The Secret of Success: Culture Change


outliers.jpg

Malcolm Gladwell, penulis bestseller buku-buku non-fiksi, mengisahkan dalam buku terbarunya, “Outliers: The Story of Success”, bagaimana sukses salah satunya ditentukan oleh Legacy, warisan. Ini bukan warisan dalam bayangan kita, dalam artian seorang ayah yg sukses akan melahirkan anak yg otomatis sukses pula. Tidak seperti itu. Tentu saja Keluarga Hilton yg sukses memiliki anak seorang Paris Hilton, yg sukses dalam sudut pandang selebritis. Namun sejatinya, dalam cara pandang Malcolm, Paris adalah seorang pecundang glamour yang tidak menghasilkan apa-apa bagi keluarganya, masyarakat, dan peradaban.

 

Legacy akan menentukan sukses seseorang bilamana warisan itu berupa budaya, kebiasaan, atau culture yang tepat. Malcolm mengungkap data empiric bahwa kecelakaan udara beruntun selama kurun 1977-1997 yang dialami Korean Air dan Avianca Colombia, adalah terjadi akibat culture bangsa Korea dan Colombia. Statistik mengungkap bahwa penerbangan sipil AS mencatat kecelakaan 0,27 per sejuta penerbangan, sementara Korean Air mencatat kecelakaan 4,79 persejuta flights, atau 17 kali lebih tinggi. Di tahun 1999, Korean Air mengalami nasib yg sama dengan maskapai-maskapai Indonesia di masa kini: dilarang terbang di wilayah udara Amerika dan Eropa. Apakah sebabnya sehingga rekor keselamatan penerbangan Korean Air begitu buruk? Apakah pesawat-pesawat berusia uzur?

 

Bangsa Korea adalah bangsa dengan budaya hormat terhadap senioritas amat berlebihan. Kita menyebutnya dengan budaya feudal. Bahasa Korea lebih parah dari bahasa Jawa Tengah, mereka memiliki 5 tingkatan bahasa (kromo dalam istilah Jawa). Mirip dengan orang Jawa Tengah, orang Korea memiliki kecenderungan untuk berkomunikasi secara tidak lugas. Misal orang Jawa Tengah akan berkata ‘hawanya panas sekali di sini’ untuk menyatakan bahwa ‘tolong jendelanya dibuka’. Geert Hofstede, seorang psikolog Belanda, meneliti fenomena budaya seperti itu di berbagai negara dan menyebutnya Power-Distance Index (PDI). Singkatnya, negara dengan indeks PDI tinggi berarti bangsa tersebut cenderung lebih feudal, dan sebaliknya. Ketika dibandingkan, indeks PDI berkorelasi positif dengan frekuensi kecelakaan penerbangan.

 

Penyebab seringnya terjadi kecelakaan penerbangan di Korean Air bukan karena buruknya standar safety dan uzurnya pesawat. Mayoritas factor penyebab kecelakaan (60% lebih) adalah human error. Di Korea, co-pilot yg derajatnya lebih rendah dan lebih junior daripada pilot, sungkan atau takut untuk menegur dan mengingatkan sang captain secara langsung, apabila bertindak atau mengambil keputusan yg salah. Dalam salah satu kasus kecelakaan di Guam dalam cuaca yang buruk, co-pilot dan flight engineer gagal mengingatkan pilot agar tidak mengambil keputusan visual landing, hingga akhirnya pesawat itu hancur menabrak bukit. Dalam kasus maskapai Avianca Colombia, dalam cuaca buruk yang mengakibatkan pesawat lama berputar-putar di udara sebelum landing di bandara Kennedy, co-pilot tidak lugas dan tegas menyatakan bahwa pesawat telah kehabisan bahan bakar, sampai akhirnya mesin pesawat itu mati di udara dan jatuh berkeping 16 mil dari landasan.

