Imagologues and The Lucky Monkey
Nassim Taleb, seorang penulis dan probabilist, memiliki parable yang ketika kali pertama saya baca terasa sarkastis. Ada dua orang memberikan kepada segerombolan kera berjumlah tak terhingga masing-masing satu mesin ketik. Orang pertama menjamin bahwa salah seekor kera akan mampu menulis naskah Iliad dengan mesin ketiknya. Orang kedua tentu saja tak percaya. Tidak mungkin atau amat sangat kecil probabilitas seekor monyet dapat menulis epos Yunani karya Homer yang tersohor itu. Kedua orang ini lalu bertaruh.
Dalam probabilistic parable tersebut, orang pertama menang. Salah seekor monyet dari monyet-monyet tak terhingga itu berhasil mengetik naskah Iliad. Meskipun kalah taruhan, orang kedua amat takjub dengan kemampuan si monyet. Ketika pemilik monyet berkata bahwa monyet ini akan mampu menulis karya lain Homer, Odyssey, orang kedua ini tanpa ragu-ragu membeli monyet berprestasi itu.
Parabel di atas gampang ditemukan dalam dunia bisnis dan investasi. Di tahun 2007-2008 ada sebuah fund manager yang mencatatkan return fantastis. Investor beramai-ramai menempatkan dana pada fund manager berprestasi ini, sebelum pada akhirnya fund manager ini membuat return underperform ketika krisis ekonomi global melanda.
Ide dasar Taleb adalah ketika suatu himpunan memiliki amat banyak anggota, seseorang tidak dapat begitu saja dianggap hebat karena berprestasi. Prestasi itu mungkin saja akibat dari pure luck atau kebetulan (random events).
Curtis Faith, seorang penulis dan trader, mengingatkan investor akan perlunya mempertimbangkan random events ini. Anggap ada 1000 fund manager dalam suatu himpunan. Dari 1000 manager ini hanya ada 20-an manager yang truly excellent. Menurut kurva distribusi normal, jika 96% dari 1000 manajer berkemampuan mendekati rata-rata (baca: medioker), maka ada 2% berkemampuan sangat bagus dan 2% lagi berkemampuan amat buruk. Ada 960 manajer medioker dengan kemungkinan beruntung, menyisakan 20 truly excellent fund manager dengan kemungkinan tidak beruntung (underperform).
Menilai seseorang hanya dari hasil, tidak menjamin anda menemukan orang dengan kemampuan benar-benar bagus.
Saya akan membawa contoh random events ini ke tanah Inggris, kiblat liga sepakbola dunia. Ada 20 manajer berkiprah di English Premier League (EPL). Hanya ada 2 manager yang menurut saya benar-benar bagus: manager Manchester United dan manager Arsenal. Masa yang panjang (1986-2009) telah membuktikan bahwa Alex Ferguson bukan sekedar manajer medioker yang beruntung. Pencapaian prestasi selama melatih United tidak dapat disamai oleh manajer manapun di dunia. Dengan pemain berganti-ganti selama dua dekade masa kepemimpinan dia, Ferguson mengkoleksi banyak trophy. Sebaliknya, dengan julukan The Professor, Arsene Wenger adalah manajer bagus yang kurang beruntung. Sejak 1996 masa kepemimpinan Wenger, Arsenal hanya 3 kali juara EPL (Ferguson 11 kali), dan belum pernah juara Liga Champion Eropa (Ferguson 2 kali). Dua manajer papan atas Liga Inggris lain: Carlo Ancelotti (Chelsea) dan Rafael Benitez (Liverpool) belum sebaik dua yang pertama. Kemenangan Liverpool (dilatih Benitez) menjuarai Liga Champion di 2005 melawan AC Milan (waktu itu dilatih Ancelotti) melalui adu penalti adalah suatu contoh bagus dari pure luck atau random events.
Untuk menemukan seorang yang benar-benar bagus, tidak cukup hanya dari outcome, kita memerlukan kurun waktu yang lama (long-term track record) untuk meniadakan faktor-faktor kebetulan.
Parabel Nassim Taleb tentang segerombolan monyet berjumlah tak terhingga tidak hanya berlaku dalam bisnis dan investasi, tapi juga berlaku dalam demokrasi. Dalam sistem demokrasi partisipatif, pemimpin yang terpilih belum tentu yang terbaik, tapi bisa karena faktor kebetulan. Contoh terbaik random events dalam demokrasi adalah kemenangan George Walker Bush dalam pemilihan 2004 melawan John Kerry. George W Bush memenangi pemilihan itu di 31 dari 50 negara bagian dengan 286 electoral votes, atau 50,7% untuk Bush dibanding 48,3% untuk John Kerry. Berkat margin kemenangan 2,4% (rekor margin paling tipis sepanjang sejarah pemilihan presiden U.S), Bush menjadi presiden kali kedua .
