mana yang Bukit Terjal.
Jika anda menemukan suatu pekerjaan yang layak dilakukan, mungkin ada Dip disitu.
Mengapa Ada Dip?
Dip adalah rahasia sukses.
Dip menyaring para pesaing anda (Quitter dan Camper), yang berkemampuan rata-rata.
Mereka yg sukses melewati Dip akan menjadi yang terbaik di bidangnya.
Dip menciptakan kelangkaan. Kelangkaan itu sendiri menciptakan nilai.
Dalam konteks agama, anda tidak akan dianggap beriman sebelum terbukti mampu melewati cobaan.
Dip adalah cobaan itu.
Pernah seorang teman mahasiswa pascasarjana saya menyatakan ingin berhenti pada saat tugas dan paper kuliah menjadi semakin sulit. Seorang teman lain justru ingin berhenti pada saat thesis dia tidak menunjukkan kemajuan berarti. Seorang teman lainnya telah lama berhenti pada saat semester pertama dimulai. Mana di antara ketiga jenis orang ini yang paling cerdas menurut anda?
Menurut Seth Godin, orang jenis ketiga inilah yang paling cerdas, karena ia telah berhasil mengetahui saat yang tepat untuk berhenti. Seorang pelari marathon yang berhenti di kilometer ke-30 tanpa alasan yang jelas adalah pelari yang bodoh. Pelari yang berhenti di kilometer ke-2 adalah pelari yang cerdas. Pelari yang berhenti di garis finish (kilometer ke 42.195 ) adalah pemenang.
The Dip on Business
Rahasia sukses Jack Welch ketika membangun General Electric adalah: “Jika tidak dapat menjadi nomor satu atau nomor dua, kita harus keluar.”
Meskipun Jim Collins menilai Jack Welch bukan seorang yang memiliki Level-5 Leadership, tak dapat dipungkiri bahwa Jack adalah seorang genius bisnis di abad 20. Untuk apa sih harus menjadi nomor 3, 4 dan seterusnya bila hal itu mengganggu focus manajemen untuk menjadi perusahaan yang terbaik di bidangnya. Hal ini akan menyerap banyak sumber daya, modal, waktu, dan energi. Lebih penting lagi bagi Jack Welch, divisi seperti itu akan mengajari anggotanya bahwa tidak apa-apa jika menjadi medioker.
Saya pernah mengenal sebuah team terbaik dalam suatu perusahaan. Mereka terdiri atas marketer, supply chain officer, operation officer, dan akuntan yang terbaik di perusahaan tersebut. Mereka adalah sebuah team yang berusia muda, namun resultan dari kinerja mereka adalah penjualan setahun yang menghasilkan operating margin 34%. Dibandingkan operating margin perusahaan induk mereka yang hanya 10%, team ini adalah yang terbaik. Akuntan team ini, yang merupakan akuntan terbaik di perusahaan itu, bermaksud untuk berhenti. Dan keinginan itu menular kepada rekan-rekannya. Team ini terancam bubar. Masa depan SBU yang mereka kelola juga terancam bubar (SBU ini pernah ditangani oleh team lain, dan kinerjanya amat jauh dengan team ini). Apa yang sebaiknya dilakukan oleh team ini?
Seth Godin menyarankan anda mengajukan 3 pertanyaan sebelum anda memutuskan untuk berhenti:
Pertanyaan 1: Apakah saya sedang panic?
Berhenti ketika sedang panic merupakan hal berbahaya dan mahal. Investor yang panic dan menjual sahamnya di harga berapa pun, melakukan hal yang berbahaya dan mahal ongkosnya.
Orang-orang yang berhenti dengan cerdas, adalah mereka yang memutuskan sejak awal kapan saat berhenti. Seorang trader saham yang cerdas tidak akan berhenti pada saat indeks telah mencapai Dip.
Jangan pernah mengambil keputusan strategis pada saat anda panic.
Pertanyaan 2: Siapakah yang sedang berusaha saya pengaruhi?
Cara terbaik untuk mengenali apakah sebuah pekerjaan memiliki Dip yang menuntun pada sukses (kurva menanjak tajam), adalah dengan memandang jauh ke depan.
Pada kasus team di atas, anggota sebaiknya tidak usah berfokus pada pengakuan internal. Team ini terbukti telah berhasil memengaruhi pasar, memengaruhi konsumen. Pasar dan konsumen jauh lebih penting dan jauh lebih langgeng dalam bisnis. Jadi, seharusnya team ini tidak berhenti. Pandang jauh ke depan ketika produk yang mereka rancang, mereka produksi, dan mereka pasarkan telah menjadi market leader. Pada saat ini terjadi, perjuangan mereka untuk melewati Dip, mereka akan menemukan sukses sejati.