 

Kesimpulan Malcolm Gladwell: budaya Korea yg feudal tidak tepat untuk menghasilkan penerbangan yang sukses (safe).

 Di tahun 1999, Korean Air melalui serangkaian investigasi yg melibatkan berbagai ahli dari berbagai negara dari berbagai disiplin ilmu (termasuk psikolog), menemukan akar penyebab persoalan mereka ini. Korean Air melakukan reformasi budaya. Hasilnya, sejak itu Korean Air terbang tanpa cacat, dan di tahun 2006 Korean Air menerima Phoenix Award dari Air Transport World, anugrah tertinggi penerbangan sipil dunia.

Legacy (culture) determines your success.

Dalam perspektif fundamental bisnis, budaya perusahaan amat menentukan kesuksesan. Beberapa budaya perusahaan berikut ini merupakan kunci sukses bersaing di dunia bisnis global yang makin kompetitif dan ekonomi yg makin kompleks.


1. Cost-Efficient Culture

 

Industri dengan nature commodities sangat memerlukan budaya perusahaan yang efisien dalam biaya. Budaya efisien dalam biaya dapat ditemukan pada perusahaan baja Nucor, pabrik baja nomer 2 di USA, dan pendaur ulang besi/baja nomer 1 di dunia. Peletak budaya perusahaan Nucor adalah former-CEO Ken Iverson (“Plain Talk”, otobiografinya), seorang Level-5 Leader menurut versi Jim Collins. Iverson sangat memahami bahwa harga produk dengan nature commodities sangat ditentukan oleh pasar, dan berada di luar kendali manajemen. Apa yang dapat dikendalikan oleh manajemen adalah biaya. Penghematan biaya sebesar 10% dapat meningkatkan margin laba sampai 13%.

 

CEO lain yang memahami betul keampuhan budaya perusahan yg efisien dalam biaya adalah Mark Hurd. Seorang analis Wall Street menyebut Hurd sebagai “..a high tech guy and a high growth guy who is very operations oriented.” Majalah Money memuji Hurd : “His leadership was marked by successful efforts to improve operating efficiency..” Dan majalah Fortune memeringkat Hurd di ranking 16 dari 25 Most Powerful People in Business. Mark Hurd dipercaya menjadi CEO di tahun 2005 manakala Hewlett-Packard sedang limbung menghadapi kompetisi habis-habisan melawan Dell dan IBM di segmen PC, dan melawan Lexmark dan Canon di segmen printer. Kini laba bersih HP (sebelum krisis global mengguncang pasar PC dan printer) meningkat 28% dan pendapatan tumbuh 15%.

 

Di sektor industri dengan kompetisi yang masif dan di sektor industri commodity, budaya efisien biaya amat menentukan sukses perusahaan.

 

2. Production-Oriented Culture

 

Ini adalah budaya perusahaan yg mesti ditinggalkan jauh-jauh dan tidak layak dimiliki oleh perusahaan di era new-economy saat ini. Mari kita tengok apa kata Philip Kotler, the Father of Marketing, dalam textbook-nya, Marketing Management 12th ed. Dalam Bab 1 hal 15 (amat sangat awal dalam buku itu), Kotler menyebut 5 tahapan industri untuk menuju era saat ini, yaitu:

- Production Concept;

- Product Concept;

- Selling Concept;

- Marketing Concept;

- Holistic Marketing Concept.

 Perhatikan penjelasan Kotler tentang arti production concept ini: The production concept is one of the oldest concepts in business. It holds that consumers will prefer products that are widely available and inexpensive. Managers of production-oriented business concentrate on achieving high production… 

Manajemen yang masih menganut the oldest concepts in business, adalah manajemen kuno ala jaman revolusi industri, tidak sesuai dengan budaya perusahaan yg dibutuhkan untuk menghadapi kompetisi bisnis global. Ini adalah abad 21 saat mana perusahaan dengan konsep holistic marketing yg akan memimpin.