Seseorang telah mempercayai Bush akan mampu menulis sequel Iliad.
Kini seluruh dunia tahu kualitas kepemimpinan seorang George W Bush. Tak ada seorang pun memuji dia seorang presiden bagus, kecuali Dick Cheney dan Donald Rumsfeld.
Dalam demokrasi partisipatif, seekor monyet dapat memperbesar probabilitasnya menulis Odyssey dengan melakukan apa yang disebut Milan Kundera sebagai imagology. Si monyet mempertontonkan gambar, membuat slogan, menyusun program, dan menonjolkan prestasi (yakni berhasil menulis Iliad, yang sebenarnya hanya pure chance). Si monyet berupaya membuat citranya di mata publik sebagus mungkin untuk dapat terpilih di antara monyet-monyet lain.
Milan Kundera menulis dalam novel Immortality, “Public opinion polls are a parliament in permanent session, whose function it is to create truth, the most democratic truth that has ever existed. Because it will never be at variance with the parliament of truth, the power of imagologues will always live in truth, and although I know that everything human is mortal, I cannot imagine anything that could break this power.”
Ketika kemudian si monyet menang dan publik berharap dia dapat meneruskan menulis sekuel Iliad, publik kecewa dan akhirnya marah karena merasa tertipu.
Si monyet ternyata hanya monyet biasa, dan prestasinya di masa lalu hanya kebetulan belaka. []
Copyright © Pratolo.com March 2010

March 27th, 2010 at 7:28 pm
Nassim Taleb oleh sebab teorinya itu bisa kaya raya. Yuk kita bikin juga teori itu untuk bidang lain.
salam
pratolo.com
pak Alris, nassim taleb menyebut dirinya seorang skeptik empirik, artinya dia skeptik thd teori2 (terutama teori Platonic)
dan lebih menyukai analisis berdasarkan bukti empirik.
April 4th, 2010 at 10:57 am
Karena Pak Pratolo bilang sedang menyiapkan buku, saya jadi tidak pernah lagi menengok blog ini, dan hasilnya ketinggalan sebulan…tadi pagi iseng2 lihat..eh ada satu artikel baru mengupas Nassim Taleb…si penulis Black Swan….beliau barangkali satu2nya yg berani mengatakan bahwa even Warren Buffet berhasil sebagai investor dikarenakan pure chance…ini yg beliau katakan “I’m just saying we don’t have enough evidence to say Buffett isn’t doing it by chance”.
Good job Pak…ditunggu bukunya
pratolo.com
terimakasih pak Santosa. parabel nasim taleb di atas bukan dlm buku black swan, tapi dlm FOOLED BY RANDOMNESS.
sy kurang setuju thd para probabilist yg menganggap orang yg sukses dalam jangka panjang adalah karena PURE chance.
analogi utk orang seperti warren buffet atau alex ferguson ini mereka anggap seperti kejadian lempar koin (coin-tossing view),
dalam lemparan koin, kita orang awam menganggap bahwa sequence head (O) vs tail (X) seperti ini OOOOOOOOOO tampak impossible
dan menganggap bahwa sequence yg masuk akal kurang lebih seperti ini XXXOOXXOOX (lebih random)
padahal jika kita melempar ratusan kali, sequence yg urut tsb bisa terjadi
asumsi probabilist bahwa orang sukses mengikuti analogi di atas, sukses (O) vx gagal (X), sukses terus = OOOOOOOOOO = pure chance
tidak dapat sy terima karena faktor skill dan expertise tidak mereka anggap.
sy lebih suka versi moderat dari malcolm gladwell dlm OUTLIERS ttg kesuksesan
SUKSES DITENTUKAN OLEH SKILL TAPI TIDAK DAPAT DILEPASKAN DARI FAKTOR KESEMPATAN / KEBERUNTUNGAN (CHANCE), equal to
SUKSES DITENTUKAN OLEH CHANCE TAPI TIDAK DAPAT DILEPASKAN DARI FAKTOR SKILL
tapi kita juga harus hatihati, orang yg sukses SATU DUA kali, belum tentu karena skill, tp bisa jd krn pure chance
tulisan sy ini ttg orang seperti itu.
May 21st, 2010 at 12:56 pm
lha, nek ntar final segnor jose kalah stamina,
robben cs dah nyelengi leren lama, lucio cs br bs leren stlah pertandingan trakir liga..
Jd siap2 nonton laga yg wagu om, bs dipastkan inter sgt hati2 dan gak atraktif,
khas specialone:resultoriented…
pratolo.com
paradox of football mbah: penonton ingin melihat pertandingan cantik, manajemen klub dan coach ingin meraih kemenangan. we can’t blame jose mourinho, he did his job superbly.