Bait Al-Dzan

Pada tahun 832 M di wilayah yang kini dikenal sebagai Tunisia, tersebutlah sebuah kerajaan yang disebut Daar Al-Wahm. Kerajaan saat itu dipimpin oleh seorang raja bernama Raja O-zai, seorang veteran jenderal yang tersohor karena kepemimpinan dia dalam perang melawan pasukan Kaisar Theopilos dari Byzantium. Daar Al-Wahm adalah satu-satunya wilayah berdaulat di pesisir Laut Mediterran di masa itu yang tidak mau takluk pada Byzantium. Berkali-kali Daar Al-Wahm diserbu legion Theopilos, namun berkali-kali negeri ini berhasil memukul mundur tentara Theopilos, berkat keberuntungan Jenderal O-zai.

Tapi terkadang kedaulatan sebuah negeri tidak sejalan dengan kemakmuran, dan memimpin rakyat sipil lebih sulit dari memimpin pasukan militer. Daar Al-Wahm meski dikenal memiliki sumber emas hitam batu bara dan minyak bumi (oleh sebab itu Theopilos berambisi mencaploknya) dikuasai oleh aparat pemerintah yang korup dan mengejar kepentingan pribadi. Tidak ada kepastian hukum di negeri itu. Para saudagar kaya dan pejabat tinggi pemerintah tidak tersentuh hukum. Sementara rakyat sipil harus berjuang keras mendapatkan keadilan.

Setiap kali seorang saudagar atau pejabat negara ditangkap karena menipu atau korupsi, hampir dapat dipastikan dia akan bebas bersyarat, atau dibebaskan karena pertimbangan kesehatan, atau hanya dihukum ringan. Di Daar Al-Wahm, setiap kasus kejahatan besar adalah kecil, dan setiap kasus kejahatan ringan adalah berat. Aman adalah kosakata mewah Daar Al-Wahm. Sering sekali terjadi pencurian atau penjarahan di rumah warga. Minimnya serdadu karena dikirim menjaga perbatasan, dan tidak tegasnya penegakan hukum, membuat setiap warga hidup dalam suasana saling curiga dan prasangka. Rakyat kehilangan kepercayaan pada aparatur negara, sedangkan aparatur negara selalu mencurigai rakyat. Daar Al-Wahm telah kehilangan trust, modal pokok yang diperlukan demi keberlangsungan hubungan sosial.

Suatu ketika menjelang perayaan hari kemenangan pertempuran Djerba, sebuah pertempuran penting dalam sejarah melawan pasukan Byzantium, Raja O-zai mendengar kabar bahwa akan terjadi makar. Pada hari itu, tanggal dua belas bulan dua belas tahun dua ribu dua belas dalam kalender Daar Al-Wahm, dikabarkan akan terjadi demonstrasi akbar di lapangan ibukota. Penggeraknya adalah Tai-Lung, seorang mantan jenderal Daar Al-Wahm yang melakukan desersi dan kini dipenjara seumur hidup. Kabar burung menyebut, beberapa hari menjelang demonstrasi Tai-Lung akan melarikan diri dengan bantuan para pendukungnya. Dan pada hari yang ditentukan, hari dua belas bulan dua belas tahun dua ribu dua belas, Tai-Lung akan menggerakkan massa dan serdadu yang berpihak kepadanya untuk memakzulkan Raja O-zai, seteru abadinya.

Panik, resah, dan cemas bercampur aduk di hati dan benak Raja O-zai. Segera ia menyiagakan Ikhwanul Waspada, pasukan khusus pengaman raja yang telah terlatih berulang kali di medan tempur melawan tentara Byzantium. Raja O-zai telah mendengar rumor lain bahwa selama ini Tai-Lung telah mengorganisasi Laskar Pembebasan, sekumpulan perwira tentara yang setia padanya, dari balik penjara.

Pagi hari dua belas bulan dua belas tahun dua ribu dua belas tiba. Raja O-zai sedikit lega karena ternyata Tai-Lung masih dikurung dan tidak melarikan diri. Perayaan pertempuran Djerba sangat meriah dan berlangsung sampai malam di lapangan ibukota yang terletak di seberang istana negara. Raja O-zai tidak berani meninggalkan istananya, Bait Al-Dzan, dan memilih berlindung di balik pengamanan Ikhwanul Waspada yang setia dan terlatih.

