Earning, Earning Growth, and Philosophy of Stock Market
I think I’ve already written many serious articles on this blog, but I consider this article is the most serious one so far. It’s all about earning and the philosophy of stock market.
Hari-hari ini manakala bursa efek jatuh, banyak orang
As far as I know, when most people say about some specific subject,” It is A”, the truth will be “It is not A.” As a matter a fact: most people do not learn what they need to know, they only listen to what others say. And the fact is: only a few people really learn what they really want to know.
Stock market bukanlah judi. Stock market juga bukan riba. Yang saya maksud adalah stock market, bukan instrumen derivatif dari stock market seperti options. Berinvestasi di stock market bukan judi jika yg jadi pedoman dalam berinvestasi adalah earning.
Earning dalam bisnis artinya laba, yaitu revenue dikurangi biaya-biaya. Ada berbagai definisi earning dalam kosakata finansial, namun yg saya maksud earning dalam artikel ini adalah laba bersih setelah pajak. Earning inilah yg sebenarnya mendasari filosofi stock market.
The Philosophy of Stock Market
Pada tahun 1877 di desa Pitisbruk tinggal beberapa puluh keluarga. Setiap beberapa keluarga membentuk satu badan usaha. Setiono bergabung bersama Novyanto dan Suharsoyo membentuk usaha kerajinan marmer dan furnitur. Oka, Parmo, dan Susanto mendirikan peternakan sapi perah. Joko dan Andrian membuat peternakan ayam. Agung, Bambang, dan Yoyok membentuk bank simpan-pinjam. Tarigan, Sitorus, Sirait, dan Sihombing membuka perkebunan kelapa sawit. Ahong, Anto, dan Acong mendirikan pabrik minyak goreng. Beberapa keluarga membentuk satu perusahaan kecil, sehingga desa kecil itu tumbuh menjadi desa industri kecil terintegrasi. Makin lama makin banyak imigran dari tempat lain datang dan membentuk usaha di desa Pitisbruk.
Setiap badan usaha menghasilkan earning, dan setiap orang yg memiliki saham sebuah usaha mendapatkan bagi hasil dari earning tersebut yg disebut deviden.
Suatu ketika karena suatu hal, Joko harus pindah meninggalkan desa Pitisbruk untuk hidup di kota lain. Untuk itu Joko berniat menjual saham peternakan ayam miliknya. Karena di kota itu belum ada media cetak, Joko terpaksa mendatangi satu persatu rumah untuk menawarkan sahamnya, sampai akhirnya Sitanggang bersedia membeli sahamnya. Tak lama setelah itu datanglah orang baru bernama Broto mendirikan surat kabar lokal di desa itu, ”Pitisbruk Post”. Rupanya Joko bukan orang pertama yg harus pindah dari kota itu. Seiring berjalannya waktu makin banyak orang pindah, dan tidak sedikit pula yg datang. Berkat surat kabar ”Pitisbruk Post”, kini lebih mudah bagi orang yg ingin menjual sahamnya. Tak lama setelah memasang iklan biasanya calon pembeli saham telah berdatangan ke rumahnya. Sambil mengepak barang, terjadilah transaksi pemindahan kepemilikan sebuah badan usaha.
