Too Big to Fail, Too Fool to Learn

Beberapa bank raksasa di USA yang terpukul krisis subprime mortgage, kini bangkit dan tumbuh lebih besar. J.P Morgan Chase bank terbesar di US kini memiliki USD 1 dari setiap USD 10 simpanan di negara itu. Begitu pula Bank of America dan Wells Fargo. Di California, ketiganya menguasai tiga perempat jumlah simpanan masyarakat. Tiga bank tersebut ditambah dengan Citigroup, yang telah diselamatkan dan diakuisisi pemerintah US, kini menguasai satu dari setiap tiga kredit hipotik perumahan, serta dua dari setiap tiga kartu kredit, di negara itu.

 

Semakin besar ukuran bank-bank tersebut memungkinkan mereka untuk mendapatkan bunga pinjaman dari bank sentral dengan persentase 0,34 basis point lebih rendah daripada bank-bank lain yang memiliki asset lebih kecil. Sebelum krisis, selisih bunga mereka hanya 0,08 basis point dari bank-bank kecil. Dengan perbedaan 0,34 basis poin dan jumlah massif simpanan dalam bank-bank tersebut, bayangkan betapa kuatnya bank-bank raksasa ini.

 

Kekuatan mereka membuat bank-bank lebih kecil tidak punya daya saing. Ditambah dengan asumsi konsumen bahwa makin besar asset bank maka makin aman dari kegagalan, membuat bank-bank kecil lebih sulit untuk menarik nasabah. Dengan makin kuatnya bank-bank yang diterpa krisis berkat bail out pemerintah, membuktikan anggapan bahwa bank-bank tersebut too big to fail.


Kasus yang mirip terjadi di Indonesia. Beberapa bank besar tidak kunjung menurunkan bunga kredit pinjaman meskipun bank sentral telah menurunkan BI rate hingga 6,5%. Terungkap kemudian bahwa bank-bank besar itu ditekan oleh nasabah kakap yang memiliki simpanan amat sangat besar, agar tidak menurunkan suku bunga simpanan. Karena suku bunga simpanan tidak dapat diturunkan, maka suku bunga kredit pinjaman tidak mungkin turun.

 

Konsentrasi simpanan masyarakat di beberapa bank menimbulkan oligopoli. Nasabah tidak punya banyak pilihan. Hal sebaliknya berlaku bagi para bankir raksasa, jaminan bail out dari pemerintah akan membuat mereka melakukan tindakan ceroboh, ’We are too big to fail’.

 

Masyarakat tidak sadar bahwa dana mereka terancam risiko yang lebih besar daripada risiko yang mereka bayangkan. Konsentrasi dana ini membuat magnitude jadi berkali lipat lebih besar manakala terjadi krisis ekonomi dan krisis finansial. Kalaupun bank-bank ini dilindungi pemerintah atau lembaga penjamin simpanan, konsentrasi dana pada beberapa bank besar akan mengakibatkan kepanikan dan rush yang berdampak luar biasa terhadap ekonomi. Masyarakat beramai-ramai mencairkan dana dan tiba-tiba saja pemerintah kehabisan likuiditas.

 


funny2.jpg

 

Saya bukan bankir atau ekonom sehingga saya tidak mungkin meyakinkan anda bahwa dana anda akan aman. Sejauh yang saya ketahui, manakala krisis terjadi, terbukti bahwa risiko pasar dan risiko finansial lebih besar daripada yang diperkirakan oleh bankir-bankir dan ekonom-ekonom. Setidaknya risiko itu lebih besar bagi nasabah kecil seperti saya. Saran saya, orang awam yang bukan ekonom ataupun bankir, jangan pertaruhkan seluruh asset atau simpanan anda pada satu bank atau lembaga keuangan. Krisis ekonomi global 2008 – 2009 mungkin telah berakhir. Tapi di masa depan, satu dekade kemudian atau kurang, saya percaya krisis semacam ini akan terulang.

 

Information is SHOCK defense. Arm yourself!

Artikel selengkapnya di Washington Post dapat diunduh di sini.

This entry was posted on Thursday, October 8th, 2009 at 10:07 am and is filed under Finance. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

5 Responses to “Too Big to Fail, Too Fool to Learn”

  1. bdjodigdo Says:

    sarujuk bunder om ed,
    sayang arm yg paling epektip mengekor nasabah2 gde yg notabene brpengaruh bsar
    di pmegang kbijakan.. Pasti dibailout lg kan kalo kna krisis.. asal jgn lbih dr batas LPS=aman.

    pratolo.com
    Jika begitu terus, maka siklus yg terjadi adalah: CAPITALISM for the Profit, SOCIALISM for the Loss.
    Manakala untung yg menikmati adalah investor-investor besar dan bankir-bankir besar.
    Manakala krisis yg menanggung adalah rakyat melalui pajak-pajak yg dibayarkan pada negara.

  2. detikcom Says:

    Adapun peringkat 10 bank terbesar di Indonesia adalah:

    1. PT Bank Mandiri Tbk dengan aset sebesar Rp 364,124 triliun (Rp 336,133 triliun di Juli 2009)
    2. PT bank Rakyat Indonesia Tbk dengan aset sebesar Rp 268,7 triliun (Rp 264,375 triliun di Juli 2009)
    3. PT Bank Centrak Asia dengan aset Rp 266,202 triliun (Rp 257,43 triliun di Juli 2009)
    4. PT Bank Negara Indonesia Tbk dengan aset Rp 204,364 triliun (Rp 198,09 triliun di Juli 2009)
    5. PT CIMB Niaga Tbk dengan aset Rp 100,496 triliun (Rp 99,433 triliun di Juli 2009)
    6. PT Bank Danamon Indonesia Tbk dengan aset RP 97,161 triliun (Rp 94,797 triliun di Juli 2009)
    7. PT Pan Indonesia Bank denga aset Rp 69,671 triliun
    8. PT Bank Permata Tbk dengan aset Rp 54,381 triliun (Rp 54,14 triliun di Juli 2009)
    9. PT Bank Internasional Indonesia Tbk Rp 54,291 triliun (Rp 52,397 triliun di Juli 2009)
    10. Citibank Rp 53,055 triliun (Rp 53,197 triliun di Juli 2009).

  3. bdjodigdojo Says:

    sarujuk bunder lagi om ed,
    mangkanya jadilah kapitalis… kalo bs kapitalis yg mblegedu..

  4. Bravo Stiglitz Says:

    Benar, hati-hati recovery krisis tidak berdasar fundamental.

    http://bisniskeuangan.kompas.com/read/xml/2009/10/09/09155811/pascakrisis.bank.semakin.tambun

  5. alan budikusuma Says:

    Finally, greenspan learn his mistakes.
    http://dealbook.blogs.nytimes.com/2009/10/15/greenspan-break-up-banks-too-big-to-fail/

Leave a Reply