<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>pratolo.com &#187; Short Story</title>
	<atom:link href="http://pratolo.com/category/short-story/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pratolo.com</link>
	<description>venture &#124; value &#124; virtue</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Sep 2010 01:42:46 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Bait Al-Dzan</title>
		<link>http://pratolo.com/2009/12/07/bait-al-dzan/</link>
		<comments>http://pratolo.com/2009/12/07/bait-al-dzan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Dec 2009 09:00:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pratolo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Short Story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pratolo.com/2009/12/07/bait-al-dzan/</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika menjelang perayaan hari kemenangan pertempuran Djerba, sebuah pertempuran penting dalam sejarah melawan pasukan Byzantium, Lord O-zai mendengar kabar bahwa akan terjadi makar. Pada hari itu, tanggal dua belas bulan dua belas tahun dua ribu dua belas dalam kalender Daar Al-Wahm.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pada tahun 832 M di wilayah yang kini dikenal sebagai Tunisia, tersebutlah sebuah kerajaan yang disebut Daar Al-Wahm. Kerajaan saat itu dipimpin oleh seorang raja bernama Raja O-zai, seorang veteran jenderal yang tersohor karena kepemimpinan dia dalam perang melawan pasukan Kaisar Theopilos dari Byzantium. Daar Al-Wahm adalah satu-satunya wilayah berdaulat di pesisir Laut Mediterran di masa itu yang tidak mau takluk pada Byzantium. Berkali-kali Daar Al-Wahm diserbu legion Theopilos, namun berkali-kali negeri ini berhasil memukul mundur tentara Theopilos, berkat keberuntungan Jenderal O-zai.</p>
<p>Tapi terkadang kedaulatan sebuah negeri tidak sejalan dengan kemakmuran, dan memimpin rakyat sipil lebih sulit dari memimpin pasukan militer. Daar Al-Wahm meski dikenal memiliki sumber emas hitam batu bara dan minyak bumi (oleh sebab itu Theopilos berambisi mencaploknya) dikuasai oleh aparat pemerintah yang korup dan mengejar kepentingan pribadi. Tidak ada kepastian hukum di negeri itu. Para saudagar kaya dan pejabat tinggi pemerintah tidak tersentuh hukum. Sementara rakyat sipil harus berjuang keras mendapatkan keadilan.</p>
<p>Setiap kali seorang saudagar atau pejabat negara ditangkap karena menipu atau korupsi, hampir dapat dipastikan dia akan bebas bersyarat, atau dibebaskan karena pertimbangan kesehatan, atau hanya dihukum ringan. Di Daar Al-Wahm, setiap kasus kejahatan besar adalah kecil, dan setiap kasus kejahatan ringan adalah berat. Aman adalah kosakata mewah Daar Al-Wahm. Sering sekali terjadi pencurian atau penjarahan di rumah warga. Minimnya serdadu karena dikirim menjaga perbatasan, dan tidak tegasnya penegakan hukum, membuat setiap warga hidup dalam suasana saling curiga dan prasangka. Rakyat kehilangan kepercayaan pada aparatur negara, sedangkan aparatur negara selalu mencurigai rakyat. Daar Al-Wahm telah kehilangan trust, modal pokok yang diperlukan demi keberlangsungan hubungan sosial.</p>
<p>Suatu ketika menjelang perayaan hari kemenangan pertempuran Djerba, sebuah pertempuran penting dalam sejarah melawan pasukan Byzantium, Raja O-zai mendengar kabar bahwa akan terjadi makar. Pada hari itu, tanggal dua belas bulan dua belas tahun dua ribu dua belas dalam kalender Daar Al-Wahm, dikabarkan akan terjadi demonstrasi akbar di lapangan ibukota. Penggeraknya adalah Tai-Lung, seorang mantan jenderal Daar Al-Wahm yang melakukan desersi dan kini dipenjara seumur hidup. Kabar burung menyebut, beberapa hari menjelang demonstrasi Tai-Lung akan melarikan diri dengan bantuan para pendukungnya. Dan pada hari yang ditentukan, hari dua belas bulan dua belas tahun dua ribu dua belas, Tai-Lung akan menggerakkan massa dan serdadu yang berpihak kepadanya untuk memakzulkan Raja O-zai, seteru abadinya.</p>
<p>Panik, resah, dan cemas bercampur aduk di hati dan benak Raja O-zai. Segera ia menyiagakan Ikhwanul Waspada, pasukan khusus pengaman raja yang telah terlatih berulang kali di medan tempur melawan tentara Byzantium. Raja O-zai telah mendengar rumor lain bahwa selama ini Tai-Lung telah mengorganisasi Laskar Pembebasan, sekumpulan perwira tentara yang setia padanya, dari balik penjara.</p>