 

3. High-Inventory Culture

 

Ini juga budaya perusahaan yg amat buruk dalam bisnis.

High-inventory berarti low-cash. Perusahaan dengan inventory-turnover yang kecil, menandakan banyak hal: perusahaan tidak memiliki manajemen cash yang bagus, produk perusahaan tidak laku di pasar, perusahaan tidak cukup berinovasi, atau perusahaan tidak memiliki free-cash flow yg sehat. Bagi investor, pastikan anda memeriksa antara inventory-turnover dan free cash flow di laporan keuangan.

(Untuk blog yang bagus tentang analisis fundamental saya sarankan: http://sahamfundamental.blogspot.com)
Masih banyak budaya lain dalam bisnis yang mesti ditanamkan atau ditinggalkan, contoh di atas hanya beberapa diantaranya yg terlintas di benak saya setelah membaca buku Malcolm Gladwell ini.

 

Saya mesti fair utk memberikan contoh perusahaan Indonesia yg memiliki budaya perusahaan yg bagus, dan tidak hanya memberikan contoh perusahaan asing. Astra Agro Lestari (AALI.JK) dan Astra Holding (ASII.JK) adalah dua perusahaan lokal yg patut dipuji. Satu tahun terakhir ini saya mengenal lebih dalam AALI. Perusahaan ini memiliki cash paling kuat dibanding perusahaan lain disektor yg sama. Pengoperasian pabrik CPO dan kebun AALI adalah yg paling efisien dibanding kompetitornya. Tonny Hermawan, Chief Operation Officer AALI adalah eksekutif yg sangat concern dengan efisiensi operasional dan memiliki integritas tinggi, a kind of Mark Hurd. ASII merupakan korporasi holding yg memiliki budaya perusahaan profesional dan cermat ala Berkshire Hathaway. Setiap anak perusahaan ASII adalah yg terdepan dalam sektor industrinya.

 

Kesimpulan dari tulisan kali ini dapat disingkat dalam kalimat berima ini: “Untuk berjaya, ubahlah budaya”. [] (c) pratolo.com Jun 2009

This entry was posted on Wednesday, June 24th, 2009 at 5:51 pm and is filed under Books. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

4 Responses to “The Secret of Success: Culture Change”

  1. nilda Says:

    Thanks Mas Edy, Ulasan yang menarik, saya jg lagi baca buku itu…

    pratolo.com
    Terimakasih telah mampir mbak,
    gladwell memang jago nulis non-fiksi.

  2. Edi Santosa Says:

    Very well said Pak Pratolo, as usual, sederhana, lugas dan mudah dimengerti. Culture memang melandasi segala2nya…seperti org bijak bilang “-be careful of what you think, because what you think will become what you do, – be careful of what you do, because what you do will become your habit, and be careful of your habit, because your habit will become your destiny ( atau dalam konteks ini culture)”.

    Mantap Pak…..dan masih tetap ditunggu buku asli karangan Bapak one day.. :)

    pratolo.com
    buku apa ya? hehe
    susah jadi penulis yg bagus.
    si gladwell ini melahirkan 3 buku bestseller..setelah dirunut..eh ternyata dia kolomnis tetap The New Yorker.,dan udah ratusan kolom dia tulis.
    tidak heran..”because your habit will become your destiny”
    habit si gladwell ini nulis kolom, destiny dia: penulis bestseller buku non-fiksi.
    terimakasih atas ungkapannya yg bagus Pak Santosa.

  3. mamaRidho Says:

    ulasan pak pratolo OK,abis dibaca sampe ditransfer isinya ya….Ungkapan bijak pak santosa juga bagus sekali membuat saya jadi berhati2dalam berpikir dan bertindak dlm mendidik ridho.

  4. Edi Santosa Says:

    hehehe…just call me Edi Pak and mama……Pak Santosa make me feel so old… :)

Leave a Reply