The Mental Accounting Problem

Posted on August 30th, 2008 by pratolo
Filed under Behavioral Finance | 5 Comments

money.jpgTanggal 25 Mei, Bapak A baru saja menerima bonus tahunan sejumlah 2 kali gaji. Di akhir pekan itu juga dia mengajak keluarganya pergi ke toko peralatan elektronik, di mana ia membeli satu set TV plasma lengkap dengan home theater. Sesampai di rumah, ia memasang satu set peralatan tersebut, dan menonton bersama keluarga film animasi Wall-E. Dalam hatinya, Bapak itu puas telah menghabiskan bonus tahunannya untuk sebuah barang yg tepat.

Tanggal yg sama, Bapak B menerima bonus tahunan sejumlah 2 kali gaji dari perusahaan yg sama dgn Bapak A. Di siang hari berikutnya ia segera pergi ke bank, di mana ia membeli sebuah produk reksadana saham (mutual fund) dengan seluruh uang bonus tsb. Sepulang dari bank, Bapak itu membuka catatan investasinya, dan tersenyum puas melihat assetnya bertambah 10%.

Cerita di atas mungkin kisah nyata, namun juga sebuah kasus menarik dari apa yg disebut “mental accounting”, sebuah fenomena perilaku finansial atau ekonomi perilaku (behavioral finance) yg pertama kali diteliti oleh Richard Thaler, profesor school of business Chicago. Mental accounting adalah perilaku ekonomi dengan mana seseorang menggolongkan inputan dan keluaran berdasarkan pos-pos seperti halnya model akuntansi (account code). Karena pengaruh mental accounting inilah maka uang Rp 1 juta yg diperoleh dari undian berhadiah dan uang Rp 1 juta yg diperoleh dari kerja keras 1 bulan, tidaklah sama nilainya. Padahal jumlahnya sama.

Dalam kasus di atas, Bapak A menilai uang bonus 2 kali gaji tidak sama nilainya dengan gaji 2 bulan (meskipun jumlahnya sama persis). Bapak A tidak akan membelanjakan gajinya selama 2 bulan untuk seperangkat home theater. Sebaliknya, Bapak B memilih utk segera ‘mengenyahkan’ uang tersebut agar tidak terjebak ke dalam perilaku mental accounting ini, dengan cara investasi.

Perilaku mental accounting ini tergambar pula dalam kasus berikut ini.

Agus berniat menonton pertandingan Persija vs Persebaya, dan ia membeli tiket Rp 100 ribu dari seorang calo supporter bonek temannya. Sesampai di stadion ia merogoh saku celana jeansnya dan menemukan bahwa tiketnya telah hilang jatuh di perjalanan. Dengan gigit jari Agus pulang ke rumah tak jadi menonton kesebelasan kesayangannya. Dalam waktu yg sama Bedu, seorang Jakmania tulen, tiba di stadion utk menonton pertandingan yg sama. Saat antri di loket, Bedu tersadar bahwa ia kecopetan, dan uang Rp 100 ribunya amblas sudah. Untunglah Bedu datang ramai-ramai bersama teman-temannya sesama Jakmania. Dengan mudah ia mendapat pinjaman Rp 100 ribu, dan segera membeli tiket masuk stadion.

Sekarang apabila Anda berpikir bahwa perilaku kedua orang itu ‘wajar-wajar saja’ (Anda pun akan melakukan yg sama), maka Anda terjebak dlm mental accounting ini. Inilah masalah mental accounting itu: Agus tidak meneruskan niatnya menonton karena ia tak mau membelanjakan Rp 200 ribu utk pertandingan tsb, sedangkan bagi Bedu hilangnya Rp 100 ribu dan biaya tiket Rp 100 ribu agak dipisahkan - secara kejiwaan- dalam dua kategori yg berbeda (sehingga bagi Bedu ia hanya menghabiskan Rp 100 ribu utk selembar tiket).

Anda yg telah disiplin berinvestasi tidak dapat begitu saja berbangga dan mengatakan, ‘wah saya telah terbebas dari tipuan mental accounting ini karena sudah melakukan investasi dgn bijaksana.’ Berhati-hatilah para investor dengan contoh kasus mental accounting berikutnya.

Read the rest of this entry »

The League of Stockpickers

Posted on August 19th, 2008 by pratolo
Filed under Investing Basics | 1 Comment

Inilah “The League of Legends”, liga yg dihuni oleh sangat sedikit stockpicker yg dalam kurun panjang secara konsisten mengalahkan indeks market (long-term performers). Tujuh yg terbaik dan yg paling popular (The Magnificent Seven) adalah Benjamin Graham, Warren Buffet, John Templeton, Peter Lynch, John Neff, David Dreman, dan T.Rowe Price, Jr.

Greed, Public Enemy Number One

Posted on July 23rd, 2008 by pratolo
Filed under Behavioral Finance | 3 Comments

(c) pratolo.com 2005
Greed adalah satu dari dua dosa tertua. Dosa pertama adalah sombong yang mendorong Iblis untuk membangkang pada Tuhan: menolak bersujud pada Adam. (Setelah Adam turun ke bumi, dosa pertama ini lalu beranak-pinak. Salah satu dosa derivatif dari sombong adalah rasial, yang hingga kini telah memakan korban ratusan juta manusia akibat rasialisme dan genocide). […]

The Fundamental of Competitiveness: Leadership

Posted on July 20th, 2008 by pratolo
Filed under Fundamental of Competitiveness | 3 Comments

Selanjutnya Iverson menulis, ”Melakukan yg terbaik utk jangka panjang sebuah bisnis seharusnya menjadi prioritas utama seorang manajer. Saya sarankan utk mereka yg akan mengejar karir manajemen: Jangan manjadi manajer jika yg Anda inginkan dari karir Anda adalah menjadi cepat kaya. Anda tidak akan pernah melakukan yg terbaik. Sesungguhnya, justru bisnis akan jauh lebih baik tanpa Anda.”

The Best Stock Investing Strategy on Earth

Posted on July 19th, 2008 by pratolo
Filed under Investing Basics | 6 Comments

There is always a myth about the ultimate power. On stock investing, the ultimate power is to timing the market. Market-timing opens the door for many investors to do far worse than the market averages.

10 + 1 Best Reasons to Invest in Stocks

Posted on July 10th, 2008 by pratolo
Filed under Investing Basics | 11 Comments

Dengan investasi saham sedini mungkin, sejak muda, maka Anda berkesempatan mengikuti jejak Peter Lynch dan Morris Smith. Dua orang mantan fund manager Fidelity Magellan ini pensiun di usia 45 dan 34 tahun, setelah membawa Fidelity mencetak record aset terbesar dan return tertinggi mutual fund selama 15 tahun beruntun. Lynch kemudian menulis buku dan Smith mendalami agama.

In Hypercompetition, Prepare for the Unexpected

Posted on June 22nd, 2008 by pratolo
Filed under Business Strategy | 1 Comment

Juni, 20-22, 2008, tiga kejutan beruntun terjadi di perempat final Euro 2008 Austria-Swiss, Turki mengandaskan Kroasia (Juara Grup B), setelah sehari sebelumnya Jerman menaklukkan Portugal (Juara Grupa A), dan pagi dinihari ini Rusia menumbangkan Belanda (Juara Grup C). Tiga runner-up menyingkirkan tiga juara grup! Seketika itu saya teringat Richard D’Aveni dan teorema Hyper-competitive Rivalries-nya […]