Shock Doctrine: The Rise of Disaster Capitalism
‘I don’t talk to journalists anymore,”sahut suara serak Gail Kastner dari seberang telepon, dan sejenak kemudian ia bertanya,‘What do you want?’
Ingin aku menjelaskan,”I am writing a book about shock. About how countries are shocked – by wars, terror attacks, coups d’etat, and natural disasters. And then how they are shocked again – by corporations and politicians … to push through economic shock therapy. And then how people who dare to resist this shock politics are shocked for third time by police, soldiers, and prison interrogators. I want to talk to you because you are being one of the view living survivors of the CIA’s experiments in electroshock and other special interrogation techniques. I have reason to believe that the research that was done to you in the 1950s at
Hening sesaat, dan kemudian, terdengar jawaban,”You have just spelled out exactly what the CIA and Ewen Cameron did to me. They tried to erase and remake me. But it didn’t work.’
Kutipan kisah di atas adalah sepenggal paragraph bab pertama buku karya Naomi Klein, berjudul “The Shock Doctrine”. Sebuah buku yang menelusuri metode dan fakta sejarah dari apa yang disebut oleh Naomi Klein sebagai Disaster Capitalism. Kapitalisme malapetaka adalah istilah Naomi Klein untuk laissez-faire capitalism, ekonomi pasar bebas, atau neoliberalisme. Apa yang membuat buku ini sangat penting dan istimewa adalah Naomi Klein berhasil membuktikan keterkaitan yang tak terbantahkan antara laissez-faire economics dengan krisis-krisis politik, ekonomi, dan terror yang terjadi dalam periode empat dekade terakhir.
Laissez Faire Fundamentalist
Laissez Faire market adalah ideologi yang pada mulanya diperkenalkan oleh Adam Smith dalam karyanya ‘Wealth of Nations’. Laissez Faire artinya let-it-be atau biarkan-saja-terjadi, yakni sebuah konsep ekonomi yang berlandaskan pada mekanisme pasar bebas.
Lawan utama dari ekonomi Laissez Faire bukanlah ekonomi Marxis, melainkan ekonomi yang membiarkan campur tangan pemerintah dalam mengatur pasar. Ekonomi Marxis adalah ekonomi terpimpin (central planning) yang tidak mengenal system pasar, dimana jumlah supply, demand, dan harga barang atau jasa ditetapkan sepenuhnya oleh pemerintah, tanpa ada peran dari swasta. Sebaliknya, ekonom laissez faire sangat geram dengan ekonomi Keynesian yang mencampuradukkan peran pemerintah dan peran swasta dalam sistem ekonomi pasar. Free-market economist punya sebutan ‘pink economist’ (ekonom banci) untuk meledek ekonom Keynesian. Kebencian ekonom laissez faire terhadap Keynesian memuncak semenjak kemenangan konsep ekonomi Keynes dalam mengatasi Great Depression di masa Franklin Delano Roosevelt. John Maynard Keynes menulis karya ‘The End of Laissez Faire’, sebuah esai kritik untuk Laissez Faire economist.
Penerus mazhab laissez faire yang amat berpengaruh dalam empat dekade terakhir adalah Milton Friedman, seorang professor ekonomi dari Chicago School of Economics. Mentor Milton Friedman adalah Friedrich von Hayek, profesor ekonomi alumnus
Sebagaimana kaum fundamentalis di bidang lain, para ekonom fundamentalis tersebut (yang disebut Naomi Klein dengan Chicago Boys) menginginkan pasar yang ideal, bersih dari campur tangan pemerintah dalam bentuk kebijakan apapun. Free-market fundamentalis menganggap konsep ekonomi Keynesian di
Persoalan besar menghadang gerakan counterrevolution Chicago Boys: tak ada satu pun pemerintah di dunia yang menerapkan kapitalisme murni. Di negara-negara demokratis di mana pemerintah dipilih oleh rakyat, pada hakikatnya rakyat menyukai kebijakan ekonomi yang populis, yang berpihak pada rakyat, yang berpihak pada pekerja. Oleh karena itu, pemerintah yang terpilih melalui pemilihan umum yang adil tentu akan mengambil kebijakan mix-and-match economy: jaminan sosial, jaminan kesehatan, subsidi sekolah-sekolah negeri, penetapan harga untuk bahan kebutuhan pokok, pajak progresif (lebih besar untuk warga kaya, dan lebih kecil untuk warga miskin), penetapan upah minimum pekerja, dan kebijakan-kebijakan lain yang merupakan campur tangan pemerintah dalam ekonomi. Bahkan di negara-negara Marxis sekalipun, rakyat menghendaki kebebasan dalam berusaha dan memiliki faktor-faktor produksi, sehingga negara komunis pada hakikatnya tidak dapat dijalankan tanpa adanya represi dari partai komunis yang berkuasa. Sementara itu, ada beberapa negara yang didirikan berdasarkan sosialisme (dengan demikian memiliki DNA sosialis), yakni negara-negara Argentina, Brazil, Bolivia, Chile, Colombia, Uruguay, Venezuela, Peru, Ecuador, serta Indonesia. Pendiri negara Amerika Latin adalah Simon Bolivar dan founding fathers kita (Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka) adalah para sosialis-demokrat (direfleksikan dalam Pasal 33 UUD ’45).
Jika tidak ada peminat kapitalisme murni di dunia, lalu bagaimana para ekonom fundamentalis pasar bebas ini mewujudkan utopia mereka?

