Shock Doctrine: The Rise of Disaster Capitalism

Posted on October 6th, 2009 by pratolo
Filed under Books | 6 Comments

the-shock-doctrine.jpg

‘I don’t talk to journalists anymore,”sahut suara serak Gail Kastner dari seberang telepon, dan sejenak kemudian ia bertanya,‘What do you want?’

 

Ingin aku menjelaskan,”I am writing a book about shock. About how countries are shocked – by wars, terror attacks, coups d’etat, and natural disasters. And then how they are shocked again – by corporations and politicians … to push through economic shock therapy. And then how people who dare to resist this shock politics are shocked for third time by police, soldiers, and prison interrogators. I want to talk to you because you are being one of the view living survivors of the CIA’s experiments in electroshock and other special interrogation techniques. I have reason to believe that the research that was done to you in the 1950s at McGill University is now being applied to prisoners in Guantanamo and Abu Ghraib.”

 

Hening sesaat, dan kemudian, terdengar jawaban,”You have just spelled out exactly what the CIA and Ewen Cameron did to me. They tried to erase and remake me. But it didn’t work.’

 

 

Kutipan kisah di atas adalah sepenggal paragraph bab pertama buku karya Naomi Klein, berjudul “The Shock Doctrine”. Sebuah buku yang menelusuri metode dan fakta sejarah dari apa yang disebut oleh Naomi Klein sebagai Disaster Capitalism. Kapitalisme malapetaka adalah istilah Naomi Klein untuk laissez-faire capitalism, ekonomi pasar bebas, atau neoliberalisme. Apa yang membuat buku ini sangat penting dan istimewa adalah Naomi Klein berhasil membuktikan keterkaitan yang tak terbantahkan antara laissez-faire economics dengan krisis-krisis politik, ekonomi, dan terror yang terjadi dalam periode empat dekade terakhir.

 

 

Laissez Faire Fundamentalist

 

Laissez Faire market adalah ideologi yang pada mulanya diperkenalkan oleh Adam Smith dalam karyanya ‘Wealth of Nations’. Laissez Faire artinya let-it-be atau biarkan-saja-terjadi, yakni sebuah konsep ekonomi yang berlandaskan pada mekanisme pasar bebas. Para penganut laissez faire percaya bahwa bilamana perekonomian dibiarkan bebas secara alamiah dan individu warga negara diberi kesempatan seluasnya untuk berusaha mencari profit, maka terciptalah ‘invisible hand’ yang akan menjaga harmoni pasar. Tangan yang tak terlihat ini adalah kelenturan alamiah dari kekuatan pasar untuk mengatur sendiri kesetimbangannya. Dalam ilmu finance, asumsi laissez faire amat mirip dengan asumsi Efficient Market Hypothesis, yakni bahwa pasar adalah ideal.

 

Lawan utama dari ekonomi Laissez Faire bukanlah ekonomi Marxis, melainkan ekonomi yang membiarkan campur tangan pemerintah dalam mengatur pasar. Ekonomi Marxis adalah ekonomi terpimpin (central planning) yang tidak mengenal system pasar, dimana jumlah supply, demand, dan harga barang atau jasa ditetapkan sepenuhnya oleh pemerintah, tanpa ada peran dari swasta. Sebaliknya, ekonom laissez faire sangat geram dengan ekonomi Keynesian yang mencampuradukkan peran pemerintah dan peran swasta dalam sistem ekonomi pasar. Free-market economist punya sebutan ‘pink economist’ (ekonom banci) untuk meledek ekonom Keynesian. Kebencian ekonom laissez faire terhadap Keynesian memuncak semenjak kemenangan konsep ekonomi Keynes dalam mengatasi Great Depression di masa Franklin Delano Roosevelt. John Maynard Keynes menulis karya ‘The End of Laissez Faire’, sebuah esai kritik untuk Laissez Faire economist.

 

Penerus mazhab laissez faire yang amat berpengaruh dalam empat dekade terakhir adalah Milton Friedman, seorang professor ekonomi dari Chicago School of Economics. Mentor Milton Friedman adalah Friedrich von Hayek, profesor ekonomi alumnus Austrian School of Economics. Chicago School  dan Austrian School of Economics memiliki kesamaan pandangan dalam mempercayai kedigdayaan laissez faire market. Di bawah Milton Friedman, Chicago School berhasil mendidik banyak ekonom fundamentalis laissez faire, yang kemudian menjadi tokoh-tokoh kunci dalam banyak negara dan lembaga keuangan di dunia di beberapa dekade terakhir. The Shock Doctrine Naomi Klein mengungkap siapa sesungguhnya sosok paling berpengaruh di dunia selama paruh abad kedua puluh, yang pengaruhnya melebihi presiden United States mana pun di masa itu. Dia adalah Milton Friedman.