Pertanyaan 3: Kemajuan teratur seperti apa yang sedang saya buat?
Pikirkanlah apakah saya sedang menghadapi kurva Dip, atau kuldesak, atau bukit terjal.
Jika anda memiliki sebuah bisnis baru yang sedang melayani sejumlah kecil pelanggan dengan baik, tidak apa-apa untuk terus mempertahankannya, karena seiring waktu para pelanggan tersebut akan mengundang pelanggan lainnya. Sebaliknya, jika anda sudah merasa melakukan berbagai macam usaha, namun para pelanggan anda tidak bertambah atau malah berkurang, mengapa anda tetap mempertahankan bisnis itu?
The Dip on Investing
Sesungguhnya pasar saham adalah benar-benar The Dip. Perhatikan dua gambar indeks di bawah ini.
Indeks Dow Jones menunjukkan bahwa setiap beberapa periode yang acak, bullish dan bearish terjadi bergantian. Asalkan anda memiliki strategi investasi yang baik dan disiplin melakukannya, anda akan berhasil melewati Dip yang berceceran sepanjang perjalanan dan menuju ke puncak indeks.
Gambar Jakarta Composite Index 1997-2009 lebih menarik lagi. JCI telah membentuk Dip pada masa krisis 1998 hingga masa dot com crash 2002. Mulai 2004 hingga 2008 JCI mengalami masa pasca-Dip, untuk kemudian kembali membentuk Dip di akhir 2008 sampai saat artikel ini ditulis.
Investor bertipe Quitter, memutuskan menjual rugi seluruh asset mereka.
Investor bertipe Camper, memilih wait and see, menjual tidak, membeli lagi juga tidak.
Investor bertipe Climber, tak menyia-nyiakan kesempatan untuk membangun portofolio baru di tengah kurva Dip.
Seth Godin menuliskan alasan yang membuat anda gagal menjadi yang terbaik di dunia
- Anda kehabisan waktu (dan berhenti)
- Anda kehabisan uang (dan berhenti)
- Anda panik (dan berhenti)
- Anda tidak serius (dan berhenti)
- Anda kehilangan minat, antusiasme, atau hanya puas menjadi medioker (dan berhenti)
- Anda hanya fokus pada jangka pendek, bukan jangka panjang (dan berhenti pada saat jangka pendek itu menjadi semakin sulit)
Berhenti di tengah Dip merupakan keputusan jangka pendek, sekaligus keputusan yang buruk.
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS: 94)
(c) pratolo.com
Further
- Adversity Quotient, Paul G. Stoltz, Ph.D
- The Dip, Seth Godin





March 1st, 2009 at 12:43 am
Wah pelajaran baru bagi saya. Saya baru memulai untuk usaha sendiri. Semoga saya jadi climber.
Main yuk mas ke blog saya.
pratolo.com
Nama Anda mengingatkan saya pada salah satu pakar marketing yg menulis banyak buku ttg Positioning
Blog Anda menarik, pd saatnya nanti saya ingin juga menjadi ‘orang merdeka’ seperti Anda.
Saya menyukai posting Anda ttg ‘Air Mendididih’, kebetulan saya penggemar berat kopi (tapi benci rokok)
Saya sarankan Anda bergabung dengan komunitas TDA (Tangan Di Atas), komunitas pengusaha muslim, barangkali berguna.
Terimakasih telah berkunjung.
March 7th, 2009 at 7:43 am
hai..nice blog yeah?good luck brother…
April 23rd, 2009 at 10:56 pm
saya punya bisnis udah berjalan lancar, hanya saja saya sudah melakukan all effort yg saya bisa untuk memajukan bisnis ini. tapi hasilnya ga maju dan ga mundur. Saya jadi bingung. saya juga agak kehilangan minat dgn ini. saya sebenernya di kurva mana ya pak? soalnya saya udah baca buku the Dip ini dan masih juga ga paham. Trus apa yang harus saya lakukan? apa saya harus belajar fall in love lagi dgn bisnis ini, tp bgm caranya ya? trus apa saya harus mencoba cari jalur baru?
pratolo.com
karena saya tak tahu persis bisnis anda, mungkin jenis bisnis anda ini sangat kompetitif, sehingga anda stuck di situ.
seperti misalnya bisnis konter hp atau pulsa, akan amat sulit utk menjadi besar, kecuali anda punya modal besar.
atau barangkali yang anda butuhkan hanya sedikit kreatifitas yg akan membuat diferensiasi.
misalnya toko OKE Shop yg jadi waralaba konter hp karena kreatifitasnya dalam jaringan pasokan.