<p><span id="more-164"></span></p>
<p>Pagi hari dua belas bulan dua belas tahun dua ribu dua belas tiba. Raja O-zai sedikit lega karena ternyata Tai-Lung masih dikurung dan tidak melarikan diri. Perayaan pertempuran Djerba sangat meriah dan berlangsung sampai malam di lapangan ibukota yang terletak di seberang istana negara. Raja O-zai tidak berani meninggalkan istananya, Bait Al-Dzan, dan memilih berlindung di balik pengamanan Ikhwanul Waspada yang setia dan terlatih.</p>
<p>Sampai saat kritis itu tiba.</p>
<p>&#8220;Dor!&#8221;</p>
<p>Tiba-tiba terdengar ledakan di keremangan senja. Seorang serdadu Waspada melihat seorang warga meledakkan semacam dinamit di tengah kerumunan massa. Serdadu itu segera bertindak sigap, ia membidik ke arah orang itu.</p>
<p>&#8220;Dor!&#8221;</p>
<p>Ledakan kedua terjadi. Orang itu, yang ternyata sedang menyulut kembang api, jatuh tersungkur. Darah memercik dari kepalanya yang berlubang oleh peluru serdadu Waspada.</p>
<p>Warga di sekitar korban penembakan terkejut. Sekejap kemudian mereka menjadi marah. Sekelompok warga mendekati serdadu itu dan berusaha menangkap dan merebut senapannya. Sementara serdadu Waspada lain berusaha melindunginya.</p>
<p>&#8220;Dor! Dor! Dor!&#8221;</p>
<p>Sejumlah warga berjatuhan bersimbah darah.</p>
<p>Sejenak kemudian massa mengamuk, sementara serdadu Waspada berusaha melindungi diri dan rajanya dari amarah massa.</p>
<p>Lebih dari dua ribu dua belas orang terluka dalam insiden, yang kemudian dikenal dengan sebutan Insiden Bait Al-Dzan. Beberapa di antaranya tewas, termasuk beberapa serdadu Waspada.</p>
<p>Serdadu yang pertama kali menembak, setelah diselidiki kemudian, adalah seorang schizophrenia bermental tidak stabil. Dia diterima menjadi serdadu dengan menyuap sejumlah perwira, praktik yang lazim dilakukan pada masa itu di Daar Al-Wahm.</p>
<p>Sehari setelah insiden Bait Al-Dzan, ekonomi Daar Al-Wahm memburuk. Nilai tukar Fulus, mata uang Daar Al-Wahm, terhadap Aureus, mata uang Byzantium yang mendominasi ekonomi di masa itu, jatuh drastis. Jorge Cyrus, seorang spekulan mata uang ternama dari Byzantium memanfaatkan <em>timing </em>insiden Bait Al-Dzan untuk melakukan <em>shorting</em> secara besar-besaran. Perekonomian Daar Al-Wahm yang mengandalkan sektor perdagangan dan impor dari negeri sekitar, serta hutang luar negeri untuk anggaran militer melawan invasi Byzantium, segera saja terpuruk. Hiperinflasi merajalela, ekonomi kolaps.</p>
<p>Beberapa bulan kemudian, Raja O-zai terpaksa mundur.<br />
Sebuah paranoia menjadi realita.<br />
Bukan oleh gerakan massa, tapi oleh paranoia itu sendiri.<br />
Itu sebabnya kita tidak pernah mendengar Daar Al-Wahm dalam sejarah.<br />
Insiden Bait Al-Dzan meruntuhkan kerajaan itu sampai terhapus dari catatan sejarah.</p>
<p>Copyright (c) pratolo.com Dec 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pratolo.com/2009/12/07/bait-al-dzan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Di Depan Hukum</title>
		<link>http://pratolo.com/2009/10/30/di-depan-hukum-kafka/</link>
		<comments>http://pratolo.com/2009/10/30/di-depan-hukum-kafka/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 Oct 2009 08:55:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pratolo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Short Story]]></category>
		<category><![CDATA[Kafka]]></category>
		<category><![CDATA[Law]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pratolo.com/2009/10/30/di-depan-hukum-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA["Tentunya setiap orang berusaha mencapai Hukum," kata laki-laki itu, "namun bagaimana
mungkin selama bertahun-tahun ini tidak pernah ada orang selain saya yang berusaha
masuk?"]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> <a href="http://pratolo.com/wp-content/uploads/2009/10/law-door.jpg" title="law-door.jpg"><br />
</a></p>