 

Sebagaimana kaum fundamentalis di bidang lain, para ekonom fundamentalis tersebut (yang disebut Naomi Klein dengan Chicago Boys) menginginkan pasar yang ideal, bersih dari campur tangan pemerintah dalam bentuk kebijakan apapun. Free-market fundamentalis menganggap konsep ekonomi Keynesian di USA, sosial-demokrat di Eropa, dan developmentalisme di Negara Berkembang sebagai  penodaan terhadap konsep pasar yang murni. Swastanisasi dalam produksi dan distribusi consumer products, sosialisme dalam pendidikan (sekolah negeri), kepemilikan negara dalam faktor-faktor produksi yang menguasai hajat hidup rakyat, dan semua konsep ‘pink economist’ lain adalah bid’ah yang harus dibersihkan. Maka lahirlah ‘counterrevolution’, sebuah gerakan tanpa bentuk oleh Chicago Boys untuk melakukan purifikasi terhadap kapitalisme.

 

Persoalan besar menghadang gerakan counterrevolution Chicago Boys: tak ada satu pun pemerintah di dunia yang menerapkan kapitalisme murni. Di negara-negara demokratis di mana pemerintah dipilih oleh rakyat, pada hakikatnya rakyat menyukai kebijakan ekonomi yang populis, yang berpihak pada rakyat, yang berpihak pada pekerja. Oleh karena itu, pemerintah yang terpilih melalui pemilihan umum yang adil tentu akan mengambil kebijakan mix-and-match economy: jaminan sosial, jaminan kesehatan, subsidi sekolah-sekolah negeri, penetapan harga untuk bahan kebutuhan pokok, pajak progresif (lebih besar untuk warga kaya, dan lebih kecil untuk warga miskin), penetapan upah minimum pekerja, dan kebijakan-kebijakan lain yang merupakan campur tangan pemerintah dalam ekonomi. Bahkan di negara-negara Marxis sekalipun, rakyat menghendaki kebebasan dalam berusaha dan memiliki faktor-faktor produksi, sehingga negara komunis pada hakikatnya tidak dapat dijalankan tanpa adanya represi dari partai komunis yang berkuasa. Sementara itu, ada beberapa negara yang didirikan berdasarkan sosialisme (dengan demikian memiliki DNA sosialis), yakni negara-negara Argentina, Brazil, Bolivia, Chile, Colombia, Uruguay, Venezuela, Peru, Ecuador, serta Indonesia. Pendiri negara Amerika Latin adalah Simon Bolivar dan founding fathers kita (Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka) adalah para sosialis-demokrat (direfleksikan dalam Pasal 33 UUD ’45).

 

Jika tidak ada peminat kapitalisme murni di dunia, lalu bagaimana para ekonom fundamentalis pasar bebas ini mewujudkan utopia mereka?

Read the rest of this entry »

Two Mavericks in Science on Measuring Risk and Return

Posted on October 4th, 2009 by pratolo
Filed under Finance | No Comments

According to Benoit Mandelbrot, price movement in financial market, commodity market, equity market, and currency market follow the law of wild randomness.

The Secret of Success: Culture Change

Posted on June 24th, 2009 by pratolo
Filed under Books | 4 Comments

Dalam perspektif fundamental bisnis, budaya perusahaan amat menentukan kesuksesan. Beberapa budaya perusahaan berikut ini merupakan kunci sukses bersaing di dunia bisnis global yang makin kompetitif dan ekonomi yg makin kompleks.

Essence of Fortune and the Secret of Luck

Posted on April 27th, 2009 by pratolo
Filed under Miscellaneous | 2 Comments

Seluruh hidup anda, sepanjang umur anda, nasib anda, ditentukan oleh hanya beberapa hari, beberapa jam, atau bahkan beberapa menit dalam hidup anda.

The Greatest Company on Earth

Posted on March 13th, 2009 by pratolo
Filed under Industry Highlights | 7 Comments

Read carefully your company annual report. It really means and truly signs something important. The best and greatest companies in the world are not as strong as you think. Here is the story.

The Trend is Your Friend? What Trend?

Posted on March 5th, 2009 by pratolo
Filed under Behavioral Finance | 5 Comments

Untuk dapat menjadi investor sukses, anda tidak perlu menjadi ekonom pintar macam Alan Greenspan, Fischer Black, Myron Scholes, Robert Merton, atau mathematician hebat seperti Gauss, Cauchy, Lorentz, Benoit Mandelbrot, Nassim Nicholas Taleb.
Investor sukses seperti Charlie Munger dan Peter DeRoetth adalah lulusan hukum yang tidak mengerti statistik dan aljabar tingkat lanjut.

The Dip, Rahasia Sukses Bisnis dan Investasi Anda

Posted on January 19th, 2009 by pratolo
Filed under Books | 3 Comments

Dip adalah rahasia kesuksesan.
Dip menyaring para pesaing anda (Quitter dan Camper), yang berkemampuan rata-rata.
Mereka yg berhasil melewati Dip akan menjadi yang terbaik di bidangnya.
Dip menciptakan kelangkaan. Kelangkaan itu sendiri menciptakan nilai.
Dalam konteks agama, anda tidak akan dianggap beriman sebelum terbukti mampu melewati cobaan.
Dip adalah cobaan itu.