Sampai saat kritis itu tiba.

“Dor!”

Tiba-tiba terdengar ledakan di keremangan senja. Seorang serdadu Waspada melihat seorang warga meledakkan semacam dinamit di tengah kerumunan massa. Serdadu itu segera bertindak sigap, ia membidik ke arah orang itu.

“Dor!”

Ledakan kedua terjadi. Orang itu, yang ternyata sedang menyulut kembang api, jatuh tersungkur. Darah memercik dari kepalanya yang berlubang oleh peluru serdadu Waspada.

Warga di sekitar korban penembakan terkejut. Sekejap kemudian mereka menjadi marah. Sekelompok warga mendekati serdadu itu dan berusaha menangkap dan merebut senapannya. Sementara serdadu Waspada lain berusaha melindunginya.

“Dor! Dor! Dor!”

Sejumlah warga berjatuhan bersimbah darah.

Sejenak kemudian massa mengamuk, sementara serdadu Waspada berusaha melindungi diri dan rajanya dari amarah massa.

Lebih dari dua ribu dua belas orang terluka dalam insiden, yang kemudian dikenal dengan sebutan Insiden Bait Al-Dzan. Beberapa di antaranya tewas, termasuk beberapa serdadu Waspada.

Serdadu yang pertama kali menembak, setelah diselidiki kemudian, adalah seorang schizophrenia bermental tidak stabil. Dia diterima menjadi serdadu dengan menyuap sejumlah perwira, praktik yang lazim dilakukan pada masa itu di Daar Al-Wahm.

Sehari setelah insiden Bait Al-Dzan, ekonomi Daar Al-Wahm memburuk. Nilai tukar Fulus, mata uang Daar Al-Wahm, terhadap Aureus, mata uang Byzantium yang mendominasi ekonomi di masa itu, jatuh drastis. Jorge Cyrus, seorang spekulan mata uang ternama dari Byzantium memanfaatkan timing insiden Bait Al-Dzan untuk melakukan shorting secara besar-besaran. Perekonomian Daar Al-Wahm yang mengandalkan sektor perdagangan dan impor dari negeri sekitar, serta hutang luar negeri untuk anggaran militer melawan invasi Byzantium, segera saja terpuruk. Hiperinflasi merajalela, ekonomi kolaps.

Beberapa bulan kemudian, Raja O-zai terpaksa mundur.
Sebuah paranoia menjadi realita.
Bukan oleh gerakan massa, tapi oleh paranoia itu sendiri.
Itu sebabnya kita tidak pernah mendengar Daar Al-Wahm dalam sejarah.
Insiden Bait Al-Dzan meruntuhkan kerajaan itu sampai terhapus dari catatan sejarah.

Copyright (c) pratolo.com Dec 2009

This entry was posted on Monday, December 7th, 2009 at 5:00 pm and is filed under Short Story. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

2 Responses to “Bait Al-Dzan”

  1. zoura Says:

    ceritanya mirip sama kondisi Indonesia sekarang ya…
    rencana rakyat untuk merayakan hari korupsi membuat sang pemimpin ketakutan
    akan diturunkan dari tahtanya.

    apakah negara kita akan menjadi Daar Al-Wahm berikutnya???

    pratolo.com
    ah itu kebetulan saja.
    kebetulan saya ketika menulis ini baru saja menonton bareng anak saya, Kungfu Panda dan Avatar, The Last Airbender; Book 3: Fire :)

  2. putratec Says:

    salam kenal.wah menarik sekali artikelnya, terutama hubungan antara paranoid dan perbuatan yg diluar kendali/berlebihan. Tetapi bagaimana kalau paranoidnya tersebut rekayasa, dan dilakukan dengan kesadaran penuh u/ mengontrol situasi yg paranoid nantinya.
    maksud saya mengkamuflasekan suatu tindakan (seperti yg paranoid gt), ditujukan untuk mengatasi tindakan lainnya.
    Tindakan yg seperti paranoid tsb ternyata mampu memecah konsentrasi otak saya.
    apakah paranoidnya si pemimpin rekayasa atau alami, sy tidak tahu. tetapi paranoia sang pemimpin membuat sy punya 2 pilihan, ikut perayaan diluar atau dirumah beserta sebatang lilin.hehe….

    pratolo.com
    terimakasih pak.
    kok perayaan pake lilin pak? listrik byar pet ya

Leave a Reply