<p><a href="http://pratolo.com/wp-content/uploads/2009/11/cop.jpg" title="penjaga pintu"><img src="http://pratolo.com/wp-content/uploads/2009/11/cop.jpg" alt="penjaga pintu" width="318" align="left" height="324" /></a>Di depan Hukum berdiri seorang penjaga pintu. Kemudian datang seseorang dari desa kepada penjaga pintu tersebut meminta bertemu dengan Hukum. Namun penjaga pintu berkata dia tidak dapat mengijinkannya masuk sekarang. Laki-laki itu berpikir sejenak,kemudian bertanya apakah nanti dia akan diijinkan masuk. &#8220;Mungkin&#8221;, jawab penjaga<br />
pintu,&#8221;namun bukan saat ini.&#8221;</p>
<p>Karena pintu gerbang menuju Hukum selalu terbuka dan penjaga pintu berdiri di sampingnya maka laki-laki itu melongok ke dalam melalui gerbang yang terbuka itu. Penjaga pintu tertawa dan berkata, &#8220;Jika Hukum amat menggoda Anda, maka <em>cobalah melewati saya</em>. Tapi ketahuilah, <em>saya orang kuat</em>. Dan saya hanyalah <em>penjaga pintu pertama yang paling rendah</em>. Setiap ruangan memiliki penjaga pintu, dan setiap <em>penjaga pintu berikutnya lebih kuat</em>. Melihat yang ketiga saja saya bergidik.&#8221;</p>
<p>Laki-laki dari desa tersebut tidak ingin menghadapi kesulitan semacam itu. Dia berpikir Hukum <em>seharusnya mudah dijangkau siapa saja, kapan pun</em>. Namun setelah ia melihat lebih dekat perawakan penjaga pintu itu: mantel dari bulu binatang, hidung yang besar dan runcing, dan jenggot Tartar yang panjang dan hitam, ia memutuskan sebaiknya menunggu saja sampai diijinkan masuk.</p>
<p>Penjaga pintu memberinya kursi dan membiarkannya duduk di salah satu sisi pintu. Di sana laki-laki malang itu duduk berhari-hari dan bertahun-tahun. Ia terus merengek diijinkan masuk sehingga penjaga pintu merasa terganggu oleh rengekan-rengekannya itu. Penjaga pintu sering menanyakan banyak hal yang sifatnya tidak personal dan tidak penting kepadanya, dan selalu mengakhirinya dengan mengulangi sekali lagi bahwa dia belum bisa mengijinkannya masuk.</p>
<p>Laki-laki itu telah membawa banyak harta dalam perjalanannya dan sekarang ia menggunakan semuanya -bagaimanapun berharganya- untuk <em>menyuap </em>penjaga pintu. Penjaga itu menerima semua yang diberikan sembari mengatakan, &#8220;Saya hanya menerima saja agar Anda tidak merasa belum berusaha sekeras-kerasnya.&#8221;</p>
<p>Bertahun-tahun laki-laki itu terus mengamati penjaga pintu tanpa henti. Dia lupa penjaga pintu yang lain. Baginya penjaga pintu yang pertama ini satu-satunya yang menghalangi dia sampai kepada Hukum. Ia mengutuki nasibnya yang sial dengan berang dan keras pada tahun-tahun pertama penantiannya, kemudian sejalan dengan usia ia hanya bergumam pada dirinya sendiri.</p>
<p>Akhirnya pandangannya mulai kabur dan ia tidak tahu manakah yang berubah. Apakah sekelilingnya yang menjadi gelap ataukah matanya yang mengelabui pandangannya. Namun dia masih dapat merasakan dalam kegelapan adanya pancaran yang keluar tak pernah mati dari pintu Hukum itu.</p>
<p>Sekarang ia tak bisa bertahan hidup lebih lama lagi. Sebelum kematiannya semua pengalaman mengenai tahun-tahun penantian yang lama tergambar lagi dalam pikirannya membentuk sebuah pertanyaan yang belum pernah ditanyakannya kepada penjaga pintu. Ia lalu memberi isyarat kepada penjaga pintu karena ia tidak dapat lagi mengangkat tubuhnya yang kaku lantaran menunggu.</p>
<p>&#8220;Apa yang masih ingin Anda ketahui?&#8221; Tanya penjaga pintu, &#8220;Anda adalah orang yang tidak pernah puas.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentunya setiap orang berusaha mencapai Hukum,&#8221; kata laki-laki itu, &#8220;namun bagaimana mungkin selama bertahun-tahun ini tidak pernah ada orang selain saya yang berusaha masuk?&#8221;</p>
<p>Penjaga pintu sadar laki-laki ini sedang menyongsong ajal. Agar suaranya terdengar di telinga yang mulai tuli karena uzur, ia mengeraskan suaranya dan berteriak: &#8220;Tidak ada seorang pun yang pernah memasuki pintu ini, karena pintu ini hanya diperuntukkan bagimu saja&#8230;Dan sekarang saya akan menutupnya.&#8221; []<br />
Judul Asli: <em>Before The Law</em>, Franz Kafka (1883-1924)<br />
a Czech novelist. His dreamlike works, such as The Trial (1925) and The Castle (1926), are full of oppression and despair. His major novels were published posthumously by his friend, Max Brod, against Kafka&#8217;s wishes.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pratolo.com/2009/10/30/di-depan-hukum-kafka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
