Posted on October 8th, 2009 by pratolo
Filed under Finance | 5 Comments
Beberapa bank raksasa di USA yang terpukul krisis subprime mortgage, kini bangkit dan tumbuh lebih besar. J.P Morgan Chase bank terbesar di US kini memiliki USD 1 dari setiap USD 10 simpanan di negara itu. Begitu pula Bank of America dan Wells Fargo. Di California, ketiganya menguasai tiga perempat jumlah simpanan masyarakat. Tiga bank tersebut ditambah dengan Citigroup, yang telah diselamatkan dan diakuisisi pemerintah US, kini menguasai satu dari setiap tiga kredit hipotik perumahan, serta dua dari setiap tiga kartu kredit, di negara itu.
Semakin besar ukuran bank-bank tersebut memungkinkan mereka untuk mendapatkan bunga pinjaman dari bank sentral dengan persentase 0,34 basis point lebih rendah daripada bank-bank lain yang memiliki asset lebih kecil. Sebelum krisis, selisih bunga mereka hanya 0,08 basis point dari bank-bank kecil. Dengan perbedaan 0,34 basis poin dan jumlah massif simpanan dalam bank-bank tersebut, bayangkan betapa kuatnya bank-bank raksasa ini.
Kekuatan mereka membuat bank-bank lebih kecil tidak punya daya saing. Ditambah dengan asumsi konsumen bahwa makin besar asset bank maka makin aman dari kegagalan, membuat bank-bank kecil lebih sulit untuk menarik nasabah. Dengan makin kuatnya bank-bank yang diterpa krisis berkat bail out pemerintah, membuktikan anggapan bahwa bank-bank tersebut too big to fail.
Kasus yang mirip terjadi di Indonesia. Beberapa bank besar tidak kunjung menurunkan bunga kredit pinjaman meskipun bank sentral telah menurunkan BI rate hingga 6,5%. Terungkap kemudian bahwa bank-bank besar itu ditekan oleh nasabah kakap yang memiliki simpanan amat sangat besar, agar tidak menurunkan suku bunga simpanan. Karena suku bunga simpanan tidak dapat diturunkan, maka suku bunga kredit pinjaman tidak mungkin turun.
Konsentrasi simpanan masyarakat di beberapa bank menimbulkan oligopoli. Nasabah tidak punya banyak pilihan. Hal sebaliknya berlaku bagi para bankir raksasa, jaminan bail out dari pemerintah akan membuat mereka melakukan tindakan ceroboh, ’We are too big to fail’.
Masyarakat tidak sadar bahwa dana mereka terancam risiko yang lebih besar daripada risiko yang mereka bayangkan. Konsentrasi dana ini membuat magnitude jadi berkali lipat lebih besar manakala terjadi krisis ekonomi dan krisis finansial. Kalaupun bank-bank ini dilindungi pemerintah atau lembaga penjamin simpanan, konsentrasi dana pada beberapa bank besar akan mengakibatkan kepanikan dan rush yang berdampak luar biasa terhadap ekonomi. Masyarakat beramai-ramai mencairkan dana dan tiba-tiba saja pemerintah kehabisan likuiditas.
Posted on October 6th, 2009 by pratolo
Filed under Books | 7 Comments
Apa yang membuat buku ini sangat penting dan istimewa adalah Naomi Klein berhasil membuktikan keterkaitan yang tak terbantahkan antara laissez-faire economics dengan krisis-krisis politik, ekonomi, dan terror yang terjadi dalam periode empat dekade terakhir.
Posted on October 4th, 2009 by pratolo
Filed under Finance | No Comments
According to Benoit Mandelbrot, price movement in financial market, commodity market, equity market, and currency market follow the law of wild randomness.
Posted on June 24th, 2009 by pratolo
Filed under Books | 4 Comments
Dalam perspektif fundamental bisnis, budaya perusahaan amat menentukan kesuksesan. Beberapa budaya perusahaan berikut ini merupakan kunci sukses bersaing di dunia bisnis global yang makin kompetitif dan ekonomi yg makin kompleks.
Read carefully your company annual report. It really means and truly signs something important. The best and greatest companies in the world are not as strong as you think. Here is the story.
Untuk dapat menjadi investor sukses, anda tidak perlu menjadi ekonom pintar macam Alan Greenspan, Fischer Black, Myron Scholes, Robert Merton, atau mathematician hebat seperti Gauss, Cauchy, Lorentz, Benoit Mandelbrot, Nassim Nicholas Taleb.
Investor sukses seperti Charlie Munger dan Peter DeRoetth adalah lulusan hukum yang tidak mengerti statistik dan aljabar tingkat lanjut.